jurnalistik.co.id – Marah, kecewa, sedih, atau cemas adalah pengalaman emosional yang hampir semua orang pernah rasakan. Namun, tidak semua orang merasa nyaman untuk mengungkapkannya, sehingga sebagian memilih menahan dan tetap menjalani rutinitas seperti biasa.
Menahan emosi sesekali bisa tergolong wajar. Tetapi ketika tekanan psikologis berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang sehat, dampaknya tidak berhenti di ranah pikiran saja.
Psikiater bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa tubuh dan pikiran tidak berjalan terpisah. Menurutnya, apa yang terjadi pada kondisi mental akan ikut memengaruhi proses biologis di dalam tubuh.
Ketika seseorang mengalami stres, otak akan mengaktifkan sejumlah sistem yang berperan dalam respons tubuh terhadap tekanan. Dalam penjelasan dr. Lahargo, aktivasi tersebut mencakup hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis dan sistem saraf simpatis.
“Ketika seseorang mengalami stres, otak mengaktifkan HPA axis dan sistem saraf simpatis. Tubuh kemudian menghasilkan berbagai hormon dan mediator stres, termasuk kortisol dan katekolamin,” ujar dr. Lahargo kepada Kompas.com , Rabu (12/9/2026).
Pada situasi stres yang datang lalu mereda, respons tubuh pada dasarnya merupakan mekanisme normal. Tubuh “menyiapkan diri” untuk menghadapi ancaman atau tekanan dengan cara mengatur ulang kondisi fisiologis agar tetap bisa berfungsi.
Masalah muncul ketika stres tidak kunjung mereda dan berlangsung dalam jangka panjang. Pada kondisi stres kronis, regulasi kortisol dapat berubah, dan sensitivitas reseptor glukokortikoid juga dapat mengalami perubahan. Artinya, sistem yang semula dirancang untuk membantu saat tekanan menjadi berlarut-larut bisa kehilangan keseimbangan.
Selain itu, dr. Lahargo juga menyebut bahwa keseimbangan sitokin dapat terganggu. Sitokin berperan dalam mengatur berbagai respons tubuh, termasuk respons inflamasi dan fungsi sel imun. Ketika keseimbangannya terganggu, respons inflamasi dan fungsi sel imun berpotensi mengalami disregulasi.
Berita Terkait
Dengan kata lain, tekanan psikologis dapat mengalir dari otak ke sistem hormonal dan saraf, lalu berujung pada perubahan yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Dari sini terlihat bahwa kesehatan mental memiliki hubungan biologis dengan kesehatan fisik.
Meski demikian, tidak berarti semua keluhan fisik otomatis berasal dari masalah psikologis. dr. Lahargo menggarisbawahi bahwa hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan seolah setiap gejala fisik pasti disebabkan oleh faktor mental.
Oleh karena itu, penting memahami konteksnya: tubuh dapat menunjukkan efek dari stres yang berkepanjangan, terutama bila emosi yang dipendam tidak dikelola dan terus menumpuk. Pada saat yang sama, kebutuhan untuk evaluasi medis tetap diperlukan bila seseorang merasakan keluhan fisik tertentu.
Dalam praktiknya, mengenali pola “memendam emosi” membantu orang melihat apakah ia hanya sedang menjalani momen sulit atau sedang berada dalam kondisi tekanan yang menetap. Bila stres sudah memasuki fase kronis, perubahan pada regulasi hormon dan sistem imun yang dijelaskan dr. Lahargo menjadi relevan untuk dipahami.
Penjelasan psikiater ini juga menjadi pengingat bahwa pengelolaan emosi bukan sekadar urusan perasaan, melainkan bagian dari menjaga keseimbangan proses dalam tubuh. Ketika tubuh terus-menerus berada dalam mode respons stres, risiko disregulasi pada berbagai sistem dapat meningkat.
Karena itu, langkah pertama yang lebih realistis adalah tidak memandang emosi yang muncul sebagai hal yang harus ditolak. Memahami asal tekanan, mengurangi penumpukan stres, dan mencari cara pengelolaan yang sehat menjadi penting agar respons tubuh tidak terus bekerja dalam kondisi yang sama.
Intinya
Menahan emosi bukan selalu masalah, terutama bila sesekali dan masih ada ruang untuk pemulihan. Tetapi ketika stres berlangsung lama tanpa pengelolaan yang sehat, proses biologis—melalui aktivasi HPA axis, sistem saraf simpatis, perubahan kortisol, gangguan keseimbangan sitokin, hingga disregulasi respons inflamasi dan fungsi sel imun—dapat menjadi jalur yang menjelaskan dampak kesehatan fisik.












