jurnalistik.co.id – Wisatawan Prancis, Pierre Michel Formosa (68), meninggal dunia di Death Valley, California, setelah mobilnya terjebak lumpur di sisi jalan saat suhu mencapai 46,6°C (116°F).
Menurut pihak kepolisian, Formosa ditemukan dalam kondisi sudah meninggal setelah pencarian singkat. National Park Service menyebut ia wafat ketika berusaha mencari pertolongan di tengah panas yang ekstrem, setelah kendaraan mereka tidak bisa bergerak.
Peristiwa itu terjadi pada Senin pekan lalu di West Side Road. Mobil Formosa dan seorang rekan perjalanan menjadi terjebak lumpur, sehingga keduanya memilih berjalan melintasi hamparan garam untuk meminta bantuan.
Rekan perjalanan Formosa sempat melangkah cukup jauh, tetapi panas yang semakin menyengat membuat Formosa tidak sanggup melanjutkan hingga jarak sekitar 1,3 mil. Setelah itu, ia ditemukan kemudian pada sore hari.
Dalam keterangan yang disampaikan, rekan perjalanan Formosa berhasil menghentikan perhatian seorang pengemudi di dekat lokasi. Setelah informasi itu diterima, rangers dan polisi menemukan Formosa pada sore yang sama, lalu ia dinyatakan meninggal dunia.
Death Valley National Park Superintendent Mike Reynolds mengatakan, “This is a heartbreaking reminder of how quickly conditions here can turn dangerous,” dalam sebuah pernyataan. Ia juga menyampaikan, “Death Valley is an extraordinary place, but its heat, distances, and remoteness can be dangerous, regardless of experience,” yang menekankan risiko di kawasan tersebut bagi siapa pun, tanpa memandang latar pengalaman.
Reynolds menambahkan rasa terima kasih atas keterlibatan semua pihak yang membantu pencarian. Ia menuturkan, “We’re grateful to everyone who took part in the search, and our thoughts are with his loved ones.”
Berita Terkait
Pihak taman nasional menyatakan bahwa pemeriksaan lanjutan akan menentukan penyebab serta bagaimana meninggalnya Formosa. Proses oleh koroner tetap dilakukan untuk memastikan kesimpulan resmi terkait peristiwa tersebut.
Kasus ini muncul di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Amerika Serikat. Suhu-suhu tinggi yang terjadi dalam gelombang panas rekor disebut menyebabkan banyak orang berisiko, dan pihak berwenang mengaitkannya dengan puluhan kematian akibat kondisi terkait panas.
National Weather Service juga memperingatkan situasi di kawasan Selatan California, menyebut wilayah itu akan mengalami “hottest week of summer so far”. Sementara itu, sebuah peringatan panas ekstrem masih diberlakukan untuk Death Valley yang dikenal sebagai “hottest place on Earth” menurut situs resminya.
Death Valley mencatat rekor suhu global tertinggi sebesar 57°C (134°F) pada tahun 1913. Dalam konteks peristiwa ini, kendaraan yang terjebak dan upaya mencari bantuan justru terjadi di waktu dan kondisi yang membuat jarak tempuh dapat berubah menjadi penentu keselamatan.
Sepanjang musim panas, gelombang panas juga disebut telah membahayakan wisatawan dan pendaki di sejumlah lokasi. Otoritas negara bagian melaporkan setidaknya empat pendaki meninggal dunia pada bulan Juni saat berada di Grand Canyon.
Dengan jarak antar titik yang panjang serta medan yang jauh dari fasilitas pertolongan, insiden di Death Valley kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan ketika cuaca tidak memberi ruang untuk kesalahan. Penemuan Formosa di area hamparan garam menunjukkan bahwa waktu respons dan kemampuan bertahan di kondisi panas ekstrem menjadi faktor yang sangat menentukan.
Rekan perjalanan Formosa, menurut keterangan, sempat mendapatkan bantuan dari seorang pengemudi setempat. Namun, perjalanan yang seharusnya singkat justru terhenti ketika panas tidak lagi memungkinkan Formosa untuk melanjutkan langkah terakhir menuju pertolongan.
Hingga kini, pihak taman nasional menyebut pencarian dan proses penanganan dilakukan setelah laporan muncul. Koroner kemudian akan menentukan penyebab dan cara kematian, sementara keluarga korban menunggu penjelasan resmi atas peristiwa yang berakhir tragis di salah satu lokasi paling ekstrem di dunia.












