jurnalistik.co.id – Menjelang Muktamar NU ke-35, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengingatkan peserta agar tidak terjebak informasi palsu yang beredar melalui akun-akun penyebar hoaks di media sosial. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilah informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.
Menurut Gus Ipul, persiapan Muktamar saat ini masih dimatangkan dengan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak karena waktu persiapan yang relatif singkat. Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mengikuti arahan dan informasi yang resmi.
Gus Ipul menyampaikan, “Saya berharap semua mengikuti yang official , ya, jangan terbawa oleh hal-hal yang justru membuat kita salah informasi, mengikuti apalagi sampai mengikuti informasi-informasi yang salah,” saat ditemui di Kantor Kemensos, Salemba, Jakarta Pusat, pada Senin (13/7/2026).
Dalam penjelasannya, Gus Ipul menyebut dinamika di dunia media sosial kerap menghadirkan konten yang menyesatkan. Ia menilai ada akun yang bertindak sebagai buzzer, sekaligus ada pihak yang dengan sengaja mengubah dan memotong-motong pemberitaan.
Ia menegaskan, “Di dunia medsos kadang ada buzzer , kadang ada memang yang sengaja melintir-melintir motong-motong berita,”. Dari peringatan tersebut, ia mengajak peserta Muktamar untuk lebih selektif menilai setiap informasi yang muncul.
Gus Ipul meminta agar peserta muktamar membiasakan diri untuk melakukan penyaringan informasi secara bertahap. Pesan itu disampaikannya dengan menyoroti perlunya memilah seluruh pemberitaan yang tersebar, terutama yang beredar di media sosial.
“Yang ingin saya sampaikan kepada para peserta muktamar hendaknya bisa memili dan memilah seluruh pemberitaan-pemberitaan yang ada khususnya yang ada di dunia media sosial,” ucap Gus Ipul.
Berita Terkait
Ia juga menyatakan bahwa peredaran kabar palsu atau hoaks memang menjadi tantangan besar menjelang perhelatan Muktamar NU. Menurutnya, situasi jelang agenda besar kerap membuat informasi beredar dalam berbagai bentuk yang belum tentu akurat.
“Dalam situasi seperti ini banyak sekali saya lihat itu di medsos, kabar-kabar yang campur aduk antara kabar yang benar, setengah benar, maupun yang hoaks atau kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan, kabar-kabar palsu,” kata Gus Ipul. Ia menilai, campur aduk tersebut berpotensi mengaburkan pemahaman publik jika tidak disikapi dengan pemilahan yang benar.
Di sisi lain, Gus Ipul mengingatkan pentingnya sikap tidak mudah terbawa arus saat menerima informasi yang belum jelas sumbernya. Dengan demikian, peserta diharapkan tetap berpegang pada informasi resmi dan tidak memperluas penyebaran konten yang menyesatkan.
Sehubungan dengan pelaksanaan forum, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026. Acara itu akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Muktamar tersebut, sebagaimana disebut dalam informasi jadwal, akan menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus memilih Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya. Gus Ipul menempatkan imbauannya agar peserta tidak terjebak hoaks sebagai bagian dari upaya menjaga proses konsolidasi berjalan berdasarkan informasi yang benar.
Gus Ipul juga menekankan bahwa kehati-hatian tidak berhenti pada sikap pribadi, tetapi berdampak pada cara peserta merespons setiap kabar yang muncul. Ia mengingatkan agar informasi yang masih simpang siur tidak langsung ditelan begitu saja, melainkan ditinjau ulang dengan membandingkan isi pemberitaan yang beredar dengan rujukan resmi yang menjadi pegangan proses Muktamar.
Menurutnya, menjelang perhelatan besar dengan rentang waktu persiapan yang relatif singkat, konsentrasi semua pihak perlu tetap terjaga agar koordinasi berjalan sesuai arahan. Ia memandang penyebaran kabar palsu dapat mengganggu arah pembahasan dan memunculkan kesalahpahaman, sehingga peserta diharapkan menjaga ketertiban informasi: tidak ikut menyebarkan konten yang belum teruji, sekaligus berpegang pada kabar yang jelas dasarnya.












