Otomotif

Pengamat: Harga Mobil Listrik China Mulai Mengusik LCGC

1
×

Pengamat: Harga Mobil Listrik China Mulai Mengusik LCGC

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pengamat: Harga Mobil Listrik China Mulai Usik Ranah LCGC - Sektor Riil

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kehadiran mobil listrik atau electric vehicle (EV) asal China mulai mengusik dominasi mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) di pasar otomotif nasional. Menurut dia, perubahan itu terutama dipicu oleh selisih harga yang makin tipis, sehingga konsumen mulai melihat kedua segmen tersebut sebagai pilihan yang sama-sama layak dipertimbangkan.

Harga yang makin dekat

Bebin mengatakan kondisi pasar saat ini sudah berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Pada masa itu, LCGC menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya paling terjangkau dan konsumsi bahan bakarnya irit. Namun, situasi tersebut kini mulai berubah seiring hadirnya EV China yang menawarkan rentang harga yang tidak lagi terlalu jauh dari LCGC.

“Sekarang ini harga LCGC dengan EV sudah beda tipis. Membuat konsumen yang berharap bisa menikmati teknologi terkini berani mencoba, mulai membandingkan,” kata Bebin kepada Bloomberg Technoz, Selasa (26/5/2026).

Menurut Bebin, kedekatan harga itu membuat konsumen tidak lagi hanya melihat label mobil murah sebagai faktor penentu. Mereka mulai membandingkan apa yang didapat dari masing-masing kendaraan, termasuk teknologi yang dibawa, biaya operasional, serta fitur-fitur yang tersedia. Di titik ini, EV mulai masuk ke ruang pertimbangan yang sebelumnya nyaris sepenuhnya diisi LCGC.

EV mulai menawarkan daya tarik baru

Bebin melanjutkan, kendaraan listrik kini menarik perhatian karena menawarkan teknologi modern, biaya operasional yang lebih murah, hingga fitur keselamatan dan kenyamanan yang lebih lengkap dibanding sebagian model LCGC. Dengan karakter seperti itu, EV China tidak hanya tampil sebagai alternatif kendaraan baru, tetapi juga sebagai pembanding langsung bagi konsumen yang sebelumnya sudah merasa cukup dengan LCGC.

Perbandingan itu menjadi penting karena pasar otomotif nasional tidak lagi bergerak dalam situasi yang sama seperti beberapa tahun lalu. Saat harga menjadi semakin berdekatan, konsumen cenderung menimbang ulang kebutuhan mereka. Bagi sebagian pembeli, selisih biaya awal yang dulu sangat jauh kini terasa lebih dekat, sehingga keputusan pembelian bisa berubah mengikuti persepsi terhadap manfaat yang ditawarkan masing-masing kendaraan.

LCGC masih punya ruang, tapi tantangannya berubah

Di sisi lain, Bebin menjelaskan pengguna LCGC selama ini masih relatif nyaman karena kendaraan tersebut masih diperbolehkan menggunakan bahan bakar atau BBM bersubsidi. Faktor ini selama ini menjadi salah satu penopang daya tarik LCGC di mata masyarakat, selain harga pembelian yang lebih murah dan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Namun, Bebin menilai kondisi itu bisa berubah apabila pasokan BBM mengalami keterbatasan di masa depan. Jika situasi tersebut terjadi, maka daya tarik LCGC yang selama ini bertumpu pada kemudahan akses bahan bakar subsidi bisa ikut terdampak. Pada saat yang sama, EV berpotensi mendapat perhatian lebih besar karena menawarkan karakter penggunaan yang berbeda dari mobil berbahan bakar konvensional.

Dengan perkembangan itu, persaingan di segmen kendaraan terjangkau tampaknya tidak lagi sesederhana perbandingan harga awal semata. LCGC yang selama ini identik dengan pilihan ekonomis kini berhadapan dengan EV China yang makin kompetitif di sisi harga dan semakin menarik di sisi fitur. Konsumen pun berada di posisi yang lebih leluasa untuk membandingkan, sekaligus lebih kritis dalam menentukan kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pergeseran ini menunjukkan bahwa pasar otomotif nasional tengah memasuki fase baru. Jika sebelumnya LCGC berdiri sebagai opsi paling rasional bagi banyak pembeli, kini EV asal China mulai mengambil ruang yang sama. Bebin melihat perubahan itu sebagai sinyal bahwa peta persaingan di pasar kendaraan terjangkau sedang bergerak, dan konsumen menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.