Peristiwa

Keriuhan Lomba 17-an di PLBN Skouw, Perbatasan RI–Papua Nugini

×

Keriuhan Lomba 17-an di PLBN Skouw, Perbatasan RI–Papua Nugini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemeriahan Lomba 17-an di PLBN Skouw, Perbatasan RI-Papua Nugini

jurnalistik.co.id – Seusai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, suasana di PLBN Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, tidak langsung reda pada Senin (17/8/2026).

Warga dan peserta upacara berangsur pindah ke sisi depan PLBN. Di dekat gerbang masuk, hamparan lahan terbuka dengan rerumputan hijau mulai ramai dipenuhi orang dari berbagai usia.

Anak-anak terlihat berkumpul di tengah area lapang, sementara orang dewasa memilih berkelompok di sekeliling mereka. Sebagian lainnya memilih duduk di atas rumput sambil ikut menikmati suasana perayaan yang terus bergulir.

Di tengah keriuhan itu, para pekerja PLBN yang mengenakan kaus olahraga merah dengan hiasan motif adat Papua juga tampak sibuk. Mereka ikut terlibat sebagai panitia dalam sejumlah perlombaan yang digelar untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan.

Kegiatan perlombaan pertama dimulai tak lama setelah upacara. Salah satu permainan yang menarik perhatian adalah makan kerupuk, dengan suasana penuh gelak saat peserta mencoba menahan tawa dan fokus pada tantangan. “Dengan nasi bisa kah?” celetuk salah satu anak yang mengikuti lomba.

Selain makan kerupuk, rangkaian lomba untuk anak-anak juga mencakup lari karung dan balap kelereng. Urutan permainan dibuat berlanjut agar anak-anak tetap terlibat, sementara kerumunan penonton terus berpindah mengikuti arena yang baru dibuka.

Untuk memeriahkan seluruh lapisan masyarakat, lomba tidak berhenti pada anak-anak saja. Ibu-ibu turut mengambil bagian dengan permainan mengisi air menggunakan corong, yang memancing konsentrasi dan kerja sama saat peserta berlomba menyiapkan langkah yang rapi.

Menurut Kepala PLBN Skouw, Ni Luh Puspita Ningsih, sejumlah perlombaan memang disiapkan setelah upacara selesai. Ia menyebut ada lomba untuk anak-anak hingga panjat pinang, agar suasana tetap hidup setelah prosesi resmi.

“Nah, ini semuanya sebenarnya atas inisiatif juga dari masyarakat di sekitar sini, terutama pedagang pasar kan paling banyak tuh. Jadi, supaya ramai, kita mengadakan lomba khusus untuk anak-anak, kemudian panjat pinang, yang hadiahnya di-support oleh para pedagang pasar,” ungkap dia kepada Kompas.com, Senin (17/8/2026).

Keterlibatan pedagang menjadi salah satu wujud dukungan masyarakat sekitar terhadap perayaan di PLBN Skouw. Dengan hadiah yang disiapkan, lomba yang digelar memperoleh daya tarik lebih bagi warga yang hadir langsung menyaksikan.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh La Ode Hadirin, warga sekaligus pedagang di pasar PLBN Skouw, yang menyatakan para pedagang turut membantu menyediakan hadiah untuk perlombaan. Partisipasi semacam ini membuat perayaan kemerdekaan terasa lebih dekat dengan aktivitas keseharian warga di sekitar perbatasan.

Ni Luh Puspita Ningsih menambahkan bahwa ini merupakan momen pertama kali acara perlombaan berlangsung di dalam area PLBN Skouw. “Karena itu juga permintaan dari masyarakat. Maksudnya supaya jangan nanti tersebar-sebar terus enggak ada yang lihat gitu kan. Kalau di PLBN semuanya terpusat di sini, kita semua bisa di sini sama-sama gitu,” jelas dia.

Penjelasan tersebut sejalan dengan kondisi lapangan saat kegiatan berlangsung: orang-orang berkumpul pada satu titik yang sama, sehingga perhatian publik tidak terpecah. Akibatnya, PLBN Skouw menjadi pusat perayaan yang memungkinkan warga bersama-sama merasakan atmosfer kemerdekaan secara langsung.

Dengan berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak hingga ibu-ibu, ditambah dukungan hadiah dari pedagang pasar, kemeriahan lomba 17-an di perbatasan RI–Papua Nugini bertahan lebih lama, menjadikan suasana hari kemerdekaan tetap terasa hangat dan ramai di lingkungan PLBN Skouw.

Seiring berjalannya waktu setelah upacara, keramaian di PLBN Skouw terus bergerak mengikuti giliran permainan. Penonton berpindah dari satu area arena ke arena berikutnya, sementara anak-anak tetap menunggu instruksi lomba dengan antusias. Di balik suasana santai itu, para panitia tampak mengatur alur kegiatan agar tiap permainan bisa dimulai tepat waktu, termasuk ketika peserta berganti kelompok dan mulai mencoba tantangan baru.

Dukungan hadiah yang disiapkan pedagang sekitar juga membuat suasana lomba semakin terasa sebagai kegiatan bersama, bukan sekadar agenda formal setelah prosesi resmi. Dengan adanya hadiah untuk perlombaan anak-anak dan rangkaian yang berlanjut hingga permainan seperti panjat pinang, warga yang hadir memiliki alasan untuk tetap bertahan dan menyaksikan hingga tahap berikutnya. Perayaan pun berlangsung lebih lama dan tetap merangkul berbagai lapisan masyarakat di lingkungan perbatasan RI–Papua Nugini.