Bisnis & Ekonomi

10 Saham Pemberat IHSG Turun 1,13% dan Menyentuh 6.461

×

10 Saham Pemberat IHSG Turun 1,13% dan Menyentuh 6.461

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 10 Saham Ini Jadi Biang Keladi IHSG Turun 1%, Sentuh 6.461 - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (15/9/2026). Pergerakan berada di zona merah dengan penurunan 1,13% ke level 6.461.

Sepanjang sesi, IHSG tidak menunjukkan pembalikan arah dan tetap berada dalam tekanan jual. Catatan pergerakan memperlihatkan indeks bergerak pada rentang 6.549 hingga menyentuh titik terendah di 6.461.

Big caps jadi pemberat

Pelemahan IHSG berkaitan langsung dengan menurunnya saham-saham berkapitalisasi besar. Saat indeks terus terkoreksi, beberapa sektor yang umumnya menjadi penopang pergerakan justru mencatat pelemahan paling dalam.

Kelompok industri tercatat melemah hingga 1,55%. Sementara itu, sektor keuangan turun 1,36% dan sektor energi terkoreksi 1,27% selama perdagangan.

Dengan komposisi pergerakan yang didominasi koreksi dari saham-saham besar, tekanan terhadap IHSG semakin terasa hingga penutupan. Kondisi ini tercermin dari tidak adanya perubahan berarti pada arah pergerakan indeks.

Beberapa emiten ikut tertekan

Di antara saham yang menjadi pemberat, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami penurunan 8,11%. Koreksi BYAN terjadi bersamaan dengan tekanan pada saham-saham lain berkapitalisasi besar.

PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) turut melemah 5,81% selama sesi. Penurunan juga terlihat pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 2,11%.

Pergerakan sejumlah emiten tersebut memberi kontribusi pada melemahnya indeks. Saat saham-saham referensi mencatat penurunan, ruang penguatan IHSG menjadi terbatas.

Aktivitas perdagangan dan komposisi harga

Aktivitas bursa menunjukkan tingkat transaksi yang cukup ramai pada perdagangan tersebut. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp12,71 triliun, dengan volume yang diperdagangkan sebanyak 26,43 miliar saham.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,76 juta kali. Data ini menggambarkan bahwa meski indeks melemah, minat transaksi tetap terjadi selama sesi berjalan.

Dari sisi pergerakan jumlah saham, masih ada saham yang menguat. Sebanyak 312 saham mengalami penguatan, sedangkan 314 saham terkoreksi.

Di saat yang sama, 165 saham lainnya stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Komposisi tersebut menunjukkan pasar bergerak tidak sepenuhnya satu arah, namun koreksi lebih menekan pada penutupan.

Dengan indeks yang berakhir lebih rendah dan beberapa sektor utama terkoreksi, sentimen yang tercermin dari data bursa mengarah pada dominasi pelemahan. Kondisi ini selaras dengan rendahnya level yang dicapai IHSG pada bagian akhir perdagangan.

IHSG ditutup di level 6.461 setelah bergerak dari area 6.549 menuju titik terendahnya. Pelemahan 1,13% pada Selasa (15/9/2026) menjadi penanda bahwa tekanan pasar masih bertahan hingga sesi usai.

Secara keseluruhan, penurunan IHSG dapat ditelusuri melalui kombinasi koreksi sektor dan melemahnya beberapa saham big caps yang berpengaruh pada arah indeks. Koreksi BYAN, IMPC, dan BRPT menjadi contoh pergerakan yang memperkuat dinamika pelemahan tersebut.

Keputusan pasar di akhir sesi cenderung mengikuti tekanan jual yang sudah terbentuk sejak awal perdagangan. Pergerakan yang tetap berada di zona penurunan membuat IHSG tidak memperoleh ruang untuk kembali ke area yang lebih tinggi sebelum bel penutupan.

Gambaran keluasan pergerakan saham menunjukkan pasar bergerak dengan komposisi yang ketat. Dari 312 saham yang menguat, jumlah saham yang terkoreksi justru berada pada angka 314, sementara 165 saham lainnya tidak mengalami perubahan, sehingga kecenderungan melemah tetap lebih dominan saat penutupan.

Meskipun demikian, aktivitas transaksi tidak surut. Nilai perdagangan yang mencapai Rp12,71 triliun dengan volume 26,43 miliar saham serta frekuensi 1,76 juta kali transaksi memperlihatkan partisipasi pelaku pasar tetap tinggi, namun pilihan arah harga lebih banyak mengarah pada koreksi.

Dari sisi sektor, pelemahan yang terjadi di beberapa kelompok utama mempertegas mengapa indeks ikut tertekan. Saat sektor keuangan dan energi ikut melemah, serta kelompok industri turun hingga 1,55%, dampaknya menguat pada pergerakan IHSG, terutama karena pergerakan indeks dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar.