jurnalistik.co.id – Paraguay meraih kemenangan bersejarah di Piala Dunia 2026 dengan menjatuhkan Jerman lewat adu penalti, sekaligus mengukir salah satu kejutan terbesar turnamen sejauh ini. Kemenangan itu memicu tangis disbelief bercampur euforia, tepat setelah Jose Canale menuntaskan penalti penentu untuk mengamankan kemenangan.
Di Boston Stadium, suasana benar-benar meledak. Para pemain berlari menuju Canale sebelum akhirnya runtuh dalam satu pelukan huddle yang penuh sukacita, sementara suporter dari berbagai usia saling merangkul dan tak henti menyanyikan “Vamos!”.
Jalannya pertandingan juga menggambarkan betapa besarnya momen tersebut. Setelah 120 menit penuh ketegangan dan kontroversi, La Albirroja mampu menuntaskan laga yang semula terasa sulit, dan mengubah tekanan menjadi jalan menuju kemenangan.
Paraguay tampil disiplin dan membiarkan ritme berada di bawah kendali lawan sejak awal. Jerman memang mendominasi penguasaan bola dengan 75%, mencatat 719 tembakan umpan dan 21 percobaan tembakan ke gawang, berbanding tujuh milik Paraguay.
Namun, sorotan justru tertuju pada kemampuan Paraguay bertahan, menekan seperlunya, dan tetap bertahan saat laga semakin menekan. Catatan menuju final semakin menegaskan bahwa ini bukan keberuntungan semata: Paraguay rata-rata hanya mencetak 0,78 gol per pertandingan saat kualifikasi, angka terendah bersama di antara tim yang lolos ke putaran final.
Di balik bangkitnya performa itu, ada tangan pelatih Gustavo Alfaro yang kini berusia 63 tahun. Ia mulai menangani Paraguay enam pertandingan setelah kampanye kualifikasi berjalan, dan setelah hanya satu kekalahan dalam 12 laga, mereka akhirnya memastikan tiket dengan relatif mudah.
Dalam adu penalti, Jerman melangkah lebih dulu namun tidak pernah benar-benar memimpin. Havertz gagal pada eksekusi awal, dan Nick Woltemade juga tidak mampu menyelesaikan tugasnya, sehingga Jerman berada di ambang tersingkir. Paraguay sempat kehilangan dua peluang untuk memastikan kemenangan, sebelum Canale mengambil alih momen dan mengubah penalti penentu.
Gustavo Gomez, pemain bertahan Paraguay, menyampaikan, “I think what we are feeling right now is really hard to explain. I am really proud of my team-mates, of the team. We deserved one more game. “Today was a game where we needed to show our true colours as the Paraguayan team. Germany knew it would be really hard for them. They knew we would fight not to be defeated. We dedicate this to all the people of Paraguay.”
Bagi kubu Jerman, hasil ini juga berarti catatan sejarah yang sulit dilupakan. Kekalahan tersebut menjadi eliminasi Piala Dunia pertama Jerman melalui adu penalti, setelah mereka sebelumnya selalu menang dalam empat adu penalti sebelumnya, dan ini juga merupakan kegagalan adu penalti kedua mereka pada turnamen besar setelah kalah di final Euro 1976.
Di tribun, Pat Nevin dari BBC Radio 5 Live mengaku tidak bisa menahan senyum. Ia mengatakan, “We watch football for the emotion, for the joy and for the special moments and we are seeing them down there,” lalu menambahkan, “It is magical to see such joy. People in front of us are in tears. They cannot believe it. This must be one of the greatest results in Paraguayan football history.”
Tim Vickery, analis sepak bola Amerika Selatan, menilai semangat Paraguay terlihat jelas sepanjang hari itu. Ia menyebut, “Paraguay love adversity,” dan menambahkan, “If you’re looking for someone to relate to in this World Cup, look for Paraguay. That Welsh word ‘hwyl’, that grit and drive, when it gets difficult, that’s when they come alive. “They’ve come through adversity to knock out a giant of European football. It’s not always pretty, they play within their limitations, but what drama, what a story. “The objective in this tournament was to make Paraguay feel represented and they’ve done that in full.”
Dengan kemenangan ini, Paraguay memastikan tempat di babak 16 besar. Mereka kini akan menghadapi salah satu dari Prancis atau Swedia di Philadelphia pada Sabtu (22:00 BST).
Santiago Pena, presiden Paraguay, sebelumnya sudah menyatakan hari libur publik setelah tim memastikan kelolosan Piala Dunia lebih dulu dengan satu pertandingan tersisa. Setelah tempat 16 besar sudah diamankan, perhatian kini beralih pada apakah gelombang perayaan akan diperpanjang, sebagaimana diungkap Alfaro: “He might declare another national holiday,” ia bercanda. “I want all of Paraguay to enjoy this. We may have our defects, but we have a heart that never gives up, and that’s what keeps us alive.”












