jurnalistik.co.id – Di pinggiran Kampung Pesisir, Dusun Jambianom, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nursyda Syam merentangkan lembaran demi lembaran buku cerita di ruang klub baca perempuan. Senin (10/08/2026) pagi itu, rumahnya yang berada di lokasi tersebut terasa hidup oleh kunjungan yang datang silih berganti.
Pada 2006, Nursyda mendirikan Klub Baca Perempuan dan mempelopori beragam gerakan sosial yang memberi dampak nyata bagi warga. Dari kegiatan itu, ia juga aktif membacakan buku cerita untuk anak-anak yang bersekolah di PAUD Anak Negeri.
Seiring waktu, Nursyda tidak berhenti pada kegiatan membaca saja. Ia turut menghasilkan karya tulis, antara lain kumpulan cerpen Gadis Itu Bernama Rinjani, novel Tulah Manuh, dan antologi puisi Tonggak.
Bagi perempuan yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta, mengajarkan membaca dan menulis buku cerita memiliki makna yang berjalan beriringan. Ia memandang kemampuan literasi sebagai proses yang saling menguatkan.
Ketertarikan Nursyda pada literasi ternyata tidak muncul dari ruang yang nyaman. Ada peristiwa menyakitkan yang ia ceritakan, yang membentuk arah gerakannya hingga hari ini.
Ketika masih berkuliah, ia jatuh cinta pada sebuah buku berjudul Indonesia Tanpa Pagar. Buku itu tebal dan penuh makna, namun harga yang tertera membuatnya tidak terjangkau untuk kantong mahasiswa.
Selama seminggu, ia datang berulang kali hanya untuk membaca buku tersebut di tempat. Ia berusaha memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada, meski tetap harus berhadapan dengan penjaga toko.
Pada akhirnya, penjaga toko menjadi jengkel dan mengusirnya. Nursyda kemudian mengingat janji yang ia buat setelah peristiwa itu.
“Saat itu saya berjanji pada diri sendiri: kelak, jika saya lulus, saya akan membangun taman baca dan menulis buku-buku sendiri. Agar tidak ada lagi anak yang diusir hanya karena ingin membaca,” kenang Nursyda.
Menurut Nursyda, kebiasaan membaca di lingkungan keluarga perlu terus diperkuat. Ia menekankan peran orang tua sebagai kunci untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini.
Di sisi lain, ia melihat anak-anak sebenarnya memiliki ketertarikan yang besar pada aktivitas membaca. Yang kerap menjadi hambatan bukan minatnya, melainkan ketersediaan bacaan yang terasa relevan dan mampu memancing rasa ingin tahu.
“Yang tidak tersedia justru adalah buku menarik yang mampu menarik minat mereka untuk membaca,” ujarnya. Buku-buku yang beredar di berbagai wilayah, terutama yang jauh dari desa-desa, sering terasa asing bagi anak-anak di kawasan pesisir.
Berita Terkait
Karena persoalan itu, Nursyda memutuskan untuk menulis sendiri. Ia menyusun cerita sederhana dengan latar dan dunia yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak setempat.
Ia juga menyesuaikan bentuk bacaan dengan kemampuan baca anak-anak pada tingkat paling awal. Dengan begitu, proses mengenali huruf dan kata tidak terasa terputus oleh teks yang terlalu sulit atau jauh dari pengalaman mereka.
“Maka Nursyda mulai menulis sendiri: cerita sederhana, bergambar dunia mereka, disesuaikan dengan kemampuan baca anak-anak di tingkat paling awal,” demikian cara ia menjelaskan langkahnya. Dari situ, ia membangun bacaan yang menjangkau kebutuhan paling dasar sekaligus menumbuhkan rasa memiliki.
Nursyda tidak hanya mengarahkan anak untuk mengeja. Ia menciptakan bacaan yang membuat mereka merasakan bahwa cerita yang mereka baca berbicara tentang diri mereka sendiri.
Ia mengatakan bahwa yang ingin ditumbuhkan adalah keyakinan: “inilah buku tentang kita.” Bagi Nursyda, kalimat itu menjadi penguat bahwa literasi bisa tumbuh dari identitas dan kedekatan, bukan semata-mata dari tugas membaca.
Warisan ayah: setiap halaman adalah kehidupan
Perjalanan Nursyda dalam dunia buku dan menulis, menurutnya, tumbuh dari kebiasaan yang ditanamkan sang almarhum ayah. Ayahnya bekerja sebagai wartawan, dan sejak dini ia menghadirkan pengalaman belajar yang luas melalui cara mendampingi anaknya.
Almarhum ayah Nursyda kerap mengajaknya untuk tinggal di rumah sastrawan di Sumbawa. Lewat pengalaman itu, ia dikenalkan dengan berbagai sosok yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut bahwa ayahnya membawanya berkenalan dengan nelayan tangguh, dukun beranak, penerima Kalpataru, hingga tokoh publik. Dari kedekatan dengan beragam figur tersebut, Nursyda menyerap cara pandang tentang kehidupan yang kemudian terasa hadir dalam cara ia menulis cerita.
“Ayah saya wartawan. Almarhum mendidik saya dengan cara yang luar biasa. Setiap libur panjang, beliau tidak sekadar membiarkan saya bermain. Beliau mengantar saya untuk tinggal dan belajar pada tokoh-tokoh kehidupan dari Sumbawa dan Lombok,” ungkap Nursyda, suaranya sarat emosi dan dengan mata berkaca-kaca.
Baginya, setiap halaman bukan sekadar kumpulan kata. Halaman adalah ruang untuk membawa ingatan, mengenalkan cara melihat dunia, serta membentuk keberanian untuk menaruh pikiran ke dalam bentuk tulisan.
Melalui klub baca perempuan yang ia bangun dan kebiasaan menulis cerita bergambar, Nursyda berusaha menegaskan satu tujuan yang berulang dalam berbagai langkahnya: agar tidak ada anak yang merasa ditolak hanya karena ingin belajar dari buku.
Dengan sudut pandang itu, kegiatan membaca di rumahnya bukan hanya program harian. Ia menjadikannya jembatan agar anak-anak di Lombok Utara memiliki bacaan yang hadir dekat dengan kehidupan mereka, sekaligus mengajak mereka tumbuh sebagai pembaca dan penulis.












