Olahraga

Pemain Tenis Putri Alami 12.000 Post Kasar di Media Sosial Sepanjang 2025

×

Pemain Tenis Putri Alami 12.000 Post Kasar di Media Sosial Sepanjang 2025

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Social media abuse in tennis: Female players faced 12,000 abusive posts in 2025

jurnalistik.co.id – Lebih dari 12.000 unggahan dan pesan yang berisi pelecehan dialami pemain tenis putri sepanjang 2025. Temuan itu merujuk pada laporan baru yang merangkum data deteksi ancaman berbasis kecerdasan buatan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah konten pelecehan pada 2025 tergolong sebanding dengan tahun sebelumnya, yakni 2024. Data dikumpulkan melalui layanan threat matrix dari Signify Group, yang menggabungkan pemantauan otomatis berbasis AI dengan analisis dari analis manusia.

Meski angkanya tetap besar, laporan ini juga menyoroti adanya perbaikan. Sebanyak 66% dari kategori pelecehan yang tergolong serius dilaporkan telah dihapus.

Selain itu, laporan menyatakan ada 35 akun yang terkait dengan 12 individu di-eskalasi ke penegak hukum. Langkah tersebut menunjukkan bahwa respons tidak berhenti pada penghapusan konten, tetapi juga diarahkan pada proses penindakan terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab.

Peran AI dan analis manusia dalam memetakan pelecehan

Threat matrix bekerja dengan menilai konten dari beberapa platform, termasuk X, Instagram, YouTube, TikTok, dan Facebook. Sistem AI digunakan untuk mengidentifikasi indikasi pelecehan, sementara analis manusia menilai lebih lanjut untuk memastikan klasifikasi yang dibuat tetap relevan dengan konteks.

Dalam penjelasannya, WTA melalui player board menyampaikan bahwa pelecehan semacam ini tidak dapat diterima. Mereka juga menegaskan dampaknya bisa signifikan, walaupun pelecehan berasal dari kelompok akun yang jumlahnya relatif terbatas.

WTA dan World Tennis turut menyebut bahwa hasil yang dipaparkan memperlihatkan nilai kerja sama lintas pihak. Menurut mereka, kolaborasi diperlukan untuk mengenali perilaku berbahaya, membantu pemain, serta memastikan tindakan nyata terhadap pelaku yang menyebarkan pelecehan.

WTA dan World Tennis juga menekankan bahwa kemajuan yang sudah terlihat tidak otomatis berarti persoalan selesai. Untuk membuat perubahan yang lebih berarti, mereka menyatakan kemajuan lanjutan membutuhkan aksi bersama dari perusahaan media sosial, aparat penegak hukum, badan pengelola olahraga, hingga industri perjudian.

Dalam konteks 2024, laporan dari kelompok yang sama sebelumnya menemukan adanya keterkaitan antara pelecehan dan perilaku “penjudi yang marah”. Pada periode itu, mereka disebut berada di balik 48% dari posting yang dinilai termasuk pelecehan.

Temuan 2025 menunjukkan pola yang berbeda namun masih terkait. Disebutkan bahwa penjudi marah bertanggung jawab atas 42% pelecehan yang telah terverifikasi di 2025. Angka itu naik pada kategori pelecehan serius, yang dilaporkan mencapai 59% dalam kasus-kasus kategori paling berat.

Di bagian kutipan pernyataan, WTA menilai penting bahwa WTA dan World Tennis tidak hanya mendukung pemain, tetapi juga memperjelas bahwa perilaku semacam ini tidak dapat diterima. Mereka menyatakan langkah-langkah yang diambil ditujukan untuk mendukung korban sekaligus membuat jelas bahwa tindakan pelecehan akan ditangani secara serius.

Ancaman personal juga menjadi sorotan dalam laporan tersebut. Pada 2025, Katie Boulter, petenis peringkat dua Inggris, menyampaikan kepada BBC Sport bahwa ia menerima ancaman kematian melalui media sosial.

Merespons situasi tersebut, para pemain lain menyerukan adanya verifikasi identitas yang diperkenalkan oleh platform media sosial. Seruan ini muncul sebagai upaya untuk mengurangi ruang bagi pelaku yang menyebarkan ancaman, pelecehan, dan konten merugikan.

WTA dan World Tennis menambahkan bahwa masukan dari laporan ini dianggap penting untuk memperluas pemahaman mengenai isu tersebut. Mereka menyebut fokusnya adalah mengambil langkah tegas untuk melindungi korban pelecehan online, termasuk melalui penghukuman bagi pihak yang bertanggung jawab.

Selain fokus pada tenis putri, laporan tersebut juga menyinggung respons di cabang tenis putra. Disebutkan bahwa untuk permainan putra, sistem baru yang digerakkan oleh AI digunakan untuk melawan pelecehan berat, dengan catatan sistem itu memblokir 162.000 posting dalam satu tahun.

Dengan demikian, laporan Signify Group menggambarkan bahwa pelecehan di media sosial terhadap pemain tenis masih menjadi masalah yang luas pada 2025. Namun, ada sejumlah indikator tindakan yang mengarah pada penanganan lebih lanjut, mulai dari penghapusan pelecehan serius hingga eskalasi kasus tertentu ke penegak hukum.