Otomotif

Jaecoo J5 EV Odometernya 11.000 Km: Aga Kurnia Ceritakan Kelebihan dan Kekurangan

×

Jaecoo J5 EV Odometernya 11.000 Km: Aga Kurnia Ceritakan Kelebihan dan Kekurangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Review Jaecoo J5 EV Setelah 11.000 Km: Pengguna Ungkap Plus-Minus

jurnalistik.co.id – Setelah sekitar tujuh bulan memakai Jaecoo J5 EV, Aga Kurnia membagikan pengalamannya sebagai pemilik. Mobil tersebut sudah menempuh jarak lebih dari 11.000 kilometer, dan dari pemakaian itu Aga merasakan sejumlah kelebihan sekaligus kekurangan.

Aga menilai karakter berkendara Jaecoo J5 EV terasa responsif. Baginya, motor listrik dengan torsi besar membuat akselerasi terasa cepat sejak injakan awal.

Performa responsif yang terasa sejak awal

Aga mengatakan, “Rasa berkendara asyik, responsif. Performa kencang, karena torsi besar, 0-100 km/jam bisa 6,7 detik, dan nyaman karena kelas SUV,” saat dihubungi Kompas.com belum lama ini.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa sensasi dorongan torsi menjadi bagian paling mudah ditangkap saat mobil melaju. Ia juga mengaitkan rasa nyaman dengan karakter SUV pada Jaecoo J5 EV.

Konsekuensi torsi besar pada pengendalian

Namun, Aga juga menyebut ada konsekuensi ketika pedal akselerator dipakai secara agresif. Ia menilai, karakter torsi besar tersebut turut memengaruhi bagaimana mobil bereaksi terhadap tarikan gas.

Aga menjelaskan, “Ground clearance tinggi dan besar, bantingan enak dan mantap. Tapi, ya karena torsi besar penggerak depan, jadi ada minusnya. Sewaktu gas dinjak, jadi agak mengangkat bagian depan, dan ban standar dengan kembangan halus jadi kurang rigid,”

Menurut Aga, pengaruh itu cukup terasa karena Jaecoo J5 EV menggunakan penggerak roda depan. Saat akselerasi dilakukan secara spontan, bagian depan mobil terasa sedikit terangkat.

Poin “minus” yang ia sebut juga berkaitan dengan karakter ban standar. Aga menyinggung ban dengan kembangan halus yang menurutnya membuat bagian roda terasa kurang rigid saat mobil merespons tarikan.

Kenyamanan suspensi dan karakter bantingan

Untuk sisi kenyamanan, Aga menilai suspensi Jaecoo J5 EV mampu memberikan bantingan yang nyaman. Ia menggambarkan bahwa mobil terasa enak dan mantap, selaras dengan penilaian soal ground clearance yang tinggi.

Mobil tersebut menggunakan suspensi depan MacPherson. Dengan konfigurasi itu, Aga merasakan bantingan yang mendukung kenyamanan saat berkendara.

Di bagian ini, Aga tampak membedakan antara kenyamanan bantingan dan reaksi mobil ketika gas diinjak secara agresif. Ia tetap menilai rit bantingan nyaman, tetapi tetap mengingatkan adanya momen di mana bagian depan terasa terangkat.

Secara ringkas, pengalaman Aga Kurnia menunjukkan bahwa Jaecoo J5 EV punya karakter yang menonjol pada performa responsif. Pada saat yang sama, ia juga merasakan keterbatasan yang muncul ketika tarikan gas dilakukan dengan tempo cepat, khususnya karena kombinasi torsi besar, penggerak depan, serta karakter ban standar.

Pengakuan tersebut sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi calon pengguna yang ingin memahami bagaimana mobil listrik ini bertingkah dalam pemakaian jangka menengah. Setelah menempuh lebih dari 11.000 kilometer, Aga menempatkan respons akselerasi sebagai salah satu nilai utama, sementara pengendalian saat akselerasi spontan menjadi catatan penting yang ia sampaikan.

Pengalaman Aga selama pemakaian sekitar tujuh bulan itu juga memberi gambaran bahwa karakter Jaecoo J5 EV paling mudah dinikmati ketika gaya mengemudi selaras dengan respons akselerasinya. Dengan torsi yang besar dan injakan awal yang terasa langsung, mobil bisa memberi dorongan cepat, namun pada momen tarikan gas yang dilakukan secara spontan, ia menilai ada sensasi pengangkatan di bagian depan yang perlu diperhitungkan.

Ia lantas mengaitkan kenyataan tersebut dengan dua elemen yang ia sebut berulang kali: ground clearance yang tinggi dan ukuran, serta konfigurasi penggerak roda depan. Ketika pedal akselerator dipakai lebih agresif, bagian depan yang terasa terangkat menjadi penanda bahwa perpaduan torsi besar dan karakter penggerak depan punya efek yang cukup terasa pada rit respons kendaraan.

Berdasarkan penilaiannya, kombinasi itu juga turut tercermin dari perasaan terhadap ban standar. Kembangan yang halus membuat roda terasa kurang rigid saat mobil merespons tarikan, sehingga perubahan terasa bukan hanya dari tenaga, tetapi juga dari bagaimana ban memberikan umpan saat kendaraan bergerak. Di sisi lain, dari aspek bantingan, Aga tetap melihat suspensi memberikan kenyamanan yang mantap, sehingga ia memisahkan pengalaman “enak di rit” dengan momen “bagian depan terasa terangkat” saat gas ditekan cepat.