Otomotif

Perbaikan Baterai Motor Listrik: Memahami Perbedaan Harga SLA dan Lithium

0
×

Perbaikan Baterai Motor Listrik: Memahami Perbedaan Harga SLA dan Lithium

Sebarkan artikel ini
Perbaikan Baterai Motor Listrik: Perbedaan Harga SLA dan Lithium Otomotif 4 Juni 2026
Ilustrasi: Perbaikan Baterai Motor Listrik: Perbedaan Harga SLA dan Lithium

jurnalistik.co.id – Memperbaiki baterai motor listrik masih menyisakan banyak ketidakpastian bagi pemilik kendaraan, terutama terkait biaya yang perlu disiapkan. Di bengkel khusus, perbedaan jenis baterai menjadi faktor kunci karena karakter dan pendekatan perbaikannya berbeda.

Ridwan Alawi, pemilik sekaligus teknisi Bengkel Motor Listrik dan Sepeda Listrik Bogor (RI EV Maintenance), menjelaskan bahwa baterai yang dijual di pasaran umumnya dibedakan menjadi dua tipe, yakni Sealed Lead Acid (SLA) dan Lithium. Menurutnya, perbedaan keduanya membuat estimasi biaya perbaikan tidak sama.

Keterangan tersebut disampaikan Alawi kepada Kompas.com di Cilebut, Bogor, Selasa (3/6/2026). Ia menekankan bahwa ketika jenis baterai yang dihadapi berbeda, pekerjaan perbaikan juga ikut berubah.

Biaya perbaikan: kisaran SLA dan Lithium

Untuk perbaikan baterai jenis SLA, Alawi menyebut kisarannya berada di angka sekitar Rp 2 jutaan. Di sisi jasanya, biaya perbaikan berkisar Rp 150.000 sampai Rp 500.000, dengan estimasi durasi pengerjaan selama dua sampai tiga jam.

Sementara itu, untuk baterai Lithium, biaya perbaikan berada pada rentang Rp 500.000 sampai Rp 1 jutaan. Alawi juga mengaitkan angka ini dengan tingkat kerusakan yang ia sebut minim, sehingga kebutuhan perbaikan pada kondisi tersebut cenderung lebih terbatas.

Meski demikian, waktu perbaikan baterai Lithium disebut lebih lama. Alawi mengatakan hal itu terjadi karena komponennya lebih rumit, sehingga prosesnya membutuhkan penanganan yang lebih detail dibanding SLA.

Alawi juga menegaskan adanya perbandingan biaya antara keduanya. Ia menyebutkan bahwa biaya perbaikan baterai Lithium bisa dua kali lipat dari perbaikan baterai SLA.

Dalam penjelasannya, Alawi mengaitkan selisih harga perbaikan dengan tingkat kerumitan kerusakan. Ia menuturkan, semakin rumit kerusakan pada baterai Lithium, maka biaya perbaikannya akan makin mahal.

Alawi menyampaikan, “Dari harga baterainya saja bisa dua sampai tiga kali harga yang baterai SLA. Maka untuk perbaikannya sangat berbeda,” katanya.

Kompleksitas baterai Lithium memengaruhi biaya

Lebih lanjut, Alawi menerangkan bahwa perbedaan harga baterai memang menjadi salah satu alasan utama mengapa biaya perbaikan ikut berbeda. Ketika harga komponen baterai Lithium berada pada level yang lebih tinggi dibanding SLA, maka konsekuensinya terlihat pada biaya penanganan kerusakan.

Ia juga menjelaskan bahwa durasi kerja menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kompleksitas. Pada baterai Lithium, pengerjaan membutuhkan waktu lebih lama karena konfigurasi komponennya lebih rumit.

Dengan kata lain, perubahan biaya bukan hanya terkait jasa, tetapi juga menyangkut proses teknis yang harus dilakukan untuk mengatasi kondisi baterai. Hal ini sejalan dengan informasi bahwa perbaikan baterai Lithium lebih memerlukan langkah yang lebih kompleks dibanding SLA.

SLA lebih sering disarankan ganti, sedangkan Lithium masih bisa diperbaiki

Di sisi lain, Alawi menyampaikan bahwa baterai SLA lebih banyak yang sulit untuk diperbaiki. “Meski begitu, Alawi mengatakan, baterai jenis SLA lebih banyak yang sulit diperbaiki. Sebab ketika sudah tahu kerusakannya ada di baterai, biasanya disarankan memang harus langsung ganti dengan yang baru,” katanya.

Ia menautkan alasan tersebut pada karakter masa pakai baterai SLA yang relatif lebih singkat. Menurut Alawi, masa pakai baterai SLA biasanya satu tahun saja. Setelah periode tersebut, kemampuan baterai akan berkurang.

Saat baterai mulai menurun performanya atau muncul masalah yang mengarah pada kerusakan pada baterai, keputusan yang sering diambil adalah penggantian dengan unit baru. Alasan ini menjadikan SLA cenderung tidak selalu diposisikan sebagai opsi perbaikan jangka panjang.

Sebaliknya, Alawi mengatakan baterai Lithium memiliki masa pakai yang lebih lama dan masih bisa diperbaiki. Ia menyebut bentuk baterai Lithium sebagai pack dan lebih kompleks dari sisi instalasi, tetapi perbaikan tetap dimungkinkan karena masih ada beberapa komponen yang dapat ditangani.

Alawi menegaskan, “Tetapi kalau untuk baterai yang Lithium , karena dia bentuknya pack dan lebih kompleks untuk instalasinya, itu masih bisa diperbaiki karena ada beberapa komponen. Jadi misalnya ada kerusakan baterai drop atau performanya turun, kita masih bisa perbaiki sel. Hal ini karena selnya lebih banyak dari baterai aki,” katanya.

Penjelasan itu menempatkan baterai Lithium sebagai jenis yang memungkinkan penanganan berbasis komponen internal. Ketika kerusakan berbentuk penurunan performa atau kondisi yang ia sebut “drop”, teknisi masih bisa melakukan perbaikan pada bagian sel, bukan selalu langsung mengganti seluruh baterai.

Secara praktis, perbedaan ini memberi gambaran bahwa biaya perbaikan dan keputusan perbaikan atau penggantian pada motor listrik sangat ditentukan oleh tipe baterai yang dipakai, jenis kerusakan yang terjadi, serta tingkat kerumitan penanganan di bengkel.

Dengan adanya pembeda SLA dan Lithium tersebut, pemilik motor listrik diharapkan bisa menyesuaikan ekspektasi biaya. Untuk SLA, estimasi Alawi mengarah pada kisaran sekitar Rp 2 jutaan dengan pengerjaan dua sampai tiga jam, sedangkan Lithium berada pada rentang Rp 500.000 sampai Rp 1 jutaan dan umumnya membutuhkan waktu lebih lama karena komponen yang lebih rumit.

Pada akhirnya, informasi yang disampaikan Alawi menegaskan bahwa estimasi biaya tidak bisa disamaratakan. Selisih harga baterai, kompleksitas kerusakan, hingga pola rekomendasi—apakah perbaikan masih memungkinkan atau justru lebih disarankan mengganti—semuanya memengaruhi besaran bujet yang perlu disiapkan.