jurnalistik.co.id – Di wilayah Gironde, Prancis, panas ekstrem menjadi lawan yang sama kerasnya dengan api. Kru pemadam kebakaran dan relawan bergantian berusaha memutus penyebaran sambil berhadapan dengan flare-up yang muncul lagi tanpa aba-aba.
Formasi pesawat pengebom air Canadair datang bergelombang di atas garis asap pekat. Tiga unit Canadair terlihat terbang beriringan sebelum berbelok tajam ke arah plume hitam yang tebal di depan mata.
Setiap pesawat menjatuhkan muatan air dengan kapasitas lebih dari 1.000 gallons ke kobaran di bawah. Setelahnya, helikopter menyusul dengan aliran cairan pemadam berwarna merah yang diarahkan untuk menahan agar api tidak merambat ke area baru.
Ketika asap sedikit mereda, petugas kemudian bergerak masuk ke hutan dengan berjalan kaki untuk menangani titik-titik api yang masih menyala. Pada momen seperti itu, fokusnya bergeser dari serangan dari udara ke pengendalian di lokasi, sekaligus mengatasi kebakaran yang berpotensi menyala ulang.
Kebakaran hutan di Gironde telah berlangsung selama sekitar satu pekan. Dampaknya meluas hingga memaksa puluhan ribu warga dan wisatawan mengungsi dari kawasan terdampak.
Namun, suhu yang mendekati puncak sekitar 40C terus memberi ancaman. Api dapat muncul kembali secara tiba-tiba, sehingga setiap jeda pengendalian terasa sementara.
Dalam pengamatan di lapangan, salah satu titik yang sedang dipantau sempat dinyatakan tertangani dalam waktu sekitar 20 menit. Tidak lama setelah itu, flare-up lain muncul mendadak di sisi berlawanan jalan.
“Leave now!” terdengar dari seorang perwira yang melintas, dengan nada tegas yang terdengar jengkel. Asap kembali menebal dan gerakannya terasa makin agresif, membuat keputusan untuk pergi menjadi semakin mendesak.
Skala bencana di wilayah selatan-barat Prancis ini sangat besar, sampai arah datangnya asap tidak selalu mudah ditebak. Saat melaju ke barat dari Bordeaux, ruas jalan bisa terlihat kosong, melewati desa-desa yang sepi, sementara asap seolah turun mengikuti perjalanan.
Tanah di area terdampak tampak seperti bubuk. Lahan juga dipenuhi kerucut pinus dan daun kering yang jumlahnya nyaris tak berujung, kondisi yang menjelaskan mengapa api dapat menyebar dengan laju yang sulit dibendung.
Penolakan evakuasi, dan pilihan untuk bertahan
Di tengah gelombang pengendalian, ada kisah warga yang awalnya menolak menuruti permintaan petugas. Pierre Alexandre, misalnya, menyatakan ia tidak ingin meninggalkan bungalo ketika diminta oleh pemadam kebakaran.
“When [the police] said I had to leave, I said no!” tuturnya, mengingat saat perintah evakuasi disampaikan. Titik api utama menurut keterangan berasal dari area hutan yang berada tepat di samping bungalo tempat ia berada.
Ia menunjukkan foto dirinya yang duduk di atap rumah dalam keadaan gelap. Namun ia menegaskan, foto itu sebenarnya diambil pada sore hari, setelah ia sempat menyuruh istri dan putrinya pergi.
Ia juga memberi kesempatan kepada putranya yang berusia 19 tahun, Clement, untuk menentukan pilihan. Clement memilih tetap tinggal, sementara Pierre mengamati situasi dari dekat.
Saat berbicara tentang keputusan itu, Pierre mengaitkannya dengan rasa takut yang ia sampaikan kepada keluarganya. “I told him: ‘Be careful because in front of us is a nightmare, we don’t know what will happen,'” ujarnya.
Keinginan untuk melindungi rumah terdengar wajar bagi banyak orang yang hidup bersama bencana seperti ini. Tetapi pengakuannya juga jujur, bahwa ia dan Clement bukanlah petugas pemadam yang memiliki perangkat dan pelatihan khusus.
Berita Terkait
“No, we’re not firefighters,” kata Pierre, sekaligus menggambarkan batas kemampuan warga ketika menghadapi kebakaran berskala masif. Menurutnya, mengendalikan api pada situasi seperti itu terasa seperti permainan memantau lawan yang terus berpindah tempat.
Para petugas profesional pun menghadapi dinamika serupa, seakan pertandingan “cat and mouse” atau permainan “Whack-a-Mole” yang tak memberi waktu untuk lengah. Polanya lebih menyerupai operasi penahanan daripada upaya pemadaman total yang tuntas dalam satu tahap.
Bertarung bersama panas: relawan dan warga yang ikut turun
Di belakang para profesional, hadir sejumlah besar relawan yang bergerak mendekati titik bahaya. Mereka membawa kendaraan untuk menyuplai air atau menyemprotkan cairan pemadam secara langsung.
Hugo, salah satu relawan yang berusia 26 tahun, menggambarkan sikapnya dengan nada yang keras. “If it’s too late, at least we tried,” katanya saat mengisi ulang tangki airnya.
Ia juga menyebut kerusakan yang sudah terjadi di hamparan yang sangat luas. “Fifty thousand hectares has already been destroyed, what will we tell our children?” ucapnya, seolah berbicara bukan hanya tentang saat ini, tetapi juga masa depan keluarga yang terdampak.
Hugo tumbuh di wilayah tersebut dan kembali setelah meninggalkan rumahnya di Bali. Ia datang untuk memantau rumah ibunya di desa Arès, yang disebut berada dekat dengan kebakaran hutan.
Sementara itu, Maëlys, yang berusia 23 tahun, menyampaikan kesedihan yang tampak jelas dari kondisi wajahnya yang tertutup jelaga. “It’s horrible, it’s our home, it’s our region, it’s our forest, it’s where we grew up, it’s where our family live, where we live, it’s horrible. I feel a lot of sadness,” katanya.
Ia juga menyebut profesinya dan alasan keterlibatannya. “I am a nurse and I’m here to help,” tambahnya, sebelum menjelaskan ritme kegiatannya di tengah bencana.
Maëlys mengatakan beberapa teman memiliki tangki air besar. Tangki-tangki itu kemudian dipakai untuk menanggapi flare-up yang muncul, agar api tidak sempat melebar ke wilayah lain.
“In the morning I am at the hospital working, and in the afternoon I’m in the forest helping,” ungkapnya. Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana aktivitas sehari-hari bergeser total ketika situasi memaksa orang-orang ikut terlibat.
Mobilisasi lintas wilayah dan upaya penahanan jangka lebih panjang
Di Gironde, kru pemadam kebakaran datang dari berbagai penjuru Prancis. Mereka disebut berasal dari Brittany di bagian utara hingga kota-kota seperti Marseille dan Lyon di selatan.
Bukan hanya berfokus pada upaya menyiram langsung api. Saat tidak sedang menenggelamkan atau memadamkan bara, petugas juga menyiram tanah dan vegetasi agar potensi kebakaran di masa depan tidak makin mudah berkembang.
Proses itu dikenal dengan istilah “noyer”. Dalam penjelasan yang disampaikan, kata tersebut diterjemahkan sebagai “drowning” dalam bahasa Prancis.
Meski pada sejumlah lokasi api tampak lebih terkendali untuk sementara, kebakaran di Gironde masih jauh dari selesai. Setiap jeda yang terasa seperti kemenangan di lapangan bisa berubah menjadi tantangan baru ketika panas memicu kemunculan titik nyala lain.
Dengan suhu yang terus menekan dan flare-up yang datang bergantian, upaya penahanan menjadi strategi yang paling menonjol. Di tengah kondisi seperti itu, baik pesawat, helikopter, maupun langkah di darat bekerja sebagai satu rangkaian, sementara warga dan relawan terus berupaya menjaga agar wilayah mereka tidak semakin menyusut di bawah amukan api.












