Olahraga

Mengapa Tottenham Mengincar Cody Gakpo dari Liverpool: Analisis Data untuk Roberto de Zerbi

×

Mengapa Tottenham Mengincar Cody Gakpo dari Liverpool: Analisis Data untuk Roberto de Zerbi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why Tottenham want Liverpool forward Cody Gakpo

jurnalistik.co.id – Tottenham sedang mempertimbangkan langkah untuk mendatangkan Cody Gakpo dari Liverpool. Ketertarikan itu muncul ketika Roberto de Zerbi terus membentuk ulang skuadnya dengan pendekatan yang lebih fleksibel di lini serang.

Meski demikian, rencana tersebut diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Liverpool cenderung enggan melepas opsi serang mereka, terutama setelah Mohamed Salah pergi, sementara Hugo Ekitike masih menjalani pemulihan dari cedera Achilles.

Di sisi lain, Liverpool juga dikaitkan dengan upaya mengejar winger Paris St-Germain, Bradley Barcola. Apabila transfer itu jadi, berarti The Reds tetap berisiko kehilangan seorang penyerang berpengalaman di saat kedalaman serangan mereka menjadi perhatian utama.

Profil taktik: bukan sekadar winger kiri

Secara tampilan, Gakpo memang sering tampil dari sisi kiri. Namun, pemain internasional Belanda itu menawarkan fleksibilitas taktis yang jauh lebih luas dibanding karakter peran sayap tradisional.

Dalam beberapa penggunaan di Liverpool, Gakpo kerap diberi tanggung jawab sebagai striker tengah, false nine, maupun second forward. De Zerbi dilaporkan memandangnya sebagai figur yang bisa beroperasi dari area tengah dengan turun ke ruang di antara lini untuk merangkai serangan, lalu membuka kesempatan bagi rekan untuk menyerang dari belakang atau sisi lainnya.

Karakter tersebut selaras dengan cara bermain de Zerbi. Alih-alih selalu menumpuk peran penyerang murni di kotak penalti, de Zerbi sering meminta centre forward untuk mengosongkan ruang di tengah, berkolaborasi dengan gelandang, dan menciptakan “jalan” bagi pemain lebar untuk menyerang dari posisi yang lebih menguntungkan.

Gakpo memiliki kualitas teknis, kontrol bola yang dekat, serta kecerdasan posisi untuk menjalankan tugas seperti itu. Ia juga bisa memberi “penutup” di sisi kiri, sehingga Tottenham mendapatkan nilai cadangan yang lebih stabil ketika skema berubah.

Fleksibilitasnya menjadi daya tarik tambahan. Dominic Solanke dan Mathys Tel adalah penyerang tengah yang natural, tetapi keduanya tidak menghadirkan kemampuan berpindah alur dari sayap ke tengah dengan ritme yang sama seperti Gakpo.

Angka yang menonjol: ancaman dari sisi lebar

Performa Gakpo pada musim 2025-26 menurut sebagian pendukung Liverpool memicu perdebatan. Ia mencatat tujuh gol liga, yang menjadi hasil terendahnya dalam satu musim penuh di Anfield.

Namun, data “di balik” output itu justru memberi gambaran yang lebih positif. Meski Liverpool tampil tidak konsisten secara kolektif, Gakpo disebut tetap menjadi salah satu forward lebar paling berbahaya di Eropa dalam hal menemukan peluang mencetak gol.

Hanya tujuh winger dari liga-liga top lima Eropa yang rata-rata memiliki sentuhan lebih banyak di area penalti lawan daripada Gakpo, yaitu 2,2 per 90 menit. Ia juga masuk kelompok teratas untuk open-play shots serta chances created.

Profil perbandingan pemainnya memperkuat kekuatan tersebut. Gakpo berada di persentil ke-98 untuk frekuensi tembakan, persentil ke-96 untuk keterlibatan lanjutan (advanced involvement), dan persentil ke-91 untuk ancaman di kotak penalti (box threat).

Sederhananya, tidak banyak pemain sayap yang lebih sering terlibat dalam situasi serangan berbahaya. Kekuatan itu muncul karena ia agresif mengejar ruang di belakang pertahanan.

Contoh paling terlihat adalah statistik offside. Gakpo tercatat terjebak offside 30 kali di Premier League musim lalu, lebih banyak dibanding pemain lain. Angka itu mencerminkan seberapa sering ia mencoba lari untuk menyerang di balik garis pertahanan, bukan hanya menunggu bola untuk dimainkan dari kaki ke kaki.

Pada kondisi terbaiknya, Gakpo kerap menyerang sisi belakang gawang, menjalankan lari ke dalam area penalti dengan timing yang tepat, serta mampu tiba di area tengah meski memulai dari flank kiri.

Jika menengok musim sebelumnya, ia juga tetap menunjukkan daya ciptanya. Meskipun sempat mengalami periode sulit pada musim terakhir, Gakpo mencetak gol secara rutin ketika Liverpool meraih gelar pada 2024-25, dengan total 18 gol di semua kompetisi.

Apakah lebih baik dari opsi serang Tottenham saat ini?

Minat Tottenham juga dipahami lewat perbandingan dengan para penyerang yang sudah dimiliki. Gakpo menyelesaikan musim dengan expected-goals total lebih tinggi, yaitu 8,59, bersama jumlah tembakan 87. Ia juga menorehkan lima assist, serta menciptakan 10 big chances, melampaui opsi forward Tottenham yang dibandingkan.

Catatan itu relevan karena Gakpo tetap memproduksi angka-angka tersebut di sebuah skuad yang mempertahankan gelar Premier League pada musimnya, tetapi pada akhirnya finis di peringkat kelima. Dengan kata lain, produksi ancaman Gakpo tidak semata-mata “datang” dari dominasi penuh tim.

Memang ada aspek lain yang menunjukkan perbedaan gaya. Richarlison mencetak lebih banyak gol liga, tetapi melakukan 26 tembakan lebih sedikit, serta hanya menghasilkan big chances dalam jumlah yang setengah dari Gakpo. Solanke, yang dibatasi cedera, mencatat 20 tembakan dan cuma menciptakan satu big chance, sedangkan Tel juga tertinggal pada sejumlah indikator serangan kunci yang dijadikan pembanding.

Randal Kolo Muani—yang sempat menjalani masa peminjaman bersama Tottenham musim lalu sebelum bergabung dengan Juventus pada musim panas ini—juga dilaporkan menghasilkan output yang lebih rendah dibanding Gakpo.

Kontrasnya tidak berhenti pada gol dan peluang. Gakpo menyelesaikan 187 sentuhan di area penalti lawan, sementara Richarlison 125, Tel 68, dan Solanke 55. Untuk 4,17 expected assists dari open play, Gakpo juga tercatat paling tinggi di antara empat pemain yang dibandingkan, menegaskan ia mampu menciptakan peluang sekaligus menemukan posisi mencetak gol.

Nilai bertahan dan kontribusi membangun

Tertariknya Tottenham juga bisa dipahami dari sisi “dua arah”. Gakpo tercatat merebut bola 87 kali, termasuk 45 kali di middle third, serta membuat 13 interceptions. Ketiga angka tersebut lebih tinggi dibanding yang dimiliki Richarlison, Tel, maupun Solanke.

Dalam urusan duel satu lawan satu, Tel memang lebih sering membawa bola melewati lawan, dengan 39 dribble, sedangkan Gakpo 34. Namun, Gakpo memiliki angka keberhasilan yang sedikit lebih baik: 45,95%.

Profilnya juga menunjukkan keluwesan dalam kerja sama. Ia berada di persentil ke-78 untuk link-up play, persentil ke-75 untuk pass progression, dan persentil ke-67 untuk creative threat. Artinya, ia nyaman bermain dalam ruang sempit, sekaligus ikut membantu fase membangun.

Dari sisi fisik, Gakpo juga memberi keuntungan tambahan. Dengan tinggi 6 kaki 4 inci, ia memiliki presence fisik yang jarang dimiliki winger. Ia berada di persentil ke-96 untuk aerial volume dibanding rekan seposisinya di liga-liga top lima Eropa, yang berarti hanya sekitar 4% winger yang bertarung udara lebih sering darinya.

Dengan kualitas itu, de Zerbi bisa memperoleh jalur alternatif untuk membongkar blok pertahanan dalam. Tottenham dapat memanfaatkan bola diagonal, umpan ke belakang, crossing ke sisi belakang gawang, atau umpan lebih langsung ketika lawan membatasi build-up permainan.

Mengapa Liverpool tidak buru-buru melepas

Karakter dan konsistensi tersebut turut menjelaskan mengapa Liverpool tidak aktif mencari cara untuk menjual Gakpo. Meski ada frustrasi pada performa tertentu musim lalu, ia tetap masuk kelompok forward yang sudah mapan di skuad.

Menjadi perhatian tambahan adalah skenario transfer: melepas Gakpo dan Salah pada jendela yang sama akan mengurangi kedalaman serangan Liverpool secara signifikan, terutama saat Ekitike masih pulih. Bahkan bila Liverpool berhasil mengamankan Barcola, banyak beban serangan tetap jatuh pada pemain baru seperti Victor Munoz dan talenta berusia 17 tahun, Rio Ngumoha.

Liverpool juga memiliki alasan kuat dari rekam jejak gol liga. Sejak tiba dari PSV Eindhoven pada Januari 2023, Gakpo mencetak tujuh, delapan, 10, dan tujuh gol liga di empat musimnya di Anfield, sekaligus memberi kontribusi kreatif secara rutin.

Menurut data sejak November 2024, hanya Salah yang mencetak lebih banyak gol Premier League untuk Liverpool dibanding 17 gol Gakpo pada periode itu. Selain Salah, Dominik Szoboszlai juga mencatat intentional assists lebih banyak, sementara Gakpo—dengan lima assist—tetap menjadi salah satu pencipta kontribusi paling stabil di sektor depan.

Kemampuan Gakpo untuk menjaga output dengan konsistensi tinggi meski bekerja di bawah pelatih berbeda dan dalam beberapa peran menyerang, menjadi alasan utama mengapa Tottenham melihat dirinya sebagai opsi yang bernilai untuk skema de Zerbi.

Pada akhirnya, apakah Tottenham berhasil membujuk Liverpool untuk melepas salah satu penyerang paling berpengalaman mereka masih menunggu kepastian. Namun, bila de Zerbi mencari pemain yang bisa bergerak di seluruh garis depan dan tetap menghadirkan ancaman ke gawang lawan, rangkaian angka yang dimiliki Gakpo memberi penjelasan yang kuat tentang mengapa Spurs serius menaruh minat.