Peristiwa

Riset baru: angka kematian mantan penerima care usia muda hampir 4 kali lebih tinggi, disebut ‘national tragedy’

×

Riset baru: angka kematian mantan penerima care usia muda hampir 4 kali lebih tinggi, disebut ‘national tragedy’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Young care leavers dying early a 'national tragedy'

jurnalistik.co.id – Perempuan dan laki-laki muda yang pernah berada dalam pengasuhan negara (care) dan kemudian keluar dari sistem tersebut menghadapi risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibanding populasi umum, menurut kajian terbaru.

Dalam laporan yang menyoroti dampak lemahnya transisi saat usia dewasa, tingkat kematian mereka disebut sekitar empat kali lebih tinggi, dengan konsekuensi yang dapat berujung “national tragedy”.

Komisi pemerintah Inggris menemukan bahwa pada saat berusia 18 tahun, banyak orang yang meninggalkan care kerap kehilangan dukungan yang sebelumnya membantu mereka bertahan.

Laporan tersebut menggunakan istilah “care cliff” untuk menggambarkan momen ketika dukungan berkurang tajam tepat saat seseorang memasuki usia dewasa.

Penulis laporan sekaligus penyiar Ashley John-Baptiste—yang dibesarkan dalam sistem care—menyebut kematian-kematian itu sebagai tragedi nasional.

“Young adults who have left care have a death rate around four times higher than the general population,” kata laporan itu, sambil menegaskan bahwa sering kali mereka “often left alone ‘with no safety net,’” yang berarti tidak ada jaring pengaman yang memadai.

Ketika seseorang berusia 18 tahun, laporan menilai transisi keluar dari care di Inggris sering kali membuat sejumlah “significant levers of support” ikut hilang, sehingga tekanan yang mereka hadapi saat dewasa datang tanpa bantalan yang cukup.

John-Baptiste yang berbicara kepada BBC Radio 4 Today mengaitkan kondisi itu dengan pengalaman pribadinya saat harus mandiri.

Dia mengingat masa ketika ulang tahun ke-18 menjadi titik balik, lalu harus pindah dari rumah asuh terakhir dari empat panti asuhan yang pernah ditempatinya.

Dia mengatakan, “I was made to live alone and work out how to be an adult,” dan menuturkan bahwa saat itu ia tidak mampu membeli rangka tempat tidur.

Dalam keterbatasan tersebut, ia “Unable to afford a bed frame” dan akhirnya tidur di kasur di lantai apartemen milik dewan (council flat), yang menurutnya menimbulkan perasaan ditinggalkan serta isolasi yang mendalam.

Di bagian data, kajian menyebut ada 112 kematian individu usia 18 hingga 24 tahun yang berstatus care leavers dan diberitahukan pada 2025.

Dari angka itu, laporan memperkirakan setara sekitar 130 kematian per 100.000 care leavers.

Laporan juga menyoroti usia 18 sebagai “significant turning point,” karena dari seluruh kematian yang tercatat, 22 di antaranya terjadi pada usia 18—lebih banyak dibanding usia lain dalam rentang yang sama.

Menurut kajian, pola itu “strongly suggestive of the stark challenges and pressures” yang dihadapi anak-anak muda ketika mereka keluar dari care.

Komposisi penyebab kematian juga dibahas secara rinci. “Just over a third (40) of the care leavers were thought to have died by suicide,” dengan tingkat yang dinilai berpotensi sekitar lima kali lebih tinggi dibanding populasi umum.

Selain bunuh diri, laporan menyebut penyebab lain meliputi pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, dan penyalahgunaan obat, serta kemungkinan “mismanagement of medical conditions like diabetes” atau lemahnya pengelolaan kondisi medis tertentu seperti diabetes.

Di samping data kematian, laporan menilai pendekatan pembinaan untuk menyiapkan orang muda menghadapi kehidupan mandiri masih belum cukup kuat.

Kajian merekomendasikan perbaikan cara mempersiapkan transisi menuju kedewasaan, sekaligus mengusulkan perombakan pada tenaga kerja yang mendukung care leavers.

Dalam sistem dukungan setelah keluar dari care, sumber utama bantuan datang melalui kerangka “personal adviser (PA)” atau penasihat pribadi.

Namun, laporan menyatakan dukungan yang diberikan PA dapat “vary greatly from place to place,” dengan “huge variation” pada kualitas praktik pendampingan di berbagai wilayah.

Dengan persyaratan kunjungan minimal sekali setiap dua bulan, para penulis laporan menilai tidak mengherankan jika sejumlah PA yang diwawancarai “hardly knew the young person they were supporting”.

Artinya, pendamping di beberapa tempat tidak benar-benar mengenal kondisi, kebutuhan, dan realitas harian penerima dukungan.

Laporan juga menilai bantuan perumahan dan akomodasi bagi dewasa muda kerap bermasalah.

Menurut temuan, dukungan tersebut sering berasal dari bagian layanan yang bersifat “profit-making arm of the service with no specific requirements for a therapeutic or social work discipline,” sehingga perlu diperbaiki agar selaras dengan kebutuhan dukungan terapeutik dan praktik kerja sosial.

Pemerintah menyatakan sedang mendorong peluncuran nasional pilihan “connected housing” bagi mereka yang meninggalkan care, dimulai dari alokasi dana £25 juta pada tahun ini.

Pemerintah menilai program itu akan “significantly increase” peluang para care leavers untuk mendapatkan hunian yang menyediakan komunitas dan keterhubungan, bukan kondisi di mana mereka dibiarkan terisolasi di akomodasi yang tidak sesuai.

Sejalan dengan itu, Menteri Anak (Children’s Minister) Josh MacAlister menekankan pentingnya hubungan yang berkelanjutan dalam sistem.

Ia mengatakan “enduring relationships” harus menjadi “the central obsession” dari sistem care, dan menambahkan, “Care must build and not break the relationships that young people need, and this must be the new North Star”.

Dengan menempatkan hubungan yang bertahan sebagai fokus utama, laporan berharap transisi dari pengasuhan dapat berubah dari momen “care cliff” menjadi proses yang lebih terencana, konsisten, dan terhubung dengan dukungan yang benar-benar tersedia.