Internasional

Pemecatan, Kejutan Kabinet, dan Kebijakan: 24 Jam Pertama Andy Burnham sebagai Perdana Menteri

×

Pemecatan, Kejutan Kabinet, dan Kebijakan: 24 Jam Pertama Andy Burnham sebagai Perdana Menteri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sackings, cabinet surprises and policies: Andy Burnham's first 24 hours as PM

jurnalistik.co.id – Andy Burnham memulai masa singkatnya sebagai perdana menteri dengan ritme yang cepat: sejumlah perubahan jabatan terjadi dalam hitungan jam sejak Senin sore.

Langkah itu dimulai ketika Burnham menelepon sejumlah sekutu Keir Starmer untuk menyingkirkan mereka dari kabinet. Tak lama setelah panggilan tersebut, John Healey mendapat sinyal untuk segera melapor ke Number 10.

Mengenakan setelan jas dan salah satu dasi merahnya, mantan menteri pertahanan itu meninggalkan kompleks parlemen sendirian lewat pintu belakang di samping sebuah pub. Saat melangkah menyusuri Whitehall, ia mengatakan, "I’m on my way to a meeting," dengan senyum tipis.

Pengangkatan Healey sebagai kanselir merupakan kejutan besar bagi dirinya sendiri, rekan-rekan di Partai Buruh, bahkan bagi publik. Situasi itu menjadi salah satu momen penting di tengah rangkaian pengumuman cepat dari pemerintahan baru.

Kecepatan tersebut tampak misalnya pada kebijakan pemotongan PPN (VAT) untuk tagihan energi yang diumumkan pada hari yang sama. Partai Konservatif menyambut langkah itu, tetapi mempertanyakan pendanaannya.

Jika dilihat ke belakang, penunjukan itu juga mengulang dinamika yang baru terjadi. Lima minggu sebelumnya, Healey melemahkan cengkeraman Starmer di Downing Street dengan mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan, memantik perombakan karena perselisihan terkait belanja militer.

Tak lama kemudian, ia akan kembali duduk di meja kabinet bersama dua nama lain yang sebelumnya juga mengundurkan diri dan kemudian masuk ke lingkaran baru: Wes Streeting sebagai menteri pertahanan yang baru, serta Miatta Fahnbulleh sebagai menteri energi yang baru.

Apakah ketiganya diberi penghargaan karena dianggap “membelot” dan mempercepat jalan Burnham menuju kantor? Ada kemungkinan demikian, meski ketiganya juga dipandang sebagai operator yang terampil dan mampu menangani peran-peran yang rumit.

Kejutan di posisi kunci dan respons di dalam negara Dari sudut pandang Departemen Pertahanan, kenaikan Healey ke posisi kedua terpenting di pemerintahan disambut dengan antusiasme. Sejumlah pejabat senior di kementerian itu merasa lega karena di Treasury kini ada figur yang dinilai berkomitmen mendorong kenaikan belanja militer.

Satu sumber internal mengatakan, "It’s brilliant for us,".

Namun, sumber yang sama juga mengaku ada sisi lain dari perasaan mereka. Mereka menyatakan lega karena Healey tidak kembali ke Departemen Pertahanan. "We were dreading him coming back", ujar sumber tersebut. "He’s a difficult person".

Bahkan di kalangan Konservatif, ada yang menilai pengangkatan itu cerdas. Salah satu mantan menteri kabinet Tory menjelaskan, "For a number of reasons", termasuk bahwa Healey dinilai tidak mudah diserang: "He’s not Ed Miliband, he’s hard to attack, and he’s Treasury-literate."

Perjalanan Healey sebelumnya juga memberikan konteks. Ia pernah menjadi menteri di departemen tersebut selama lima tahun pada masa pemerintahan Tony Blair.

Menjaga loyalitas anggota parlemen dan meredam gesekan Di sisi Burnham, ada tantangan internal yang tidak kalah menentukan: bagaimana menjaga loyalitas anggota parlemen Buruh, termasuk mereka yang baru saja disingkirkan dari jabatan menteri. Tugas itu menjadi tanggung jawab Anneliese Midgeley, yang berstatus sekutu Burnham.

Namun, tanda-tanda ketidakseragaman muncul di ruang publik. Pernyataan Darren Jones yang secara terang-terangan mengkritik kebijakan tagihan energi Burnham dipandang sebagai sinyal bahwa tidak semua orang akan “bermain rapi”.

Seorang anggota Parlemen Buruh mengklaim mereka yang disingkirkan bisa dibagi menjadi tiga kelompok. "Some went because of their politics, others just weren’t good, and then there are those disliked in the parliamentary Labour party," katanya.

Dengan susunan itu, perombakan cepat Burnham berpotensi memicu dinamika di internal partai. Di luar kabinet, banyak percakapan di Westminster juga mulai mengarah pada kemungkinan Burnham memanfaatkan pantulan (bounce) dalam jajak pendapat untuk menyerukan pemilu umum sela.

Nigel Farage mendukung langkah tersebut dan berargumen pemilu cepat diperlukan karena Burnham dinilai belum memiliki mandat. Meski demikian, ada kekhawatiran di tubuh Reform agar langkah yang terlalu tergesa-gesa justru membuat Farage kehilangan momen terbaiknya untuk menjadi perdana menteri.

Alasannya berkaitan dengan agenda Reform yang tidak sederhana: Farage menghadapi pemilihan sela sekaligus pertanyaan tentang keuangan partainya. Di tengah situasi itu, seorang sumber Reform mengatakan, "We are really worried about a snap election," seraya tersenyum. "Which is why we’re calling for a snap election."

Perhitungan politik dan taruhannya Terlepas dari perbedaan kepentingan, sejumlah rencana kini disiapkan jika pemilu sela benar-benar dipanggil. Seorang pembantu senior dari Liberal Demokrat menyatakan, "We’ve started preparing,".

Burnham, menurut penilaian, tampak menolak gagasan untuk langsung menuju ke pemilu. Langkah itu bisa mengundang kemarahan beberapa anggota parlemen Buruh karena mereka berisiko kehilangan kursi.

Namun, opsi pemilu sela juga memberi perdana menteri baru kesempatan memperoleh mandat baru untuk kebijakan yang lebih radikal sekaligus mengamankan posisi untuk masa jabatan penuh lima tahun.

Seorang mantan menteri kabinet dari Konservatif memperingatkan adanya tantangan ekonomi di depan. "There is economic pain coming down the horizon", katanya. Menurutnya, semuanya bergantung pada seberapa jauh Burnham mampu melangkah sebelum rasa sakit ekonomi itu memuncak.

Mantan pejabat itu menambahkan, "And it’s about how far he [Burnham] gets ahead of it. He faces a choice between going for an election, and a slow decline as we saw with Gordon Brown."

Pada 2007, Brown dijuluki "bottler Brown" setelah sempat mempertimbangkan pemilu sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya. Meski begitu, Brown pada akhirnya bisa tiba di Number 10 dengan kombinasi kesabaran, kehati-hatian, kelicikan, dan ketegasan.

Sementara itu, lonjakan Burnham dinilai jauh lebih dipacu oleh satu taruhan besar secara elektoral. Setelah sukses di Makerfield dan kemudian dalam kontes kepemimpinan Partai Buruh, pertanyaan berikutnya pun muncul: apakah Burnham akan kembali melempar dadu yang sama?