Otomotif

Kemenperin Dorong IKM Komponen Lokal Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik

×

Kemenperin Dorong IKM Komponen Lokal Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Industri Komponen Lokal Dibidik Pasok Motor dan Mobil Listrik

jurnalistik.co.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia seiring berkembangnya industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Langkah ini menempatkan IKM bukan sekadar sebagai penerima dampak pasar, melainkan sebagai bagian dari pemasok yang ikut membangun ekosistem industri.

Menurut Kemenperin, keterlibatan IKM dibutuhkan karena kebutuhan komponen lokal terus meningkat. Dengan demikian, industri komponen otomotif diharapkan dapat berpartisipasi secara bertahap sesuai kesiapan teknologi dan tingkat kompleksitas komponen yang sanggup diproduksi.

Penguatan diarahkan agar IKM dapat naik level dari sisi kemampuan produksi. Pada fase awal, IKM difokuskan mengerjakan komponen yang teknologinya relatif sudah dikuasai, sementara IKM yang memiliki kapabilitas engineering dan manufaktur lebih tinggi diarahkan untuk menangani komponen bernilai tambah lebih besar.

Komponen yang ditargetkan

Pada tahap awal, IKM dapat diarahkan memproduksi komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, hingga wiring harness. Pilihan komponen tersebut diposisikan agar proses partisipasi lebih realistis, sesuai kompetensi yang sudah ada di lapangan.

Untuk IKM yang mampu menjalankan proses yang lebih menuntut dari sisi rekayasa dan manufaktur, Kemenperin mendorong masuk ke komponen dengan nilai tambah lebih besar. Komponen yang dimaksud antara lain battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, serta komponen pendukung battery pack dan power electronics.

Business matching sampai kualifikasi pemasok

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyebut penguatan kemitraan IKM dengan industri besar, agen pemegang merek (APM), dan Tier-1 sebagai instrumen penting untuk mempercepat proses masuk ke rantai pasok. Skema ini dibentuk agar hubungan antaraktor industri tidak berhenti pada pertemuan, tetapi berlanjut pada tahapan teknis yang dibutuhkan.

Reni menjelaskan program business matching tidak hanya mempertemukan calon pemasok dengan produsen kendaraan listrik. Kegiatan tersebut dilengkapi forum penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.

Reni menegaskan orientasi akhirnya adalah kepastian pembelian yang berkelanjutan. Ia mengutip komitmen tersebut melalui pernyataan resmi sebagai berikut: “Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching , tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” ujar Reni, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (21/8/2026).

Dengan pendekatan itu, IKM diharapkan tidak berhenti pada akses untuk bertemu pihak produksi, melainkan benar-benar mampu memenuhi standar dan spesifikasi yang dibutuhkan industri. Perbaikan kemampuan dan kesiapan produksi menjadi bagian yang melekat pada proses pendampingan, mulai dari kesesuaian teknis sampai kualifikasi.

Pemetaan kebutuhan dan kemampuan pada 2026

Di tahun 2026, Kemenperin juga mulai menghubungkan IKM dengan pelaku industri kendaraan listrik melalui sejumlah program yang dijalankan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemetaan kebutuhan komponen dari APM sekaligus pemetaan kemampuan IKM dalam memproduksi komponen kendaraan listrik.

Pemetaan tersebut dikerjakan oleh Direktorat IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA) Ditjen IKMA. Melalui pemetaan, diharapkan ada kecocokan yang lebih cepat antara kemampuan produksi IKM dan kebutuhan komponen yang diminta industri.

Pada sisi industri kendaraan listrik, Reni juga menyampaikan informasi terkait struktur biaya baterai. Gotion menyebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen, yang mengindikasikan dinamika biaya dalam rantai nilai komponen kendaraan listrik.

Dengan kombinasi pemetaan kebutuhan, program business matching, dan tahapan kualifikasi pemasok, Kemenperin menargetkan semakin banyak IKM komponen otomotif yang dapat terserap dalam rantai pasok KBLBB. Upaya ini diarahkan agar keterlibatan IKM menjadi lebih terukur, dari proses penilaian hingga terbentuknya pemasok yang memperoleh pesanan industri secara berkelanjutan.