jurnalistik.co.id – Rilis PISA 2025 kembali menempatkan pelajar Inggris Raya dalam posisi yang kuat untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains. Namun, laporan yang disusun OECD itu juga menyoroti adanya tren kemunduran kemampuan membaca yang terjadi secara global.
Dalam perbandingan internasional, performa peserta didik Inggris tetap stabil. Inggris berada di bawah negara berperingkat teratas seperti Singapura, Estonia, dan sejumlah wilayah di Tiongkok, tetapi masih melampaui Amerika Serikat, Australia, serta beberapa negara Eropa besar lainnya.
Penilaian PISA dilakukan setiap tiga tahun dengan melibatkan ratusan ribu remaja dari berbagai negara. Ujian ini mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah, berpikir kritis, serta berkomunikasi, kemudian dilengkapi kuesioner yang melihat aspek pendidikan mereka.
Georgia Gould, menteri sekolah di Inggris, menyatakan pemerintah ingin “build on” hasil positif dan “go further so all young people leave school with strong literacy and numeracy”. Menurutnya, arah kebijakan juga ditautkan pada upaya memperkuat literasi dan kemampuan numerasi pada seluruh murid.
Dalam konteks Inggris, hasil PISA 2025 tidak seragam untuk tiap wilayah. Inggris terlihat konsisten lebih unggul dibanding Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales, dengan penjelasan bahwa kurikulum di Inggris memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Kuesioner dan laporan PISA 2025 memperlihatkan perbedaan tersebut muncul kembali setelah tiga tahun sebelumnya. Sampel yang digunakan mencakup 760.000 siswa berusia 15 tahun di 91 negara.
Untuk Inggris Raya, sebanyak 15.566 siswa mengikuti tes di 515 sekolah. OECD menekankan bahwa PISA memberi gambaran besar tentang sistem pendidikan dan menyediakan ukuran relatif tentang bagaimana remaja belajar dibandingkan rekan-rekannya di negara lain.
Gould juga menyinggung contoh Estonia sebagai negara yang, menurutnya, memperlihatkan bahwa “academic excellence can go hand in hand with high-quality vocational routes”. Ia mengaitkan hal itu dengan kebijakan yang baru diumumkan, yaitu mata pelajaran teknis akan tersedia bagi siswa mulai usia 14 tahun.
Selain capaian umum yang masih kompetitif, laporan PISA 2025 memasukkan peringatan yang lebih luas. OECD menyebut adanya penurunan standar membaca di banyak negara, termasuk kemampuan remaja untuk mengevaluasi informasi dari berbagai sumber secara kritis.
Dalam laporan itu, kompetensi membaca yang menurun disebut berkaitan dengan keterampilan yang “matter most in the age of AI”. Artinya, kemampuan menilai isi informasi dan memahami teks secara mendalam menjadi tantangan yang semakin penting saat penggunaan teknologi makin meluas.
Indikator yang digunakan juga mencatat meningkatnya perilaku membaca terburu-buru. OECD melaporkan proporsi “hasty readers” hampir dua kali lipat antara 2018 dan 2025.
Laporan tersebut juga menyatakan penurunan paling besar terjadi pada siswa dari keluarga yang “relatively well off”. Temuan ini menegaskan bahwa kemunduran membaca tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok yang secara umum dianggap paling rentan.
Berita Terkait
Andreas Schleicher, direktur pendidikan OECD, menggambarkan membaca sebagai “the mother of all skills”. Ia menilai penurunan yang terjadi merupakan sinyal serius, dengan menyebut kemampuan anak untuk membaca teks yang kompleks telah merosot setara “two school years” dalam satu dekade terakhir.
Schleicher menambahkan bahwa riset jangka panjang PISA mengarah pada satu pola: siswa yang membaca buku lebih panjang cenderung tampil lebih baik. Ia menyebut aktivitas membaca itu membantu siswa mempertahankan informasi kompleks di dalam pikiran saat memproses teks.
Beberapa sekolah mulai menerapkan pendekatan yang menargetkan kebiasaan membaca. Salah satu contohnya adalah Meadow Park di Coventry, yang mengombinasikan berbagai cara untuk memperkuat kemampuan literasi murid.
Di sekolah tersebut, diskusi klub buku mingguan dilakukan bersama tutor. Ampaabeng, murid kelas 10, menyebut sesi-sesi itu memberikan “really positive impact” pada kemampuan membacanya sejak program tersebut diperkenalkan satu tahun sebelumnya.
Meadow Park juga memperluas koleksi buku di perpustakaan agar variasi bacaan lebih luas. Kebijakan membaca untuk kesenangan pada jam makan siang pun didorong agar murid membangun pengalaman membaca yang lebih rutin.
Untuk mengurangi distraksi, sekolah menerapkan larangan penggunaan ponsel yang dimulai dua tahun lalu. Bernadette Pettman, kepala sekolah, mengatakan bahwa “In a digital age, it’s easier to pick up a phone than it is a book”.
Ia menambahkan bahwa kegiatan membaca bersama membantu sekolah “break down that fear of reading”. Menurutnya, murid-murid “absolutely embraced it”, sehingga pembiasaan literasi berjalan lebih diterima.
Laporan PISA 2025 juga membahas perubahan penting lain dalam dunia pendidikan: penggunaan AI. OECD memperingatkan bahwa pemakaian yang berlebihan bisa membuat siswa menghindari mencari informasi sendiri, sebuah proses yang disebut “cognitive off-loading”.
Di Inggris, hasil kuesioner PISA menunjukkan proporsi remaja yang melaporkan belum pernah memakai AI untuk tugas sekolah tergolong relatif tinggi. Meski demikian, OECD menilai penyebaran AI berlangsung cepat tanpa bukti yang memadai mengenai dampaknya.
Schleicher menyatakan bahwa pendekatan negara-negara yang menerima perkembangan AI tanpa evaluasi kuat mengingatkan pada “rolling out an untested vaccine on children”. Ia menilai kebijakan harus ditopang panduan yang jelas serta evaluasi manfaat dan risikonya.
Ia kemudian menyerukan agar pemerintah menetapkan pedoman yang tegas. Schleicher juga mengajak mempertimbangkan apakah AI dapat digunakan secara terarah untuk mendukung pengajaran, bukan semata-mata untuk memberi “quicker answers” kepada siswa.
Dengan hasil yang relatif stabil di Inggris Raya, laporan PISA 2025 menempatkan dua fokus sekaligus: mempertahankan capaian pada matematika dan sains, serta mengatasi tantangan penurunan membaca. Pemerintah dan sekolah perlu menanggapi sinyal itu agar keterampilan literasi tetap kuat ketika dunia pendidikan semakin terhubung dengan teknologi.












