jurnalistik.co.id – Ratusan warga Kampung Fata, Desa Wodamude, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kembali ke rumah setelah sebelumnya mengungsi ke Gua Maria menyusul gempa magnitudo 7,7 pada Sabtu (16/8/2026).
Pantauan Minggu (16/8/2026) pagi, anak-anak hingga orang dewasa terlihat turun dari arah Gua Maria. Mereka membawa berbagai perlengkapan tidur dan kebutuhan sehari-hari yang digunakan selama masa pengungsian.
Antonius Napa, Ketua RT setempat, menjelaskan bahwa warga yang lebih dahulu berada di lokasi pengungsian berasal dari tiga RT. Menurutnya, keputusan mengungsi dilakukan sebagai langkah antisipasi ketika getaran gempa masih terasa.
“Warga yang mengungsi ke Gua Maria berasal dari 3 RT,” ujar Antonius Napa, Ketua RT setempat.
Di area itu, warga membangun tenda darurat secara swadaya. Mereka menggunakan kain, terpal, dan tikar sebagai alas tidur selama berada di lokasi pengungsian.
Antonius mengatakan, hingga saat ini kondisi warga dinilai aman. Ia menyebut hanya ada beberapa rumah yang mengalami retakan, dan pendataan mulai dilakukan.
“Sampai saat ini warga dalam kondisi aman, hanya ada beberapa rumah yang retak. Sekarang lagi didata,” katanya.
Meski mulai kembali, sebagian warga tetap memilih berjaga-jaga terhadap kemungkinan gempa susulan. Mereka berupaya menyeimbangkan kebutuhan pulang dengan kekhawatiran yang masih membekas setelah getaran kuat melanda wilayah.
Emilia (47), salah seorang warga, mengaku memutuskan kembali ke rumah karena situasi dinilai mulai mereda. Ia menuturkan masih sempat merasakan getaran gempa beberapa kali, namun belum cukup kuat untuk membuatnya bertahan terus di tempat pengungsian.
“Terpaksa kita balik lagi kalau situasinya belum benar-benar aman,” katanya.
Berita Terkait
Menurut Emilia, pertimbangan utamanya adalah keselamatan. Ia menyatakan bahwa bila gempa susulan terjadi dengan intensitas kuat, warga akan kembali melakukan pengungsian.
Perasaan waswas juga dirasakan oleh banyak warga lain. Antonius menyebut adanya warga yang masih mengalami trauma serta tetap khawatir gempa susulan kembali terjadi.
Sejumlah warga memilih tidak langsung memasuki rumah mereka setelah merasakan guncangan yang cukup kuat. Bagi mereka, waktu pemulihan psikologis menjadi bagian dari proses kembali beraktivitas.
Di wilayah NTT, gempa magnitudo 7,7 mengguncang pada Sabtu pagi. Pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo, dengan titik gempa 30 km arah Timur Laut dari lokasi pengamatan dan kedalaman 15 km.
Arief Tyastama, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, menyampaikan bahwa sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores. Ia menambahkan bahwa aktivitas sesar serupa juga pernah berkaitan dengan gempa pada 1992.
“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 92. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.
Dari informasi tersebut, para warga di Sikka memahami bahwa potensi gempa susulan masih perlu diwaspadai. Karena itu, meski kembali ke rumah, mereka tetap memantau perkembangan dan menyiapkan langkah bila situasi kembali mengkhawatirkan.
Meski sebagian warga mulai menata kembali kehidupan di rumah masing-masing, pendataan kerusakan tetap menjadi pekerjaan yang perlu segera dilakukan. Perhatian juga diarahkan pada rumah-rumah yang mengalami retakan agar kondisi bangunan dapat diketahui lebih jelas.
Di sisi lain, pemulihan pascagempa tidak hanya menyangkut kerusakan fisik, tetapi juga rasa aman warga. Pengalaman mengungsi ke Gua Maria membuat banyak keluarga belajar untuk lebih waspada sambil menunggu kepastian kondisi wilayah.
Dengan kembalinya ratusan warga ke rumah, suasana di Kampung Fata perlahan kembali bergerak. Namun, keputusan untuk tinggal atau kembali mengungsi tetap bergantung pada intensitas gempa susulan yang menyertai proses pemulihan.












