jurnalistik.co.id – Kemarau yang melanda Bengkulu sejak sebulan terakhir memicu masalah lingkungan di beberapa aliran sungai. Warga melaporkan air berubah gelap, muncul bau yang menyengat, serta ditemukan banyak ikan mati.
Selain memengaruhi kualitas air, fenomena ini juga beriringan dengan krisis air bersih. Di Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, kemarau membuat sumur warga tidak menghasilkan air bersih sehingga sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) bergantung pada pembelian air untuk kebutuhan harian.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah warga termasuk kaum bapak diketahui tetap beraktivitas mandi di Sungai Selali yang tercemar limbah pabrik kelapa sawit. Namun, tidak hanya soal bau dan perubahan warna air yang dikeluhkan, temuan ikan mati juga menjadi bagian dari laporan berulang yang muncul di beberapa lokasi.
Hingga kini, warga masih belum mendapat penjelasan resmi mengenai penyebab pasti perubahan warna, bau, dan kematian ikan. Umumnya, sungai-sungai bermasalah itu berada dekat aktivitas industri.
Kasus di Sungai Selali, Bengkulu Selatan
Pada akhir Juli 2026, warga di Bengkulu Selatan mulai khawatir karena keringnya sumur serta adanya kandungan minyak yang ditemukan pada air sumur. Kekhawatiran itu menguat setelah warga mencari ikan dan mandi di Sungai Selali, lalu mengalami gatal pada kulit.
Di lokasi yang sama, warga juga menemukan sejumlah ikan mati. Sejumlah pihak kemudian mengaitkan kemunculan masalah ini dengan aktivitas pabrik kelapa sawit, khususnya milik PT. Sinar Bengkulu Selatan (SBS).
Protes warga yang viral di media massa dan media sosial mendorong pemerintah daerah Bengkulu Selatan mengambil langkah cepat. Pemda melakukan uji sampel di Laboratorium Lingkungan Hidup Kota Bengkulu pada 23 Juli 2026.
Hasil pengujian terbit pada 4 Agustus 2026. Warga kemudian merujuk pada temuan tersebut untuk menyimpulkan bahwa Sungai Selali terpapar limbah.
Manajer PT SBS, Achmad H. Simaremare, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya menyerahkan persoalan ke pemerintah daerah Bengkulu Selatan melalui tim gabungan. “Persoalan ini sudah kami serahkan ke Pemlab Bengkulu Selatan, apapun hasilnya sudah barang tentu kami terima dengan segala konsekuensi,” ujar Achmad H. Simaremare.
Temuan ikan mati di Sungai Pering, Kabupaten Seluma
Berita Terkait
Di Kabupaten Seluma, kematian ikan juga dilaporkan terjadi secara mendadak di Sungai Pering. Temuan ini muncul pada Jumat (24/7/2026), di Desa Pering Baru.
Kepala Desa Pering Baru, Husen, membenarkan bahwa ribuan ikan mati merugikan warga. Menurutnya, ikan-ikan di sungai tersebut selama ini menjadi salah satu penghasilan masyarakat, baik untuk dijual maupun untuk dikonsumsi.
Husen mengungkapkan, “Kematian ikan sangat merugikan masyarakat karena sungai tersebut salah satu sumber penghasilan warga terutama ikannya untuk dijual dan dikonsumsi masyarakat. Sekarang ikan sudah habis, sungai sudah rusak,”
Husen juga menjelaskan bahwa kematian ikan secara mendadak seperti keracunan ini baru terjadi pada periode tersebut. Sebelumnya, belum pernah ditemukan ikan mati dalam kondisi serupa.
Di sekitar lokasi desa, memang terdapat satu perusahaan tambak udang dan pabrik kelapa sawit. Namun Husen menegaskan ia tidak bermaksud menuduh penyebab kematian ikan berasal dari limbah tambak udang atau dari pabrik kelapa sawit.
Hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Seluma menyebutkan bahwa sungai tidak tercemar. Meski demikian, kematian ikan diduga terkait faktor cuaca akibat kemarau.
Perubahan warna air Sungai Bengkulu
Selain Seluma dan Bengkulu Selatan, laporan keanehan juga datang dari Sungai Bengkulu yang melintasi Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu. Warga melaporkan air sungai mendadak berubah menjadi hitam dan berbau.
Perubahan tersebut diketahui dari warga yang biasa memancing di sungai. Salah satu warga menyatakan, “Kami biasa memancing di sungai itu, namun aneh airnya berubah hitam dan berbau. Jadi kami batal memancing,” ungkap warga.
Perubahan warna air Sungai Bengkulu sempat menjadi perbincangan di media sosial. Namun sampai berita ini disusun, belum ada penjelasan dari pemerintah mengenai penyebab perubahan warna air yang dialami warga.
Dalam rangkaian laporan itu, kemarau kembali menjadi titik pangkal yang dirasakan warga karena berbarengan dengan krisis air, perubahan kualitas air, hingga temuan ikan mati. Tanpa keterangan resmi yang menyeluruh, warga berharap penanganan dan investigasi dapat dilakukan agar penyebab serta langkah pencegahannya bisa dipastikan.












