jurnalistik.co.id – Taylor Barnard menutup musim keduanya di Formula E dengan suasana yang penuh tekanan sekaligus harapan. Pembalap berusia 22 tahun itu akan tampil di double-header kandang saat rangkaian 2025-2026 berakhir di London, tepatnya di London’s Excel akhir pekan ini.
Dalam balapan penutup musim tersebut, persaingan gelar masih sangat rapat. Saat ini, sembilan pembalap masih berada dalam perhitungan gelar, dengan sesama pembalap Inggris Jake Dennis yang menduduki posisi teratas klasemen.
Bagi Barnard, momen di London punya makna personal karena ia mendapat kesempatan balapan di depan keluarga dan teman-temannya. Ia juga menyebut bahwa rangkaian akhir musim akan terasa lebih manis karena ia bisa merasakan dukungan dari orang-orang terdekat saat waktunya seri benar-benar ditutup.
Jejak rekor dan ambisi gelar
Barnard memulai perjalanan Formula E dengan catatan yang sejak awal menarik perhatian. Pada 2024, ia menjadi orang termuda yang memulai E-Prix, lalu setelah itu ia juga memecahkan sejumlah rekor lain dalam kompetisi tersebut.
Di antaranya, ia tercatat sebagai pembalap termuda yang berhasil mengunci podium, meraih pole position, serta mengoleksi poin dalam Formula E. Pencapaian-pencapaian itu membuat ia tetap fokus pada target yang lebih besar.
Menurut Barnard, tujuan paling utama yang ia incar tentu adalah gelar juara dunia. Namun, jalannya menuju sana bukan sesuatu yang “instan”, terutama jika berbicara soal biaya.
Ia mengatakan bahwa ia masuk ke dunia balap karena kondisi yang “skin of my teeth”. Ia menilai, waktu dan kesempatan yang terbuka bagi pembalap muda saat ini tidak selalu datang dengan jalan yang sama, apalagi jika seseorang mencoba naik melalui jenjang yang tersedia.
Dalam pandangannya, dukungan finansial yang dibutuhkan untuk menjadi pembalap profesional sudah sangat lama diketahui sangat besar. Ia juga merujuk pada realitas bahwa banyak orang harus melakukan pengorbanan besar agar bisa mendapatkan “seat” di level tertinggi.
Barnard menambahkan, jika ia mencoba naik melalui struktur peringkat seperti sekarang, ia percaya ia tidak akan mampu bertahan. Ia menyebut harga-harga yang harus dibayar berada pada situasi yang “so blown out of proportion”.
Biaya, keluarga, dan pembalap muda yang tersisih
Menurut Barnard, ada gap nyata antara bakat dan peluang untuk terus maju. Ia merasa bahwa menjadi pembalap profesional bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga soal biaya dan kemampuan keluarga untuk terus “mengamankan” perjalanan karier.
Ia menggambarkan prosesnya dengan kalimat, “It sounds very simple but trust me, it’s anything but that”. Ia menegaskan bahwa untuk melanjutkan karier, tantangannya “super expensive, super difficult.”.
Ia lalu menghubungkan kondisi itu dengan latar belakang keluarganya: “where my family and I’ve come from, we’ve always been on the difficult end of that journey”.
Barnard tumbuh dari keluarga yang, menurut ceritanya, tergolong normal dan pekerja. Di satu tahap, keluarganya bahkan harus mengambil langkah ekstrem dengan “re-mortgage” rumah agar ia tetap bisa melanjutkan balap.
Ia menyatakan, “We really did put everything on the line for me to be able to make it”. Ia juga menambahkan, “I would be lying if we’re still not stinging from when we did that”.
Berita Terkait
Ketika sekarang ia sudah dibayar sebagai pembalap profesional, ia mengatakan ia berusaha mengembalikan dukungan itu. Barnard menyebut ia ingin membayar orang tuanya kembali “for everything they’ve done”.
Ia juga ingin ikut memastikan pembalap muda lain tidak tertutup jalannya. Menurutnya, tidak semua orang yang berhasil mencapai level tertinggi semestinya otomatis dianggap pantas hanya karena berhasil “sampai”.
Ia menegaskan, “There’s definitely people that have bought their way in or haven’t earned their way”. Ia lalu menambahkan bahwa ada pembalap muda lain yang sebenarnya berbakat, namun justru “shut out by financial issues”.
Dalam penjelasannya, ia menyebut ada “younger guys or girls that have the talent and the skill to be able to make it”, tetapi peluang itu tidak menjadi kenyataan karena persoalan finansial. Ia menutup pandangan itu dengan “That’s not right” dan menilai tren tersebut terus memburuk dengan “the way that it’s going in the last few years, it’s only getting worse.”.
Dari Norwich hingga McLaren dan DS Penske
Barnard berasal dari Norwich, dan ia mengatakan “driving bug” yang ia miliki diturunkan oleh ayahnya. Ayahnya pernah menjadi pembalap karting di masa lalu, sehingga minat balap tumbuh sejak awal.
Ia naik melalui jenjang British dan European karting sebelum akhirnya bakatnya membantunya mendapatkan dukungan finansial untuk menembus Formula 3 dan Formula 2. Dari sana, ia akhirnya meraih kursi di Formula E bersama McLaren.
Untuk musim yang sedang berlangsung, Barnard kemudian pindah ke DS Penske. Ia menggambarkan betapa perjalanan itu tidak hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap melangkah meski situasi mahal dan rumit.
Ia juga mengakui bahwa dunia motorsport adalah sebuah bisnis, sehingga ia tidak yakin langkah terbaik apa yang bisa diambil oleh FIA maupun tim. Namun, ia tetap menyebut ada program akademi dan pengembangan pembalap yang dijalankan tim, meski kompetisinya kerap sangat ketat.
Dalam laporan tersebut, Newsbeat menyebut FIA telah dihubungi untuk komentar mengenai isu ini. Barnard sendiri melihat masalah pembiayaan sebagai tantangan yang semakin terasa dari tahun ke tahun.
Ekspektasi balapan dan ketidakpastian era berikutnya
Menjelang akhir pekan di London, Barnard berharap tontonan di lintasan akan sangat dinamis. Ia mengatakan para penggemar bisa menantikan banyak mobil yang melaju “side-by-side [at] almost every corner” dan kemungkinan “a few crashes”.
Ia juga menyoroti format akhir pekan yang membuat kompetisi makin hidup. “Throughout the weekend we obviously do the duals in qualifying, which is super exciting,” katanya.
Ia menilai musim berikutnya juga akan menghadirkan peningkatan kecepatan. “Next year the cars are going to be even faster, which is going to be even more exciting,” tambahnya.
Barnard bahkan menyebut Formula E sebagai tontonan balap yang paling menarik untuk disaksikan. “I would actually argue Formula E has the best racing that you can view anywhere,” ujarnya.
Di luar lintasan, masa depannya untuk musim mendatang masih memiliki tanda tanya. DS Automobiles, produsen di balik timnya, dijadwalkan meninggalkan olahraga ini, sementara Penske juga belum mengonfirmasi rencananya untuk era berikutnya mobil Formula E yang dikenal sebagai Gen4.
Dengan kondisi itu, Barnard memilih fokus menyelesaikan musim ini dengan hasil terbaik. Ia ingin memastikan penutupan musim di London menjadi momen yang kuat, baik dari sisi performa maupun pengalaman pribadi di depan orang-orang terdekatnya.












