Peristiwa

Gempa M 7,7 Bikin Ruang Tunggu Pelabuhan Maumere Ambruk, Alesandra Lolos dengan Tas Menudungi Kepala

×

Gempa M 7,7 Bikin Ruang Tunggu Pelabuhan Maumere Ambruk, Alesandra Lolos dengan Tas Menudungi Kepala

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gempa M 7,7 Robohkan Ruang Tunggu Pelabuhan Maumere, Ini Kisah Alesandra Selamat dengan Tas di Kepala

jurnalistik.co.id – Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) membuat ruang tunggu Pelabuhan Laurens Say Maumere, Kabupaten Sikka, roboh.

Di tengah kejadian itu, Alesandra—calon penumpang KM Bukit Siguntang—berada di dalam ruang tunggu saat bangunan mulai runtuh.

Alesandra berhasil menyelamatkan diri. Ia melindungi kepala dengan tas ransel, lalu keluar dari bangunan bersama penumpang lain, Anggi.

Sementara itu, Maria Diana Meliana yang merupakan ibu Anggi ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan bangunan.

Menurut Alesandra, ia berada di ruang tunggu Pelabuhan Laurens Say bersama lima kerabatnya. Mereka datang ke pelabuhan untuk berangkat menuju Kupang menggunakan KM Bukit Siguntang.

Kapal tersebut tiba di pelabuhan sekitar pukul 06.00 Wita. Saat suasana masih menunggu keberangkatan, gempa terjadi dan langsung mengubah kondisi ruang tunggu.

Ketika gempa berlangsung, penumpang dan warga yang berada di dalam ruang tunggu berusaha keluar melalui pintu terminal. Namun, Alesandra mengatakan akses pintu yang sempit membuat orang-orang saling berdesakan saat melakukan evakuasi.

Dalam proses keluar, sejumlah orang bahkan terjatuh ketika berupaya menyelamatkan diri. Alesandra menggambarkan kepanikan yang muncul begitu gempa terasa.

“Kami tiba-tiba dengar orang teriak gempa-gempa jadi kami lari berusaha selamatkan diri masing-masing,” ujar Alesandra, dikutip dari Pos Kupang, Minggu (16/8/2026).

Di tengah dorongan dan kekacauan, Alesandra menggunakan tas ransel untuk melindungi kepalanya dari reruntuhan. Langkah itu membantunya bergerak dalam kondisi yang tidak mudah.

Saat mencoba keluar, Alesandra melihat Anggi terjatuh di depannya. Ia kemudian menarik Anggi agar bisa segera keluar dari ruang tunggu.

Setelah berhasil berada di luar bangunan, Alesandra dan Anggi saling berpelukan dan menangis. Keduanya masih khawatir gempa susulan akan kembali terjadi.

Kejadian tersebut menempatkan Alesandra pada momen yang penuh ketegangan sejak awal gempa hingga proses evakuasi selesai. Ketika reruntuhan berhenti bergerak, fokus kemudian beralih pada upaya menyelamatkan diri dan memastikan keselamatan orang-orang di sekitar.

Runtuhnya ruang tunggu Pelabuhan Laurens Say Maumere pun menjadi gambaran nyata dampak gempa M 7,7 terhadap aktivitas pelabuhan, terutama bagi penumpang yang saat itu sedang menunggu keberangkatan.

Dalam penuturan Alesandra, suasana di Pelabuhan Laurens Say Maumere saat itu masih berada pada fase menunggu keberangkatan KM Bukit Siguntang menuju Kupang. Beberapa penumpang dan kerabat yang berada di ruang tunggu memilih tetap bertahan di tempat mereka sebelum sinyal keberangkatan, hingga tiba-tiba getaran gempa mengubah keadaan dalam waktu singkat.

Begitu gempa melanda, gerak orang-orang langsung berubah dari rutinitas menunggu menjadi upaya penyelamatan. Alesandra menyebut akses pintu terminal yang sempit membuat arus keluar tidak leluasa. Kondisi tersebut memicu desakan antarpengunjung, sehingga sejumlah orang harus menyesuaikan langkah sambil berupaya menjaga jarak aman dari bagian bangunan yang mulai goyah.

Di tengah keramaian evakuasi, kepanikan terlihat dari reaksi orang-orang yang berteriak dan berlarian untuk keluar. Alesandra berusaha tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga menata langkah agar terlindungi dari kemungkinan jatuhan reruntuhan. Ia menggunakan tas ransel untuk menutup bagian kepala saat bergerak melewati area yang terasa tidak stabil.

Setelah berhasil keluar dari ruang tunggu yang roboh, ia mendapati Anggi terjatuh di depan posisinya, lalu segera menarik Anggi agar bisa menyusul ke luar. Keduanya kemudian saling memeluk dan menangis, sementara kekhawatiran akan kemungkinan gempa susulan tetap menghantui. Di sisi lain, tragedi ini juga menegaskan besarnya dampak gempa, terutama ketika Maria Diana Meliana disebut ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan bangunan.