jurnalistik.co.id – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur dan memicu longsor yang menimbun badan Jalan Trans Flores di kawasan Nangaba, Kabupaten Ende. Akibatnya, jalur yang menghubungkan Ende dan Bajawa tidak bisa dilalui kendaraan dari kedua arah.
Peristiwa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Getaran gempa juga disertai pergerakan lanjutan berupa gempa susulan yang masih berlangsung setelah kejadian utama.
Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat lintang selatan dan 121,92 derajat bujur timur. Episentrum dilaporkan berjarak sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.
Di Kabupaten Ende, longsor terjadi dan menimbun ruas jalan Trans Flores—Ende–Bajawa—sehingga akses wilayah terdampak lumpuh. Kondisi ini membuat kendaraan dari arah Barai menuju Nangaba maupun sebaliknya tidak dapat melintas.
Warga setempat menyebutkan material longsor menutup badan jalan hingga mengganggu kelancaran perjalanan. Ali, warga Kabupaten Ende, mengatakan timbunan longsor membuat akses “putus total” pada rute Barai–Nangaba.
“Arah Barai-Nangaba Ende akses putus total. Timbunan material longsor menutupi badan jalan. Semoga dinas atau pihak terkait segera memperbaikinya. Terima kasih,” ujar Ali, dilaporkan pada Sabtu (15/8/2026).
Selain keterangan warga, informasi yang dihimpun menyebut longsor terjadi di kilometer 17 arah timur Kota Ende. Titik itu menjadi salah satu titik penutupan yang membuat kendaraan baik dari Ende menuju Bajawa maupun dari Bajawa menuju Ende mengalami hambatan yang sama.
Dengan badan jalan yang tertutup timbunan, arus lalu lintas antarkota tidak dapat melewati ruas yang terdampak. Penutupan jalur tersebut menjadikan perjalanan darat pada lintasan Ende–Bajawa membutuhkan penyesuaian karena konektivitas terganggu.
Info gempa susulan dari BMKG
Berita Terkait
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menyampaikan bahwa aktivitas gempa masih berlanjut setelah gempa utama. Hingga sekitar pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat sekitar 54 gempa susulan.
Menurut Arief, dari jumlah tersebut, satu gempa susulan dirasakan oleh masyarakat. Ia juga menyebut magnitudo gempa susulan terbesar mencapai M 6,2.
“Iya, satu yang untuk gempa dan masih susulan ya, gempa susulannya itu satu yang dirasakan. Satu yang dirasakan. Jadi. Sekarang ini sudah 54 gempa susulan. Sampai jam sekarang, sampai jam 06.59 atau jam 07.00 WIB,” kata Arief saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa setelah guncangan awal, aktivitas seismik tetap terpantau dalam bentuk gempa susulan. Informasi waktu pencatatan dan jumlah kejadian menjadi dasar penilaian perkembangan aktivitas gempa pada periode awal.
Tsunami terpantau melalui alat pemantau
Selain aktivitas gempa susulan, BMKG juga mendeteksi adanya tsunami melalui alat pemantau yang berada di sejumlah lokasi. Deteksi ini menjadi salah satu perhatian penting setelah gempa terjadi, karena berkaitan dengan potensi gelombang yang mungkin muncul di wilayah tertentu.
Meski demikian, rincian lanjutan mengenai dampak atau hasil pemantauan lanjutan tidak disampaikan pada bagian informasi yang tersedia. Yang disebutkan adalah adanya deteksi tsunami berdasarkan pembacaan instrumen pemantau.
Rentetan kejadian—gempa utama, gempa susulan, dan deteksi tsunami—berlangsung dalam rentang waktu yang berdekatan. Sementara itu, di sisi darat, longsor yang menimbun ruas Trans Flores menjadi faktor langsung yang membuat mobilitas Ende–Bajawa berhenti total.
Warga dan pihak terkait di lokasi dihadapkan pada kebutuhan penanganan di titik longsor agar akses dapat pulih kembali. Penutupan jalur akibat timbunan material menjadikan upaya pembersihan dan perbaikan ruas jalan sebagai langkah krusial untuk mengembalikan keterhubungan antarkota.












