jurnalistik.co.id – Perselisihan di Yr Wyddfa, gunung tertinggi di Wales yang juga dikenal sebagai Snowdon, memunculkan perdebatan tajam antara pengunjung yang mengantri dan mereka yang mencoba melewati antrean demi tiba lebih cepat di puncak.
Di tengah cuaca panas yang memicu lonjakan wisatawan musim panas, antre panjang menjadi pemandangan yang makin sering terlihat. Sejumlah orang dilaporkan menunggu lebih dari satu jam sebelum dapat mencapai puncak setinggi 1.085 meter.
Gunung ini memang menjadi tujuan yang ramai, sehingga titik akhir perjalanan sering berubah menjadi ruang terbatas bagi wisatawan yang ingin mengambil foto dan video di lokasi penanda puncak. Dalam kondisi seperti itu, ada yang merasa antrian adalah kebutuhan, sementara pihak lain menilai antrean justru menghambat perjalanan.
Di media sosial, beredar video yang memperlihatkan adu argumen antara “queue-jumpers” atau pelompatan antrean dan pengunjung yang menunggu giliran. Mereka sama-sama ingin menyentuh lempeng logam yang menandai puncak, atau area yang dikenal sebagai trig point, untuk melengkapi momen di puncak.
Salah satu video yang baru-baru ini muncul menyoroti Marc Screeton dari Manchester. Dalam tayangan tersebut, Screeton didatangi dan diikuti ejekan saat ia melewati antrean, lalu melontarkan kalimat: “Imagine queuing on a mountain? No chance.”
Namun, tidak semua pengunjung sepakat dengan cara pandang yang menolak antrian. Sebagian pihak berpendapat bahwa mengantri justru diperlukan, termasuk demi alasan keselamatan saat arus pendaki meningkat.
Otoritas Taman Nasional Eryri menyatakan bahwa kebijakan di puncak masih mengandalkan mekanisme “self-policing”. Artinya, pengunjung diharapkan mengatur diri sendiri tanpa intervensi resmi yang berlebihan ketika situasi antrean memanas.
Seiring makin meningkatnya popularitas Yr Wyddfa di Taman Nasional Eryri, kemacetan di sejumlah titik juga makin terasa. Antrean kini lazim terlihat di tangga batu menuju area lempeng logam atau trig point, tempat banyak orang berkumpul untuk foto dan video.
Di bulan Mei, kerumunan itu juga diwarnai kejadian serupa. Dua pendaki amal yang menggalang dana untuk penyakit motor neurone disease (MND) justru mendapat ejekan setelah mereka melompati antrean saat berusaha mencapai puncak.
BBC Wales melaporkan bahwa para pejalan kaki di gunung memiliki pandangan yang beragam terhadap mereka yang tidak mengikuti antrean. Lucy Taylor menilai pilihan tersebut berisiko, dengan mengatakan: “I think you should queue because it’s really quite dangerous and everyone’s trying to get up there – it’s just not safe.”
Menurut Taylor, kondisi di sekitar puncak membuat aliran orang lebih sulit dikendalikan ketika sebagian pendaki memilih bergerak lebih dulu. Ia menekankan bahwa tujuan yang sama di area sempit tidak otomatis membuat semua orang bisa bergerak serempak tanpa aturan.
Sementara itu, Tina Millard dari West Bromwich menyatakan ia tidak setuju jika antrean terasa sebagai kewajiban yang harus dipenuhi semua orang. Millard mengatakan: “I don’t think that you should have to queue. “It’s a mountain, you should just be able to go up and that’s it. “We’re not at Alton Towers for a ride. It’s a mountain, it’s for everyone,” she said.”
Ia membandingkan suasana gunung dengan wahana hiburan. Bagi Millard, Yr Wyddfa seharusnya memberi ruang agar pendaki dapat naik dengan wajar, bukan sekadar menunggu antre panjang seperti di atraksi tertentu.
Tak jauh berbeda, Carl Lynch dari Dunstable, Bedfordshire juga menyampaikan pandangannya secara tegas. Ia menyatakan: “It should be: ‘go up there, two minutes and then move on for everyone else’. Simple as that.”
Bagi Lynch, pembagian waktu yang singkat dan perpindahan yang cepat akan membuat ruang puncak lebih adil bagi banyak pengunjung. Intinya, tidak menahan giliran yang dibutuhkan pendaki berikutnya.
Berita Terkait
Selain persoalan antrean, para petugas taman nasional juga mengingatkan pengunjung agar tetap mengikuti country code selama periode cuaca panas. Pesan yang disampaikan mencakup kebiasaan meninggalkan gerbang sesuai kondisi awal, membawa pulang sampah, serta mengurangi risiko kebakaran hutan di area terbuka.
Dalam konteks yang sama, petugas juga mendorong pengunjung untuk menunggu giliran ketika mengantri. Imbauan ini muncul karena periode ramai dapat meningkatkan kerumunan dan menambah potensi gangguan di jalur menuju puncak.
Alun Jones, area warden dari Eryri National Park Authority, turut menyerukan agar siapa pun yang ingin mencapai trig point bersikap penuh pertimbangan. Ia menyampaikan pesan: “considerate and don’t skip the queue”.
Menurut pandangan yang dibawa dalam laporan tersebut, antrian seringkali bukan sekadar aturan teknis, melainkan “unwritten and unspoken” sebagai kontrak sosial yang tidak selalu tertulis. Pemikiran itu diperjelas melalui penjelasan Johann Go, asisten profesor etika di University College London.
Johann Go menjelaskan bahwa permasalahan bukan semata-mata soal kewajiban mengantri. Ia mengatakan: “So it’s not that I have to queue, but given that others are already restraining themselves, if I were to then jump the queue, I would be saying ‘to hell with them’ and that my time is more valuable.”
Dengan kata lain, ketika orang lain menahan diri demi menjaga ketertiban, tindakan melompati antrean dianggap mengirim pesan bahwa waktu pribadi lebih penting daripada kenyamanan dan penertiban bersama.
Perdebatan antrean juga pernah menyentuh pengalaman pendaki amal yang berada di puncak pada bulan Mei. Jamie Richardson, 32, dan Richard Thiedeman, 34, dari Lincolnshire mendaki Yr Wyddfa sebagai bagian dari Three Peaks Challenge untuk menggalang dana bagi seorang teman yang hidup dengan MND.
Richardson menceritakan bahwa ia mendapat ejekan dari kerumunan saat menapaki lokasi trig point untuk menyelesaikan tantangan amal. Ia mengungkapkan: “I was getting booed and then there was a gentleman who was at the top, who had just had his photo taken and he physically tried to stop me.”
Richardson menambahkan bahwa setelah menyentuh titik puncak, ia mendengar seseorang mengatakan: “you should be ashamed of yourself”.
Ia juga menegaskan bahwa baginya tidak ada penegakan yang resmi. Richardson mengatakan: “There’s no policing of it at all, it is purely free will, if you want to queue you can.”
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kebiasaan mengantri banyak dipengaruhi tradisi sosial. Richardson menuturkan: “The queuing, that is just purely down to British culture traditions.”
Di luar cerita individu, sebagian orang di media sosial menggambarkan suasana di gunung pada akhir pekan libur bank Mei sebagai seperti festival. Mereka menyebut adanya nuansa “carnival” yang muncul karena jumlah pengunjung yang tinggi.
Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, juru bicara Eryri National Park Authority menyatakan tidak ada rencana untuk ikut campur dalam sengketa terkait antrean pendaki di puncak. Ia mengatakan: “no plans to intervene in a dispute over hikers queuing at the top of Yr Wyddfa”.
Juru bicara itu juga menyebut skala kunjungan tahunan. Ia menambahkan: “There are three quarters of a million people summitting annually, so queues are likely to be expected in peak times.”
Menurut informasi yang sama, pihak otoritas tidak berencana menerapkan langkah baru pada tahun ini. Namun, persoalan tersebut akan dibahas pada pertemuan akhir musim kunjungan yang dijadwalkan pada awal musim gugur.












