Olahraga

Perjalanan Jet Gianni Infantino di Piala Dunia 2026: Ribuan Mil Udara di Amerika Utara

×

Perjalanan Jet Gianni Infantino di Piala Dunia 2026: Ribuan Mil Udara di Amerika Utara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: How Fifa president Gianni Infantino is jetting around

jurnalistik.co.id – Dalam dua pekan lebih penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, Presiden FIFA Gianni Infantino tercatat berpindah dari satu kota pertandingan ke kota lainnya menggunakan pesawat pribadi. Ia menghadiri 24 laga di US, Kanada, dan Meksiko, yang menyebar di 16 kota tuan rumah.

Menurut pemantauan BBC Verify dan BBC Sport, selama turnamen Infantino menjalani 27 penerbangan menuju lokasi ketika ia dipotret menghadiri pertandingan FIFA. Struktur kompetisi tahun ini juga lebih luas, karena fase grup diperbesar dibanding edisi sebelumnya.

Infantino pernah menyampaikan komitmen FIFA melalui kalimat: “Whether we speak about climate, human rights, diseases or disabilities, we are committed to play our part.” Pernyataan itu muncul dalam kerangka strategi keberlanjutan dan hak asasi manusia FIFA untuk Piala Dunia 2026.

Log perjalanan: rute panjang, jadwal padat

Selama fase grup, Infantino kerap menghadiri dua pertandingan dalam satu hari pada beberapa kesempatan. Dalam rangkaian jadwal yang saling berjauhan, ia juga mengambil tiga penerbangan terpisah pada hari tertentu.

Penerbangan terjauh dalam dua minggu pertama dilaporkan mencapai 2.800 mil (4.507 km), yaitu dari Vancouver ke Miami pada 13 Juni, setelah menyaksikan Australia melawan Turki. Pada 22 Juni, pesawat yang ditelusuri terbang sejauh 92 mil (148 km) dari Philadelphia ke Teterboro Airport di New Jersey—meski Infantino tidak menghadiri pertandingan di sana, ia diwawancarai pada pagi berikutnya di studio Fox News New York.

Masih pada 22 Juni, Infantino kemudian melanjutkan perjalanan untuk menonton laga di Boston dan Toronto di kemudian hari. Sementara itu, jarak tempuh satu hari terjauh (di luar penerbangan menginap) terjadi pada 15 Juni, saat ia terbang lebih dari 2.700 mil (4.000 km) melintasi Amerika Serikat dari Miami ke Seattle untuk menyaksikan Belgia menghadapi Mesir.

Setelah itu, ia bergerak sekitar 960 mil (1.545 km) ke selatan menuju Los Angeles untuk menghadiri Iran melawan Selandia Baru pada malam harinya. Salah satu hari dengan rangkaian perjalanan panjang lainnya adalah 26 Juni, ketika pesawat lepas landas dari Miami, sempat berhenti singkat di Dallas, lalu berlanjut ke Seattle; di sana ia dipotret saat laga Mesir vs Iran berlangsung.

Pesawat kemudian meninggalkan Seattle sekitar lima jam setelah tiba, melakukan penerbangan lanjutan sejauh 2.700 mil (4.345 km) kembali ke Miami, dan mendarat keesokan paginya. Pada hari berikutnya, Infantino menyaksikan pertandingan grup ke-24 dan terakhirnya di Miami, ketika Portugal berhadapan dengan Kolombia.

Berdasarkan analisis, jet pribadi tersebut menempuh minimal 31.144 mil (50.122 km) dan menghabiskan lebih dari 66 jam di udara sejak awal turnamen hingga 27 Juni.

Perhitungan emisi: setara jejak puluhan orang

Penerbangan dengan jet pribadi disebut sebagai salah satu cara perjalanan dengan intensitas karbon paling tinggi. Hal itu dikaitkan dengan gas rumah kaca yang menghangatkan atmosfer, serta mendorong pemanasan global dan perubahan iklim.

Pesawat yang diyakini digunakan Infantino adalah Gulfstream G650ER, yang rata-rata membakar bahan bakar sekitar 1.817 liter per jam. Dari konversi emisi gas rumah kaca pemerintah Inggris, perjalanan selama fase grup diperkirakan menghasilkan 516 ton CO2e.

Angka CO2e akhir mencakup estimasi untuk emisi CO2 dan gas lain yang dilepaskan secara langsung, sekaligus penyesuaian terhadap efek iklim tidak langsung penerbangan. Namun angka tersebut tetap berupa perkiraan, karena emisi nyata tidak diketahui—termasuk kemungkinan tingkat pembakaran lebih tinggi saat lepas landas dan pendaratan.

Data Uni Eropa menyebut emisi gas rumah kaca tahunan rata-rata untuk satu individu adalah 6,56 ton CO2e. Dengan demikian, perjalanan Infantino diperkirakan menghasilkan CO2e dalam waktu lebih dari dua pekan yang kira-kira setara dengan sekitar 78 orang bila dihitung selama satu tahun kalender.

Pesawat mampu menampung hingga 19 orang, tetapi jumlah penumpang di setiap penerbangan tidak diketahui. Karena itu, pemecahan emisi per penumpang tidak bisa dilakukan secara rinci.

Sikap FIFA dan kritik pakar

Seorang perwakilan FIFA menyatakan kepada BBC Sport bahwa “The Fifa president routinely travels, together with relevant officials, on business and tournament-related matters and strives to visit member associations of Fifa whenever he can. Sometimes travel is organised on commercial [including low-cost] airlines and sometimes it is on private charter, depending on which is more efficient and cost-effective under the circumstances.”

BBC juga menanyakan apakah penerbangan ke pertandingan Piala Dunia menggunakan maskapai komersial, berapa banyak orang yang terbang dalam Qatar Executive jet, serta apakah FIFA melakukan offset emisi. Permintaan konfirmasi itu tidak mendapat respons.

Freddie Daley dari organisasi sport climate action Cool Down menilai penggunaan jet pribadi Infantino pada Piala Dunia sebagai “symptomatic of Fifa’s failings on the environment and sustainability”. Ia juga mengatakan, “The fact that Infantino’s choosing to use a private jet is just completely at odds with the level of leadership that we need to see at the top of Fifa on environmental issues,”

Sementara itu, Denise Auclair, pakar perjalanan berkelanjutan dari European Federation for Transport and Environment, menyebut dampak jet pribadi “completely disproportionate impact”. Ia menambahkan: “They are five to 14 times more polluting than commercial planes and 50 times more than trains.”

Target lingkungan FIFA dan sorotan sebelum turnamen

FIFA sebelumnya berkomitmen menurunkan emisi 50% pada 2030 serta mencapai net-zero pada 2040. Untuk edisi tahun ini, FIFA menetapkan sejumlah janji lingkungan, termasuk menggelar pertandingan dengan pendekatan regional agar mengurangi “reliance on long-haul travel for a significant proportion of attendees”, mendorong efisiensi energi melalui penggunaan mobil listrik, transportasi publik, serta konservasi air, dan memanfaatkan stadion yang sudah ada.

Meski demikian, bahkan sebelum bola pertama dimainkan pada 11 Juni, beberapa ilmuwan iklim sudah menunjukkan skeptisisme mengingat skala turnamen. Laporan 2025 dari Scientists for Global Responsibility (SGR) memperkirakan jejak karbon keseluruhan Piala Dunia berpotensi mencapai sembilan juta ton CO2e. SGR menilai angka tersebut hampir dua kali lipat rata-rata empat Piala Dunia sebelumnya, sehingga edisi ini disebut sebagai yang paling mencemari.

Pada 2023, regulator Swiss menyatakan FIFA “made false statements” dengan klaim bahwa Qatar 2022 akan menjadi Piala Dunia pertama yang netral karbon dalam sejarah lewat investasi pada inisiatif berkarbon rendah untuk mengimbangi emisi. Menanggapi putusan tersebut, FIFA menyatakan “fully aware that climate change is one of the most pressing challenges of our time and believes it requires each of us to take immediate and sustainable climate action”.

Infantino disebut menghadiri seluruh 64 pertandingan pada Piala Dunia terakhir di Qatar, ketika delapan stadion yang digunakan berjarak sekitar satu jam berkendara. Untuk turnamen saat ini, rentang yang mencakup satu benua menghadirkan tantangan yang berbeda.