jurnalistik.co.id – Dokter RSUD Ruteng, Megi Bos, menuturkan bahwa ia harus bertahan sekitar 18 jam di rumah sakit setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Saat kejadian berlangsung, ia sedang menjalani dinas malam sejak Jumat (14/8/2026) pukul 21.00 Wita.
Gempa yang terjadi pada pagi hari membuat suasana RSUD Ruteng berubah cepat menjadi panik. Getaran kuat terus berulang, hingga membuat kondisi di dalam rumah sakit terasa kalut dan sebagian orang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
Pada waktu itu, puluhan pasien masih menjalani rawat inap, sementara pasien lainnya mendapat penanganan di instalasi gawat darurat (IGD). Di saat yang sama, retakan muncul di sejumlah bagian gedung rumah sakit, bahkan ada bangunan dan dinding yang ambruk.
Evakuasi dan penanganan berlangsung di tengah kerusakan
Megi menjelaskan bahwa saat gempa terjadi, jumlah dokter yang bertugas malam hanya terbatas. Ia mengingat proses awal penanganan sebagai bagian dari upaya mengamankan pasien dari risiko bangunan yang mengalami kerusakan.
“Saya dinas malam, kami ada empat orang dokter yang dinas malam saat itu. Paginya kami lakukan evakuasi pasien keluar rumah sakit,” ucapnya saat diwawancara Kompas.com pada Minggu malam (16/8/2026).
Ia mengatakan evakuasi dilakukan ke halaman rumah sakit yang dinilai lebih aman dan jauh dari bangunan. Setelah proses pemindahan selesai, tim medis kembali disibukkan dengan pasien yang terus berdatangan ke IGD untuk mendapatkan pertolongan.
“Kami lalu lanjut menangani pasien-pasien yang datang setelah gempa. Itu sampai siang,” lanjut Megi.
Menurut Megi, jumlah pasien yang harus ditangani tergolong banyak, sementara tenaga medis tetap menghadapi keterbatasan di lokasi. Ia menggambarkan suasan kerja yang padat dan melelahkan, baik secara fisik maupun psikis, karena gempa susulan masih terjadi.
Berita Terkait
“Kami menangani pasien yang lumayan banyak dan hectic . Secara fisik dan psikis tentu terganggu. Gempa terus, kami harus menangani pasien dan khawatir soal keadaan anak dan keluarga di rumah,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa di tengah getaran yang masih berlangsung, para petugas berusaha tetap memberikan layanan. Rasa khawatir juga muncul bukan hanya terkait kondisi pekerjaan medis, tetapi juga mengenai keluarga yang berada di rumah.
Kondisi fisik menurun setelah hampir 18 jam bertugas
Setelah sekitar 18 jam berada di rumah sakit, Megi baru bisa kembali ke rumah sekitar pukul 15.00 Wita pada Sabtu (15/8/2026). Namun, ia tidak langsung beristirahat karena gempa susulan membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
Dalam kondisi tersebut, tubuhnya kemudian terasa semakin menurun. Megi mengaku mengalami sakit kepala, disertai penurunan tekanan darah yang ia sebut drastis.
“Kepala saya nyeri dan saya minta diantar ke rumah sakit untuk ditangani teman-teman. Di situ saya diinfus, masuk obat-obatan injeksi,” tutup Megi.
Cerita Megi memperlihatkan bagaimana respons medis berjalan bertumpu pada ketenangan dan koordinasi meski situasi di sekitar terus berubah. Dalam durasi panjang setelah gempa M7,7, ia bersama rekan dokter dan petugas lainnya berupaya menjaga layanan kesehatan tetap berjalan, sekaligus menghadapi ketakutan akan keselamatan bangunan dan keluarga.
Setelah evakuasi awal selesai dan pasien ditempatkan di area yang dinilai lebih aman, kerja medis tidak berhenti. Tim kemudian kembali memusatkan perhatian pada pasien yang mengalami keluhan dan kebutuhan pertolongan, sementara situasi bangunan yang retak dan getaran susulan tetap menuntut kewaspadaan.
Dalam rentang waktu yang panjang, beban penanganan terasa bertumpuk. Selain menghadapi antrean pasien di IGD, para petugas juga harus menjaga konsentrasi di tengah suasana yang terus berubah, karena setiap kali gempa susulan muncul, ketenangan di lokasi ikut terganggu dan pikiran mereka kembali pada anak serta keluarga di rumah.
Menjelang akhir tugas hampir 18 jam, kondisi Megi yang pada awalnya bertahan mulai menunjukkan penurunan. Ia mengaku pusing dan mengalami penurunan tekanan darah, sehingga ia kemudian diantar untuk pemeriksaan dan mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pemberian infus serta obat berbentuk injeksi.












