Peristiwa

Karhutla di Lahan Gambut Muaro Jambi Semakin Luas, Lebih dari 50 Hektare Belum Padam karena Angin Kencang

×

Karhutla di Lahan Gambut Muaro Jambi Semakin Luas, Lebih dari 50 Hektare Belum Padam karena Angin Kencang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Karhutla Gambut di Muaro Jambi Meluas Lebih dari 50 Hektare, Water Bombing Terkendala Angin Kencang

jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Muaro Jambi belum berhasil dipadamkan meski pemadaman berlangsung tiga hari. Di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, luas area yang terbakar diperkirakan sudah melampaui 50 hektare.

Upaya pemadaman dilakukan dari jalur darat sekaligus operasi udara. Namun, proses di lapangan masih terhambat angin kencang, akses menuju lokasi yang sulit, serta terbatasnya ketersediaan air untuk mendukung pemadaman.

Gubernur Jambi Al Haris meninjau lokasi kejadian pada Minggu (9/8/2026) siang. Dalam kunjungannya, ia menyampaikan bahwa tim gabungan terus berupaya mengendalikan titik api yang belum sepenuhnya padam.

“Perkiraan kami lebih 50 hektare. Teman-teman dari BPBD, TNI-Polri, relawan Peduli Api sudah berusaha memadamkan api lebih dari tiga hari,” kata Al Haris.

Selain lamanya waktu kejadian, karakteristik lahan gambut menjadi faktor yang membuat pemadaman tak berjalan cepat. Api pada gambut dapat menjalar di bawah permukaan, sehingga tidak semua titik panas terlihat dari pandangan atas.

Kondisi tersebut membuat kebakaran berpotensi kembali aktif meski permukaan tampak sudah lebih tenang. Dengan kata lain, padam di permukaan tidak selalu berarti api benar-benar berhenti di lapisan yang lebih dalam.

“Lahan gambut, sulit sekali untuk dipadamkan. Akses ke sini juga sulit, air sulit, angin yang kencang luar biasa,” ujar Al Haris.

Operasi pemadaman dari udara dilakukan menggunakan helikopter water bombing. Pesawat menjatuhkan air ke sejumlah titik kebakaran, dengan tujuan menekan intensitas api dan memperkecil ruang perambatan.

Meski demikian, angin kencang menjadi kendala utama dalam koordinasi di udara. Tiupan angin dapat memengaruhi penyebaran air yang dijatuhkan sekaligus membantu api menjalar ke area lain yang belum tersentuh pemadaman.

Di saat yang sama, pemadaman juga dilakukan dari jalur darat oleh personel gabungan. Mereka berasal dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, RPK WKS, RHM, Pesona, dan MKI, yang bekerja mengupayakan pengendalian api di titik-titik yang masih menyala.

Al Haris mengapresiasi upaya seluruh personel yang telah bekerja selama beberapa hari untuk mengendalikan karhutla. Ia menilai kerja lapangan membutuhkan ketahanan dan penyesuaian, terutama karena medan yang menantang serta keterbatasan sumber air menyulitkan langkah pemadaman.

Dengan hambatan yang masih berlangsung, fokus operasi diarahkan pada pengendalian perambatan dan pencegahan kebakaran meluas ke lokasi lain. Tim di lapangan terus berupaya menekan api agar proses pemadaman bisa berakhir tuntas, terutama pada area gambut yang rentan menyimpan bara di bawah permukaan.

Dalam situasi seperti ini, proses pengendalian tidak berhenti pada pemadaman terlihat di permukaan. Karena api di lahan gambut dapat merambat di lapisan yang lebih dalam, tim perlu memastikan penekanan dilakukan sampai area yang berpotensi masih menyimpan bara benar-benar terhambat penyebarannya.

Koordinasi pemadaman juga menuntut penyesuaian terus-menerus, terutama ketika operasi udara dan darat berjalan bersamaan. Helikopter water bombing dipakai untuk menekan intensitas dan memperkecil peluang api meluas, sementara personel di jalur darat berupaya mendekati titik-titik yang masih menyala dengan pola kerja yang mengikuti kondisi lapangan.

Al Haris menegaskan bahwa medan yang menantang, termasuk akses menuju lokasi yang sulit serta keterbatasan air, menjadi alasan mengapa pemadaman belum bisa selesai cepat meskipun telah berlangsung tiga hari. Ia juga mengingatkan bahwa angin kencang berpengaruh besar terhadap kelancaran kerja, karena dapat memengaruhi penyebaran dan membuat upaya pemadaman harus dilakukan secara lebih hati-hati agar tidak ada titik yang kembali aktif.