jurnalistik.co.id – Lauren Evans, perempuan asal Swansea, menceritakan bagaimana migrain yang ia alami selama bertahun-tahun justru dipandang sebelah mata oleh dokter umum yang menangani keluhannya. Ia mengatakan keluhan itu dikaitkan dengan sikap “dramatic”, padahal rasa sakitnya kerap membuatnya merasa berada dalam “in agony”.
Lauren (29) mulai terserang migrain sejak usia tujuh tahun. Saat ia berusia 24 tahun, serangan itu berkembang menjadi kondisi kronis hingga terjadi setiap hari.
Ketika Lauren menghubungi dokternya dengan kondisi yang ia sebut sebagai “pure agony” dari migrain kronis, ia juga menyampaikan bahwa ia merasa ingin bunuh diri. Ia menyatakan dokter menanggapi pengakuannya dengan mengatakan ia “being dramatic”.
Baginya, penyebutan migrain sebagai sekadar “just a headache” tidak menggambarkan kenyataan. Menurut Lauren, migrain adalah kondisi neurologis yang bisa membuat seseorang tak mampu bekerja, bersosialisasi, atau menjalani aktivitas sehari-hari.
Lauren menegaskan bahwa serangannya “a full body experience”. Ia menyebut serangan migrain bisa memengaruhi suhu tubuh, sistem pencernaan, kemampuan berbicara, sensitivitas terhadap cahaya, hingga rasa baal di anggota tubuh.
Dalam penuturannya, migrain juga mengganggu kemampuan berjalan dan menyelesaikan perjalanan, menimbulkan “brain fog”, mengubah pola tidur, serta memicu nyeri di bagian leher. Ia juga menyebut perubahan suasana hati, “visual aura”, sensitivitas terhadap suara, hasrat tertentu, dan vertigo sebagai bagian dari serangannya.
Ia mengatakan, tiap hari ia harus bangun dalam kondisi nyeri atau diliputi kekhawatiran kapan rasa sakit itu akan mulai lagi. Ia menggambarkan upayanya untuk mengidentifikasi pemicu sebagai pekerjaan yang panjang, termasuk menghabiskan ratusan pound untuk berbagai cara—mulai dari suplemen hingga kunjungan ke chiropraktik—demi melihat apakah ada yang benar-benar membantu.
Sambil meniti karier di NHS, Lauren juga berusaha menyelesaikan langkah untuk menjadi ilmuwan biomedis. Namun, ia menyebut kondisi di Singleton Hospital—terutama pencahayaan dan stimulasi berlebih—membuatnya mengalami migrain setiap hari.
Lauren mengisahkan bahwa ia kerap merasa diabaikan, bahkan oleh rekan kerja yang mengisyaratkan ia mungkin “faking” kondisi. Menurutnya, beberapa rekan memilih membantu dengan mematikan lampu, tetapi yang lain menyampaikan cara pandang yang berbeda.
Ia menuturkan ada rekan yang berkata, “If you don’t get your annual leave approved, you can just say you’ve got a migraine and you won’t come in.” Bagi Lauren, kalimat itu terasa keliru dan memperlihatkan jarak antara persepsi orang lain dengan pengalaman yang ia jalani.
Ia menekankan bahwa menghadapi migrain bukan hanya soal kesehatan fisik, melainkan juga pergulatan mental. Ia menambahkan, bila ia harus pulang setiap kali migrain datang, ia yakin ia tak akan sanggup berada di tempat kerja.
Untuk mengurangi dampak serangan, Lauren mengatur jam kerja agar lebih sesuai dengan kebutuhan medis. Ia memulai bekerja pukul 08:00 BST dan selesai pukul 16:00 sehingga ia punya waktu untuk pulang dan mengambil obat, tetapi ia tetap berada dalam “in agony”.
Ia mengatakan ia “couldn’t make plans” karena ia sudah tahu malam hari akan jauh lebih sulit. Akibatnya, akhir pekan lebih banyak dipakai untuk pemulihan.
Serangan yang sering ia alami juga berimbas pada hubungan sosial dan membuatnya merasa terisolasi. Lauren menggambarkan periode itu sebagai masa yang gelap: “It was a dark time. It got to the point where I was like, ‘I can’t do this for another year’.”
Ia kemudian kembali menemui dokter untuk mencari pilihan lain. Lauren menyatakan ia telah mencoba banyak hal dan menanyakan apakah ada rujukan yang bisa ia dapatkan.
Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa ia mulai merasa suicidal. Ia mengatakan ia tak akan melupakan kata-kata dokter saat ia langsung menangis: ia menyebut dokter berkata, “That sounds very dramatic, doesn’t it?”
Berita Terkait
Lauren juga mengatakan bahwa ia sempat menulis catatan bagi keluarganya, menyatakan ia tak lagi bisa bertahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Setelah itu, ia dirujuk ke dokter spesialis saraf, tetapi menurutnya, empat tahun berselang ia masih belum bisa berbicara dengan mereka.
Ia mengaku mulai ada perubahan setelah bertemu tim krisis pada Desember. Ia kemudian dikeluarkan dari pekerjaan selama satu bulan, dan ia mengatakan serangan migrain mulai mereda.
Setelah periode itu, Lauren memutuskan meninggalkan karier sebagai ilmuwan biomedis. Kini ia bekerja di perusahaan asuransi dan merasakan dirinya “like a different person”.
Ia menyebut ada banyak hobi yang selama ini tidak bisa ia jalani. Ia mengatakan ia mulai membuat perhiasan, melukis, dan bahkan berlari sejauh 50k pada September untuk sebuah acara amal.
Lauren menyatakan obat barunya saat ini bekerja dengan baik. Namun ia menambahkan bahwa bila kondisinya memburuk lagi, ia justru merasa tidak tahu harus menghubungi siapa.
Dari sisi layanan kesehatan, Swansea Bay health board menyampaikan “very sorry to hear of the patient’s concerns”. Pihak itu juga menyatakan tidak bisa berkomentar untuk kasus perorangan tanpa persetujuan, tetapi mengatakan mereka “would welcome the patient getting in touch with us so we can discuss this further”.
Menurut pernyataan tersebut, board memiliki “a specialist headache clinic that covers conditions such as migraine”, tempat GPs dapat merujuk pasien bila diperlukan.
Hambatan memahami migrain
Pengalaman seperti yang dialami Lauren dianggap tidak jarang oleh Katy Munro, senior GP headache specialist di National Migraine Centre dan pembawa podcast Heads Up. Ia menyebut ada “various barriers to people getting good help for migraine”.
Munro menyoroti bahwa yang ingin diubah adalah anggapan prakonsepsi bahwa migrain hanyalah “just a very bad headache”. Menurutnya, perbedaan migrain tidak berhenti pada sensasi nyeri kepala.
Munro menjelaskan, sakit kepala dapat menjadi bagian dari serangan migrain, tetapi migrain juga dapat disertai “visual disturbances”, mual dan muntah, kadang rasa baal serta kesemutan, nyeri perut, hingga pusing. Ia juga menyebut migrain sebagai kondisi spektrum.
Dalam spektrum itu, ia membedakan serangan episodik—ketika seseorang mengalami serangan yang lebih ringan atau jarang—dengan migrain kronis, yaitu ketika lebih dari 15 hari dalam sebulan individu mengalami gejala terkait migrain.
Munro mengatakan, ketika seseorang hanya “put up with” serangan yang datang berulang, otak bisa menjadi makin mudah terganggu. Ia menilai kondisi itu dapat membuat migrain menjadi lebih sering dan berpotensi menjadi kronis bila pengobatan yang efektif tidak diterapkan.
Hambatan pertama, menurut Munro, adalah keyakinan bahwa keluhan yang muncul adalah “normal headaches”. Ia menekankan bahwa sakit kepala yang berulang semestinya diperiksa oleh dokter umum.
Hambatan berikutnya, ia menambahkan, banyak dokter umum hanya mencatat sakit kepala sebagai gejala, bukan mendiagnosis migrain. Hambatan ketiga berkaitan dengan obat yang dulu sering ditawarkan, walau Munro menyebut perbaikan telah terjadi dalam lima tahun terakhir.
Ia menilai perlu ada pendidikan yang lebih baik di seluruh lapisan masyarakat mengenai betapa besarnya dampak migrain bagi orang yang mengalaminya.
Pemerintah Wales menyatakan mereka mengakui efek migrain terhadap kehidupan pasien dan ada panduan untuk membantu staf NHS mendiagnosis serta menangani kondisi tersebut. Sementara itu, pemerintah Inggris menyebut National Institute for Health and Care Excellence (NICE) memiliki “clear guidance on the diagnosis and management of migraines”, dan mereka mengharapkan tenaga kesehatan mengikuti panduan itu serta memberikan layanan berkualitas tinggi kepada semua pasien.












