Bisnis & Ekonomi

Rupiah Turun ke Rp17.872, IHSG Ambles 2,62% di Awal Perdagangan Selasa

×

Rupiah Turun ke Rp17.872, IHSG Ambles 2,62% di Awal Perdagangan Selasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah ke Level Rp 17.872 IHSG Anjlok 2,62 Persen

jurnalistik.co.id – Rupiah melemah pada awal perdagangan Selasa (30/6/2026) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi, menggambarkan sentimen yang cenderung melemah di pasar keuangan. Pada sesi pagi, tekanan terlihat dari pergerakan nilai tukar maupun pergerakan indeks saham.

Di pasar spot, kurs rupiah terdepresiasi 0,12 persen ke level Rp17.872 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut sejalan dengan melemahnya mata uang di sejumlah negara kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi pelemahan mata uang Garuda berada dalam pola yang sama dengan mayoritas mata uang di kawasan. Hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,49 persen.

Setelah won, peso Filipina terdepresiasi 0,18 persen, sementara yen Jepang melemah 0,14 persen. Dollar Taiwan turun 0,13 persen, dan dollar Singapura terkoreksi 0,05 persen terhadap dolar AS pada waktu yang sama.

Di luar lima mata uang tersebut, dollar Hong Kong melemah 0,04 persen, sedangkan baht Thailand turun tipis 0,009 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, tidak semua mata uang bergerak searah; ringgit Malaysia menguat 0,37 persen dan yuan China tercatat menguat tipis 0,03 persen.

Di pasar saham, IHSG turun 152,765 poin atau 2,62 persen ke level 5.668,025 pada pukul 09:27 WIB. Pelemahan indeks terjadi setelah pembukaan di area 5.801,454 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 5.811,669.

Setelah pembukaan, tekanan jual mendorong indeks terus melemah hingga mencapai level terendah di 5.656,724 pada awal sesi perdagangan. Pergerakan turun yang berlanjut tersebut menunjukkan dominasi penjual sejak fase awal transaksi.

Aktivitas perdagangan pada awal sesi mencatatkan volume transaksi sebanyak 4,937 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp3,710 triliun dalam 343.322 kali transaksi.

Di tengah pelemahan tersebut, distribusi pergerakan saham memperlihatkan kecenderungan pasar yang lebih banyak dihuni penurunan. Hanya 84 saham yang menguat, sementara 520 saham melemah dan 97 saham bergerak stagnan.

Secara keseluruhan, kombinasi melemahnya rupiah dan koreksi IHSG pada jam-jam awal perdagangan memberi sinyal bahwa sentimen masih didominasi kehati-hatian. Dengan mayoritas mata uang Asia yang tertekan, pergerakan rupiah tampak bergerak searah dengan dinamika eksternal yang memengaruhi pasar.

Perubahan arah dari level pembukaan IHSG menuju titik terendah juga menggambarkan bahwa kenaikan yang sempat terjadi pada awal sesi tidak bertahan lama. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan indeks yang berlanjut hingga menempatkannya pada level 5.668,025 pada pukul 09:27 WIB.

Di sisi mata uang, pelemahan terlihat tidak hanya pada satu negara, melainkan menyebar pada sejumlah ekonomi di Asia. Data hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan mayoritas mata uang bergerak turun, dengan won Korea Selatan turun 0,49 persen sebagai penurunan terdalam, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen dan yen Jepang yang terkoreksi 0,14 persen.

Rincian lanjutan pada waktu yang sama memperlihatkan tekanan juga menjalar pada beberapa mata uang lain: dollar Taiwan melemah 0,13 persen dan dollar Singapura turun 0,05 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, dollar Hong Kong juga melemah 0,04 persen, sedangkan baht Thailand turun tipis 0,009 persen. Meski demikian, tidak semua mata uang berada dalam arah yang sama, karena ringgit Malaysia menguat 0,37 persen dan yuan China menguat 0,03 persen.

Pada pasar saham, dinamika yang terjadi sejak awal perdagangan menggambarkan perubahan cepat dari kondisi pembukaan menuju tekanan yang makin kuat. IHSG yang sempat berada di area pembukaan 5.801,454 dan menyentuh titik tertinggi 5.811,669 kemudian turun lagi hingga mencapai level terendah 5.656,724 pada awal sesi, sebelum pada pukul 09:27 WIB berada di 5.668,025.

Aktivitas transaksi pada fase awal memperkuat gambaran kehati-hatian tersebut. Volume perdagangan tercatat 4,937 miliar saham dengan nilai transaksi Rp3,710 triliun dan frekuensi 343.322 kali transaksi. Dari komposisi pergerakan, jumlah saham yang melemah lebih dominan dibanding yang menguat: 520 saham melemah, 84 saham menguat, dan 97 saham stagnan.