jurnalistik.co.id – Dalam pergaulan, ada pepatah “Mulutmu Harimaumu” yang menekankan pentingnya mempertimbangkan kata-kata sebelum dilontarkan. Psikolog menilai, cara seseorang berbicara dapat menentukan bagaimana orang lain merespons dan memahami situasi.
Psikolog Dr. Catherine Nobile, Psy.D menjelaskan bahwa memahami dampak bahasa terhadap hubungan merupakan dasar yang perlu dipegang. Kata-kata membentuk persepsi serta emosi, lalu memengaruhi cara seseorang memproses informasi.
Lebih jauh, Dr. Catherine Nobile, Psy.D juga menyoroti bahwa seseorang sangat mungkin salah menilai orang lain hanya dari apa yang diucapkan. Meski niatnya bisa jadi baik dan ungkapan tersebut terdengar umum, beberapa kalimat justru membuat orang lain tidak menyukainya.
Berikut tujuh kalimat yang sebaiknya dihindari dalam percakapan karena berpotensi menyakiti hubungan, termasuk penjelasan dari para psikolog terkait alasan di balik dampak tersebut.
Pertama, kalimat “Itu kan sudah menjadi pengetahuan umum” dapat terdengar merendahkan. Ungkapan ini, menurut Dr. Catherine Nobile, Psy.D, menyiratkan bahwa lawan bicara kurang memiliki pengetahuan atau kemampuan.
Sebagai pengganti, ia menyarankan pendekatan yang lebih mengajak diskusi, seperti “Mari kita bahas hal ini bersama” atau “Apakah ada hal yang perlu aku jelaskan lebih lanjut kepadamu?”. Dengan cara itu, fokus percakapan tidak terarah pada kelemahan pihak lain, melainkan pada pembahasan bersama.
Kedua, “Santai saja, bukan masalah besar, kok” sering terdengar seolah-olah perasaan orang lain tidak terlalu penting. Kalimat ini dapat membuat pihak yang tersinggung merasa disepelekan.
Dr. Catherine Nobile, Psy.D mengarahkan agar respons dibuat lebih peka, misalnya dengan mengatakan, “Aku paham bahwa hal ini mengganggu kamu. Apakah kamu ingin membicarakannya?”. Nada yang demikian memberi ruang agar perasaan tetap diakui.
Ketiga, “Aku hanya berkata jujur” kerap dipakai sebagai pembenaran saat seseorang menyampaikan kritik yang kasar atau tidak perlu. Menurut Dr. Catherine Nobile, Psy.D, pembelaan semacam ini tidak otomatis membuat ucapan menjadi lebih baik.
Ia menyarankan pilihan yang lebih bijaksana, seperti “Aku ingin menyampaikan pendapatsecara konstruktif” atau “Begini sudut pandangku”. Dengan frasa tersebut, maksud komunikasi lebih jelas dan diarahkan pada penyampaian pendapat yang membangun.
Berita Terkait
Keempat, “Kan, aku sudah bilang” sering terkesan memuaskan bagi sebagian orang, tetapi umumnya tidak disukai. Psikolog Dr. Joel Frank, Psy.D menjelaskan bahwa ungkapan ini dapat bermasalah karena terkesan merendahkan dan tidak membantu.
Akibatnya, lawan bicara bisa merasa dikecilkan atau tidak dihargai. Sebagai alternatif, Dr. Joel Frank, Psy.D menyarankan kalimat: “Aku senang kita berhasil menemukan solusi bersama,” agar fokus kembali ke pencapaian bersama.
Kelima, “Jangan tersinggung, tapi…” dapat memicu respons defensif. Dr. Vanessa S. Kennedy, Ph.D., direktur psikologi di Driftwood Recovery, menjelaskan bahwa bagian pembuka semacam ini sering mendahului pernyataan yang sebenarnya menyinggung.
Ia menambahkan, hal ini dapat langsung membuat orang lain bersikap defensif sehingga kurang terbuka terhadap pendapat yang disampaikan. Dalam konteks yang sama, penting juga mempertimbangkan tujuan percakapan serta siapa yang menjadi penerima masukan.
Keenam, “Kamu nggak akan mengerti” berisiko terdengar meremehkan kemampuan pihak lain. Menurut Dr. Joel Frank, Psy.D, ungkapan ini mengasumsikan bahwa lawan bicara tidak memiliki kemampuan atau kecerdasan untuk memahami suatu konsep.
Pendekatan tersebut bisa terasa menghina dan membuat orang merasa dikucilkan. Sebagai penggantinya, Dr. Joel Frank, Psy.D menyarankan kalimat, “Izinkan aku menjelaskan mengapa hal ini penting dan bagaimana cara kerjanya”.
Ketujuh, “Terserah” terpilih sebagai “Kata Paling Menyebalkan” dalam jajak pendapat tahunan Marist National Poll selama lebih dari satu dekade. Dr. Joel Frank, Psy.D menilai, ungkapan ini dapat terkesan meremehkan serta menunjukkan ketidaktertarikan dan kurangnya rasa hormat pada pendapat maupun perasaan orang lain.
Sebagai alternatif, bisa menggunakan kalimat yang lebih menjaga hubungan, seperti “Aku paham maksudmu. Mari kita bahas lebih lanjut”. Pendekatan ini memberi sinyal bahwa komunikasi masih dibuka tanpa menutup ruang dialog.
Intinya, cara menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Dengan memilih kalimat yang tidak menghakimi atau merendahkan, hubungan cenderung lebih terjaga dan proses komunikasi menjadi lebih sehat.
Begitu pula ketika ada kebutuhan untuk menyampaikan kritik, pembicaraan tetap bisa diarahkan pada tujuan konstruktif. Psikolog menekankan bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pemantik persepsi dan emosi yang ikut menentukan arah percakapan.
Karena itulah, menyadari kalimat-kalimat yang berpotensi menyakiti menjadi langkah yang relevan dalam interaksi sehari-hari. Pilihlah ungkapan yang memberi ruang, mengakui perasaan, dan menjaga penghargaan terhadap lawan bicara agar hubungan tidak mudah retak.







