Pendidikan

Curhat Guru SMAN 1 Pinogu pada Kunjungan Gusnar Ismail tentang Tunjangan Transportasi bagi Wilayah Terpencil

×

Curhat Guru SMAN 1 Pinogu pada Kunjungan Gusnar Ismail tentang Tunjangan Transportasi bagi Wilayah Terpencil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Guru SMAN 1 Pinogu Curhat Soal Tunjangan Transportasi Guru Terpencil

jurnalistik.co.id – Kunjungan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail ke Kabupaten Bone Bolango dimanfaatkan para guru SMA Negeri 1 Pinogu untuk menyampaikan kebutuhan yang selama ini mereka rasakan di lapangan. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah keluhan disampaikan langsung saat guru berbincang bersama Gusnar.

Salah satu permintaan yang muncul adalah soal tunjangan transportasi untuk guru yang mengajar di wilayah terpencil. Guru-guru menegaskan bahwa mereka berada di daerah yang cukup jauh dan menuntut mobilitas rutin, sehingga biaya perjalanan menjadi beban tersendiri.

Para guru menyebutkan bahwa sekolah mereka berada di Pinogu, sementara contoh dukungan transportasi justru datang dari jenjang pendidikan lain. Mereka mencontohkan guru SD dan SMP yang menerima tunjangan transportasi, lalu mempertanyakan apakah skema serupa juga bisa diberikan kepada guru SMA.

“Teman-teman daerah terpencil dari kabupaten SD, SMP itu dapat transportasi untuk guru-guru. Apakah bisa kami dari SMA yang khususnya di Pinogu mendapatkan hal itu?” tanya Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Pinogu, Nian Didipu, saat diwawancarai bersama Gubernur Gusnar pada Selasa (22/9/2026).

Gusnar kemudian menanggapi pertanyaan tersebut dengan menyatakan persetujuan, namun meminta prosesnya tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Ia menekankan bahwa pelaksanaan harus melihat sampai sejauh mana regulasi memungkinkan pembayaran tunjangan itu bagi guru di wilayah terpencil.

“Insyaallah, insyaallah. Sambil diingatkan terus ke kepala dinasnya. Kalau gubernur lupa berarti kepala dinas yang lupa. Kalau saya setuju sekarang, cuma jangan sampai lupa karena kita harus masukkan lagi di aturan. Ya kan? Biar kita tidak salah,” tegas Gusnar.

Bagi para guru di Pinogu, masalah transportasi bukan perkara kecil. Mereka menjelaskan bahwa ongkos perjalanan yang ditanggung untuk mobilitas warga, dari Tulabolo hingga Pinogu pulang pergi, biasanya berada di kisaran Rp800 hingga Rp1 juta setiap orangnya. Guru menilai angka itu memperlihatkan beratnya akses dan jarak yang harus dihadapi setiap waktu.

Selain tunjangan transportasi, guru-guru juga menyampaikan perhatian terhadap kebutuhan lain di sekolah. Salah satunya adalah ketersediaan air bersih yang dinilai penting untuk menunjang aktivitas belajar mengajar harian.

Mereka juga mengangkat soal fasilitas komputer serta akses internet. Kebutuhan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya agar proses pembelajaran dan pendukung kegiatan sekolah dapat berjalan lebih memadai.

Dalam kesempatan yang sama, para guru turut menjelaskan tantangan yang harus dialami siswa ketika menghadapi Tes Kompetensi Akademik. Menurut penuturan mereka, siswa biasanya mengikuti tes tersebut ke Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, sehingga memerlukan persiapan dan perjalanan tersendiri.

Pertemuan Gusnar dengan jajaran guru dan siswa SMA Negeri 1 Pinogu berlangsung dalam suasana dialog langsung. Melalui kesempatan itu, kebutuhan-kebutuhan yang selama ini menjadi kendala di lingkungan sekolah disampaikan secara runtut, mulai dari transportasi, air bersih, hingga dukungan fasilitas pendidikan.

Dengan respons dari Gubernur Gusnar yang menyatakan setuju sambil menekankan pentingnya penyesuaian aturan, harapan guru-guru mengarah pada adanya kejelasan langkah lanjutan. Mereka berharap ketentuan yang selama ini berlaku untuk guru SD-SMP dapat dipertimbangkan pula untuk guru SMA di wilayah Pinogu, sebagaimana disampaikan dalam perbincangan tersebut.

Dalam dialog tersebut, para guru menyoroti bahwa dukungan yang selama ini terasa hanya menyasar jenjang tertentu membuat mereka merasa perlu mendapat perlakuan yang sebanding. Mereka berharap mekanisme transportasi untuk mobilitas guru di wilayah terpencil tidak berhenti pada percontohan, melainkan dapat diurai lebih lanjut melalui penyesuaian kebijakan agar kebutuhan lapangan guru SMA juga terakomodasi dengan jelas.

Guru-guru juga menegaskan bahwa kendala pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan biaya perjalanan. Di sekolah, mereka menekankan pentingnya ketersediaan air bersih agar kegiatan mengajar harian berjalan lancar. Selain itu, kebutuhan perangkat komputer dan akses internet menjadi penopang agar siswa dan guru dapat memanfaatkan fasilitas belajar yang lebih memadai, termasuk untuk berbagai kegiatan akademik yang menuntut persiapan matang.

Lebih jauh, tantangan yang dialami siswa saat menghadapi Tes Kompetensi Akademik turut menambah beban, karena pelaksanaan tes berlangsung di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Dengan kondisi itu, guru menilai diperlukan dukungan yang mempertimbangkan kebutuhan mobilitas secara menyeluruh. Para guru berharap tindak lanjut dari pertemuan ini dapat menghasilkan kejelasan langkah, sehingga seluruh kebutuhan yang disampaikan tidak hanya menjadi aspirasi sesaat, tetapi benar-benar ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.