jurnalistik.co.id – MI London memulai kompetisi The Hundred 2026 dengan kemenangan meyakinkan atas Sunrisers Leeds pada laga pembuka putra, lewat selisih tujuh wicket. Di pertandingan yang berakhir di angka 144, Sam Curran tampil sebagai penentu dengan kontribusi all-round yang besar.
Sunrisers Leeds menutup innings mereka di 143 setelah 99 bola. Sejumlah nama MI London tampil efektif dalam fase penutupan, yang membuat perlawanan Leeds tidak punya ruang untuk bertahan lebih lama.
Mitchell Marsh menjadi top skor untuk Sunrisers Leeds dengan 41. Namun setelah Marsh keluar, ritme tim tuan rumah mulai melambat dan MI London terus menekan di setiap fase.
Richard Gleeson menyumbang angka 4-25 saat Sunrisers Leeds akhirnya tersingkir habis. Di saat yang sama, Brydon Carse mencatat 2-18, sebuah spell yang memberi harapan bagi Leeds sebelum permainan berpindah ke babak pengejaran.
Rebound singkat Leeds, tetapi tak cukup
Meskipun tertekan sejak awal, Sunrisers Leeds sempat mendapat dorongan akhir dari kontribusi Tom Alsop. Alsop mencetak 31 dari 18 bola dan menghadirkan tenaga tambahan menjelang penutupan innings.
Namun situasi tetap tidak berpihak. Harry Brook yang berperan untuk Sunrisers Leeds jatuh dengan skor delapan, sedangkan kapten tim, Zak Crawley, hanya sanggup menorehkan 13.
Dengan target 144, MI London memulai pengejaran dengan kepala dingin. Mereka membutuhkan kemenangan tujuh wicket, dan permainan berjalan mengarah ke hasil yang diinginkan sejak pasangan inti mulai membangun momentum.
Curran mengunci kemenangan, Pooran mematikan
Sam Curran tampil dominan saat MI London mulai mengejar. Ia menyelesaikan innings dengan 60* yang tak tersentuh dari 39 bola, membawa timnya tetap berada di jalur aman hingga akhir.
Curran juga menjadi figur penting dari sisi bowling. Ia mencatat 2-27 untuk MI London, menandai kontribusi yang konsisten di dua sisi permainan.
Berita Terkait
Di babak batting, Curran mendapatkan dukungan signifikan dari Nicholas Pooran. Keduanya membukukan kemitraan 93 run hanya dari 40 bola untuk wicket keempat, yang menjadi jembatan utama menuju target.
Pooran menjadi pembeda pada fase yang menentukan. Ia menorehkan 58* dari 22 bola dengan laju yang sulit ditahan, termasuk momen “mengamuk” saat membuat fifty dalam 19 bola.
Rentetan pukulan Pooran ikut mengubah arah pertandingan. Ia melesakkan lima fours dan lima sixes, lalu menjaga ritme tersebut sampai akhir tanpa kehilangan wicket.
Hasil akhir menunjukkan besarnya kendali MI London. Mereka mencapai 144-3 dalam 84 bola dan memastikan kemenangan dengan 16 bola tersisa.
Catatan lain menjelang musim 2026
MI London, yang sebelumnya dikenal sebagai Oval Invincibles sebelum ada investasi privat dalam Hundred, tercatat tampil kuat dalam beberapa musim terakhir. Mereka telah memenangkan tiga turnamen putra sebelumnya.
Kemenangan atas Sunrisers Leeds juga menegaskan pola yang tampak sejak awal kompetisi: gabungan kemampuan bowlers menahan laju lawan, lalu batting yang mampu merapikan tekanan menjadi eksekusi skor.
Dengan kemenangan pembuka ini, MI London memantapkan modal menuju seri berikutnya. Sunrisers Leeds, meski mendapat kilasan perlawanan dari Marsh dan Alsop, harus menerima kenyataan bahwa total 143 tidak cukup untuk menahan kombinasi Curran dan Pooran.
Di sisi batting Sunrisers Leeds, kontribusi yang sempat memberi napas datang dari Mitchell Marsh yang mengemas 41, disusul Tom Alsop dengan 31 dari 18 bola sebagai upaya dorongan di penghujung. Setelah rangkaian itu mereda, giliran Harry Brook yang tersingkir saat skor masih belum mampu menjauh, sementara Zak Crawley hanya menambah 13. Kondisi ini membuat Leeds kerap kehilangan wicket di momen-momen yang seharusnya dipakai untuk mengunci laju.
Bagi MI London, kemenangan ini juga terlihat dari cara mereka menyusun tekanan sejak awal permainan. Richard Gleeson membawa angka 4-25, disertai Brydon Carse yang mencatat 2-18, lalu Sam Curran menutup dengan 2-27 ketika permainan memasuki fase-fase penentu. Dengan rentang kontrol seperti itu, Leeds akhirnya hanya mampu bertahan sampai 143 pada 99 bola, sehingga MI London memulai pengejaran dengan target yang tetap realistis untuk diamankan tanpa tergesa-gesa.
Saat MI London memburu 144, pendekatan tim berjalan selaras dengan kebutuhan: target tujuh wicket dikejar melalui permainan yang rapi, bukan sekadar mengejar cepat. Nicholas Pooran tampil sebagai akselerator setelah kemitraan berjalan kencang, sementara Curran menjaga kestabilan hingga akhir dengan 60* dari 39 bola. Hasil akhirnya 144-3 dalam 84 bola sekaligus menegaskan bahwa wicket berhasil dipertahankan, sehingga keunggulan yang sudah terbentuk dapat dituntaskan sampai kemenangan dengan 16 bola tersisa.












