Peristiwa

Setelah Berdesakan di Monas, Warga Lelah Ikut Rehat di Stasiun Juanda Usai Perayaan HUT ke-81

×

Setelah Berdesakan di Monas, Warga Lelah Ikut Rehat di Stasiun Juanda Usai Perayaan HUT ke-81

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kelelahan Usai Berdesakan, Pengunjung HUT RI Pilih Istirahat di Stasiun Juanda

jurnalistik.co.id – Sejumlah warga yang baru selesai mengikuti rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, memilih mencari jeda di area Stasiun Juanda pada Senin (17/8/2026) malam. Setelah berdesakan di sekitar Monas, mereka tampak lebih mengutamakan istirahat sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 21.30 WIB, Stasiun Juanda dipadati pengunjung. Kepadatan serupa juga terlihat di halte Transjakarta yang berada tidak jauh dari stasiun, sehingga arus aktivitas malam tampak meningkat dari berbagai arah.

Warga umumnya datang lebih dahulu untuk menonton acara dan melihat pameran, kemudian baru bergerak kembali saat tenaga mulai terkuras. Di tengah kondisi yang padat, banyak orang memilih tetap berada di sekitar ruang tunggu sebagai tempat menenangkan diri, sambil menunggu kesempatan melanjutkan perjalanan.

Farid (28), warga Bogor, Jawa Barat, mengaku tiba di kawasan itu setelah waktu magrib. Ia menyampaikan tujuannya datang untuk menonton rangkaian kegiatan di Monas, termasuk konser musik.

“Tadi datang ke sini habis isya, mau ke Monas mau nonton konser musik,” kata Farid kepada wartawan di lokasi, Senin malam.

Namun, Farid mengatakan ia tidak sempat masuk ke area konser karena kerumunan yang semakin padat. Ia menyebut sampai sekitar pukul 7 malam kondisi tidak memungkinkan.

“Sampai sini jam 7 malam, enggak bisa masuk,” ujarnya.

Meski demikian, Farid tidak menyatakan kekecewaan berlarut. Ia mengaku masih dapat menikmati sejumlah sajian pameran yang tersedia di Monas, sehingga kunjungannya tetap terasa bernilai di tengah keterbatasan akses menuju konser.

“Setidaknya walaupun enggak bisa nonton konser, tapi bisa lihat pameran,” tuturnya, seraya menyebut salah satu yang ia lihat adalah pameran mobil hias karnaval HUT RI.

Di bagian lain, Anas (42), yang berasal dari Parung Panjang, mengaku datang bersama istri dan anaknya. Ia mengatakan jadwal kunjungannya terjalin dengan aktivitas berjalan-jalan setelah dari Monas, sambil tetap menargetkan penonton konser dan pameran.

“Tadi dari Monas jalan-jalan sekalian mau liat konser, mau liat Wika Salim sama Prabowo,” kata Anas di lokasi.

Menurut Anas, berdesakan yang ia alami terjadi karena besarnya animo warga yang ingin menyaksikan konser musik. Ia menggambarkan suasananya begitu rapat hingga sulit bergerak, tetapi tetap merasakan sisi positif dari kunjungan keluarga.

“Enggak bisa dibayangkan, pokoknya engap-engapan. Tapi happy, terbayar juga capeknya. Makanya duduk dulu di sini,” ucapnya.

Kerumunan yang terjadi di sekitar Monas pada malam perayaan juga berdampak pada pilihan tempat berlindung sejenak bagi pengunjung. Ruang dalam Stasiun Juanda kemudian menjadi salah satu alternatif untuk menunggu ritme perjalanan kembali normal, sembari memulihkan tenaga.

Saat suasana masih padat, keputusan untuk beristirahat tersebut tampak sejalan dengan kebutuhan nyata warga yang baru saja mengikuti rangkaian kegiatan. Dari cerita beberapa pengunjung, tampak bahwa kelelahan akibat desakan menjadi faktor utama yang mendorong mereka memilih jeda sebelum pulang.

Di luar target utama yang sempat terganggu oleh kepadatan, baik Farid maupun Anas menempatkan pengalaman selama berada di Monas sebagai bagian dari perayaan yang tetap mereka bawa pulang. Bagi mereka, istirahat di Stasiun Juanda menjadi cara untuk menyelesaikan malam dengan lebih nyaman, setelah lebih dulu mencoba menembus keramaian.

Keputusan mereka untuk menunda perjalanan pulang juga terlihat sebagai upaya mengatur energi setelah berjam-jam berada dalam keramaian. Di area stasiun, pengunjung dapat menunggu sesaat sambil menilai kembali kapan waktu yang lebih memungkinkan untuk melanjutkan aktivitas.

Pada malam itu, kepadatan tidak hanya dirasakan di sekitar Stasiun Juanda, tetapi juga ikut terasa pada akses menuju halte Transjakarta yang berdekatan. Karena arus pergerakan meningkat dari beberapa arah, sebagian warga memilih bertahan di titik yang lebih nyaman agar tidak semakin sulit bergerak.

Bagi Farid, pilihan untuk tetap melihat pameran menjadi cara mengganti rencana yang sempat terhambat. Sementara itu, Anas menggambarkan momen berdesakan yang “engap-engapan” justru diimbangi dengan suasana keluarga yang tetap terjaga, sehingga duduk sejenak di stasiun terasa seperti jeda yang diperlukan sebelum melanjutkan perjalanan.