Olahraga

Pameran Cultura Persib: Refleksi Perjalanan Maung yang Bikin Sejarah

0
×

Pameran Cultura Persib: Refleksi Perjalanan Maung yang Bikin Sejarah

Sebarkan artikel ini
Pameran Cultura Persib, Refleksi Perjalanan Maung Bikin Sejarah Bola 9 Juni 2026
Ilustrasi: Pameran Cultura Persib, Refleksi Perjalanan Maung Bikin Sejarah

jurnalistik.co.id – Pameran Cultura Persib menghadirkan cara pandang baru terhadap perjalanan Persib Bandung—bukan hanya sebagai deretan hasil di lapangan, melainkan sebagai kisah budaya yang tumbuh bersama kota.

Persib Bandung mencatatkan sejarah dengan meninggalkan warisan prestasi juara Liga Indonesia dalam tiga musim beruntun. Maung Bandung menjadi kampiun pada musim 2023-2024, 2024-2025, dan 2025-2026, di tangan pelatih kepala Bojan Hodak.

Refleksi atas pencapaian itu kemudian dibawa ke ruang pameran budaya bertajuk “Cultura Persib”. Pameran ini digelar di Grey Art Gallery, Jl. Braga 47, Bandung.

Pameran Cultura Persib dibuka mulai 8 Juni hingga 10 September 2026. Dalam perjalanannya, pameran menampilkan 95 karya serta objek yang merepresentasikan beragam perspektif tentang Persib dan sekitarnya.

Kolaborasi pameran ini melibatkan seniman-seniman serta kolektor yang mengabadikan kisah perjuangan Maung Bandung. Di dalamnya, pengunjung diajak menelusuri hubungan klub dengan sejarah, kultur Bobotoh, identitas Kota Bandung, hingga perjalanan Persib dari masa ke masa.

Sejumlah karya dari berbagai medium

Beragam karya dipertunjukkan dalam bentuk seni rupa, instalasi visual, mural, arsip sejarah, memorabilia, jersey bersejarah, hingga ruang-ruang tematik. Setiap bagian dirancang untuk menangkap jejak yang berulang dari waktu ke waktu, sejalan dengan ingatan kolektif yang hidup di masyarakat.

Pemaknaan pameran juga dipaparkan oleh Owner Grey Art Gallery, Elia Yoesman. Menurutnya, latar belakang pameran Persib ini perlu diangkat karena Persib dipandang sebagai fenomena budaya yang alami, turun temurun lintas generasi, dan berpengaruh terhadap Kota Bandung, bahkan Jawa Barat.

Elia menyampaikan, “Persib bukan sekadar kemenangan, program ini lahir dari keyakinan bahwa Persib ini malampaui sepak bola, Persib itu identitas Bandung.” Kalimat itu dilanjutkan dengan, “Ceritanya akan selalu hidup di tengah keluarga, masyarakat, memoribilia puluhan tahun, tentang ekspresi perayaan yang tumbuh di tengah masyaraka,” papar Elia Yoesman.

Ketika pameran dimulai pada Senin (8/6/2026), suasana di lokasi menunjukkan bagaimana cerita klub hadir dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak berbaju Persib Bandung, misalnya, terkesima melihat simbol piala yang berhasil diraih Maung Bandung dalam tiga musim terakhir, yang dipajang di pameran.

Ia melihat fenomena nyata ketika tiga musim terakhir Persib merayakan gelar juara di Bandung. Dari titik itu, narasi pameran bergerak dari ruang piala menuju ruang ingatan—bahwa kisah Persib tidak hanya hadir di lapangan, melainkan juga tumbuh di tengah masyarakat.

Elia menegaskan kembali pemaknaan tersebut: ”Persib bukan hanya hadir di lapangan, ceritanya hidup di tengah masyarakat dan ekspresi budaya yang hidup puluhan tahun,” terangnya. Lewat pameran Cultura Persib, perjalanan Maung Bandung dipetakan sebagai bagian dari cara masyarakat merayakan, menyimpan, dan meneruskan cerita lintas generasi.

Di sepanjang pameran, pengunjung tidak hanya melihat rangkaian karya, tetapi juga diajak membaca ulang jejak Persib sebagai bagian dari cara warga memaknai kemenangan. Hubungan klub dengan kultur Bobotoh serta identitas Kota Bandung ditempatkan sebagai benang merah yang membuat setiap ruang terasa saling terhubung.

Kehadiran arsip sejarah, memorabilia, dan jersey bersejarah memberi ruang bagi pengunjung untuk merasakan ritme perjalanan Persib dari masa ke masa. Objek-objek tersebut berfungsi seperti pengingat yang terus bergerak: dari catatan prestasi menuju ingatan kolektif yang diwariskan, sementara karya-karya visual ikut menafsir ulang perayaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Ketika cerita berpindah dari satu tema ke tema lain, pameran juga menegaskan bahwa ekspresi budaya tidak berhenti di stadion. Narasi tentang Persib hadir sebagai simbol yang terus hidup dalam keluarga dan lingkungan sehari-hari, sehingga simbol piala dan kisah juara pada tiga musim terakhir dapat dibaca sebagai bagian dari identitas yang dirawat lintas generasi.