jurnalistik.co.id – Pertumbuhan ekonomi tetap melaju di kuartal II-2026, namun Ketua pandangan akademik menilai momentum itu belum cukup kuat untuk membuat dunia usaha benar-benar lega. Menurut Guru Besar Ekonomi Moneter FEB Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi, capaian yang terlihat pada angka agregat belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi riil yang dialami pelaku usaha maupun masyarakat.
Rahma menyampaikan apresiasi atas kinerja ekonomi yang tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026. Ia menilai, angka tersebut positif, tetapi perlu dijaga agar bertahan bahkan meningkat hingga akhir tahun.
“Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kita pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik, hingga akhir tahun,” ujar Rahma dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).
Dalam penilaiannya, kuartal II menjadi periode yang lebih berat bagi sektor riil. Industri menghadapi tekanan biaya produksi yang dipicu lonjakan harga energi, sebagai dampak konflik di Selat Hormuz.
Tekanan biaya itu, menurut Rahma, juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah serta melemahnya permintaan ekspor dari negara mitra dagang. Di saat yang sama, permintaan domestik turut melemah karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Jadi aktivitas ekonomi di sektor riil, setidaknya yang dialami pelaku usaha, sepanjang kuartal II-2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha,” kata Rahma.
Meski demikian, Rahma mengakui ada industri yang masih mampu melakukan ekspansi. Namun ia menilai jumlahnya tidak banyak dan belum menjadi tren utama, sebab tekanan yang dihadapi pelaku usaha bukan hanya terkait permintaan, melainkan juga biaya produksi.
Untuk melihat dinamika sektor manufaktur, Rahma menunjuk indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Ia menyebut, pada Juli 2026 PMI manufaktur baru kembali berada di zona ekspansi dengan indeks 50,2.
Pertumbuhan masih menyisakan tanda tanya
Rahma menilai pertumbuhan ekonomi 5,29 persen menimbulkan pertanyaan karena berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya cocok dengan pengalaman sebagian pelaku usaha. Secara nominal, pertumbuhan di atas 5 persen memang tampak kuat, tetapi lajunya justru melambat dibanding kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Berita Terkait
Ia juga menyoroti adanya kontradiksi antara angka pertumbuhan ekonomi dengan kondisi daya beli masyarakat. Di tingkat yang lebih dekat dengan aktivitas harian, tekanannya terasa lebih nyata.
“Di level grassroot, tekanan terhadap kelas menengah ke bawah kerap terasa nyata akibat transisi harga, biaya hidup, serta normalisasi musiman pasca-Idulfitri yang biasanya meredam perputaran uang. Ketika BPS melaporkan angka di atas 5 persen, sebagian masyarakat dan pelaku usaha merasa angka tersebut tidak mencerminkan kelesuan atau tantangan arus kas yang mereka hadapi sehari-hari,” katanya.
Selain faktor permintaan, Rahma menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi masih banyak bertumpu pada sektor-sektor yang padat modal. Karena dominasi tersebut, manfaat pertumbuhan dinilai belum merata kepada sektor padat karya yang lebih banyak menyerap tenaga kerja.
“Sebagian manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh sektor padat karya,” sejalan dengan penjelasan Rahma bahwa struktur penggerak ekonomi berpengaruh pada persepsi pelaku usaha terhadap kondisi lapangan.
Target mendekati 6 persen menuntut lompatan di semester II
Berangkat dari analisis tersebut, Rahma memandang target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mendekati 6 persen pada akhir tahun tidaklah pekerjaan mudah. Ia mengaitkannya dengan capaian semester I yang rata-ratanya sekitar 5,45 persen.
Menurut Rahma, agar target akhir tahun mendekati 6 persen tercapai, pertumbuhan pada semester II harus melonjak secara signifikan. Dengan kondisi yang masih menyertakan tekanan biaya, pelemahan permintaan, serta daya beli yang belum kuat, tantangan ini menjadi lebih kompleks.
Rahma menyebut tantangan tersebut diperberat oleh masih lemahnya daya beli masyarakat. Di sisi keuangan, ia menyinggung ketatnya likuiditas perbankan yang membatasi penyaluran kredit.
Ia juga menyoroti ruang fiskal pemerintah yang terbatas serta perlambatan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Kombinasi faktor-faktor ini, menurutnya, berpotensi membuat akselerasi pertumbuhan pada semester II tidak berjalan linear dengan semester I.
Secara keseluruhan, pesan utama dari Rahma adalah bahwa angka pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II-2026 perlu dibaca bersama kondisi yang sedang menekan sektor riil. Apresiasi atas capaian tetap relevan, tetapi dorongan agar momentum bertahan sampai akhir tahun harus disertai upaya agar ekspansi usaha dapat kembali didukung oleh biaya produksi, permintaan, dan arus kas yang lebih memungkinkan.












