jurnalistik.co.id – Fenomena iklim El Nino kembali muncul dan mulai memengaruhi wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah hingga timur. Lonjakan suhu permukaan laut di kawasan itu disebut berpotensi mendorong suhu di Bumi menuju kondisi yang tidak biasa.
Dampaknya diperkirakan tidak hanya berhenti pada laut. Anomali El Nino dapat mengubah pola angin, tekanan udara, serta memengaruhi intensitas curah hujan di berbagai wilayah dunia.
Secara siklus alami, El Nino biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Fenomena ini umumnya berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Dalam periode kemunculannya, El Nino kerap memicu berbagai dampak cuaca ekstrem. Di sejumlah tempat, El Nino dikaitkan dengan kekeringan yang sangat parah, sementara di belahan dunia lain justru dapat memunculkan banjir bandang.
Tahun ini dinilai lebih berat dari data sebelumnya
Meski El Nino pernah terjadi berkali-kali, ahli menilai karakter pada tahun ini berbeda dari yang mereka temukan pada rangkaian data yang dipantau selama puluhan tahun. Tim Stockdale, spesialis El Nino dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), menyoroti tingkat kekuatan dan konsistensi sinyalnya di berbagai model.
Stockdale menyatakan, “Saya rasa sangat tepat untuk menyatakan bahwa kita belum pernah mendapati draf prakiraan El Nino yang begitu kuat dan konsisten di berbagai model simulasi cuaca sebelumnya,” papar Stockdale dalam konferensi pers, dikutip dari France24, Selasa (7/7/2026).
Ia melanjutkan, “Saya memproyeksikan fenomena kali ini akan memecahkan rekor (panas), meski tentu tidak ada jaminan,”.
Menurut penjelasan ilmiah yang disampaikan, puncak kekuatan El Nino umumnya terjadi pada rentang waktu antara November hingga Februari. Namun, efek lonjakan suhu global yang dihasilkan umumnya baru terasa lebih lambat setelah fase puncak tersebut terlewati.
Jejak El Nino pada tahun terpanas
El Nino sebelumnya disebut berperan dalam mendorong tahun-tahun ekstrem pada catatan iklim. Pada 2023, fenomena ini ikut berkontribusi hingga tahun tersebut tercatat sebagai tahun terpanas kedua dalam sejarah.
Berita Terkait
Setelah itu, pada 2024, kondisi iklim kembali melonjak sehingga tahun tersebut resmi dinobatkan sebagai tahun terpanas sepanjang masa.
Karena itu, peringatan mengenai El Nino tahun ini datang dengan nada yang lebih serius. Ahli melihat adanya kemungkinan yang lebih besar bahwa El Nino kali ini dapat memicu rekor panas, meskipun masih terdapat ketidakpastian seperti yang disampaikan langsung dalam pernyataan Stockdale.
AS dan WMO memberi sinyal eskalasi
Pada bulan lalu, Badan Cuaca Amerika Serikat (AS) merilis maklumat bahwa El Nino telah berkembang pesat. Badan tersebut juga menyebut fenomena itu akan terus mengintensifkan kekuatannya hingga berpotensi mencapai level yang bersifat bersejarah.
Sejalan dengan itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pekan lalu memperingatkan eskalasi yang cepat. WMO menyebut El Nino akan mengalami peningkatan cepat menjadi fenomena iklim yang sangat kuat dalam rentang waktu antara Juli hingga September.
Dengan pola peningkatan yang diperkirakan, perubahan kondisi atmosfer dan laut yang terkait El Nino dinilai dapat semakin terasa. Perubahan angin dan tekanan udara yang terjadi sejak awal, ditambah pengaruh terhadap curah hujan, membuat sejumlah dampak berpotensi saling berkaitan.
Mitigasi dampak pangan di tengah ancaman gagal panen
Ancaman El Nino juga dikaitkan dengan risiko kelaparan global. Kekhawatiran ini terutama berangkat dari kemungkinan gagal panen di sejumlah wilayah yang lebih rentan terhadap perubahan pola hujan dan panas.
Merespons kondisi tersebut, badan-badan bantuan pangan PBB telah menggalang dana darurat sejak bulan lalu. Penggalangan itu dilakukan untuk memberlakukan langkah-langkah mitigasi guna menahan dampak buruk yang mungkin timbul dari eskalasi El Nino.
Langkah pencegahan menjadi fokus karena efek musim ekstrem umumnya tidak muncul serentak. Saat puncak kekuatan El Nino diperkirakan berada pada periode November hingga Februari, WMO dan lembaga terkait menilai pentingnya persiapan lebih awal agar respons kemanusiaan tidak tertinggal.
Dengan beragam peringatan dari ECMWF, WMO, dan Badan Cuaca AS, perhatian dunia mengarah pada bagaimana suhu global dapat terus meningkat. Dalam kerangka itulah, proyeksi bahwa tahun ini berpeluang memecahkan rekor panas muncul sebagai pesan utama yang disampaikan para ahli, disertai catatan bahwa jaminan tetap tidak ada.












