jurnalistik.co.id – Hujan deras mengguyur Charlotte sepanjang Sabtu sore, angin menerjang, petir menyambar, dan langit tampak kelabu tanpa henti. Pada situasi yang seolah “berisik” oleh alam itu, keputusan Steve Clarke datang seperti ledakan yang tak memberi ruang persiapan.
Tak lama setelah Skotlandia memastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026 pada fase grup, kabar bahwa pelatih kepala itu mengundurkan diri diumumkan. Tidak ada tanda-tanda yang benar-benar mencolok sebelumnya, dan cara kepergiannya pun memilih gaya yang selama ini identik dengan Clarke: serba rendah hati, tanpa keributan, tanpa wawancara pada saat informasi tersebut mulai menyebar.
Clarke tidak langsung menjelaskan alasannya dalam konferensi pers maupun sesi tanya jawab. Pernyataan perpisah yang panjang dan terperinci memberi kesan bahwa langkah ini sudah disiapkan dalam beberapa hari terakhir, namun detail alasan di balik keputusan yang terasa mendadak tetap belum dipublikasikan.
Yang membuat momen itu makin sulit dipahami adalah timing-nya. Para pemain tidak mengetahui hal ini akan terjadi, dan banyak anggota dewan sepak bola Skotlandia juga tidak mengantisipasinya. Padahal, sekitar sebulan sebelumnya, pihak terkait sempat mengumumkan dengan nada optimistis bahwa Clarke akan bertahan selama empat tahun lagi.
Warisan kuat, tetapi ujungnya memicu lega yang bercampur tanya
Di balik kepergian Clarke, ada dua perasaan yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, jejaknya layak disebut positif: ia mampu membawa tim keluar dari masa suram dan mengembalikan keyakinan bahwa Skotlandia masih bisa bersaing. Namun di sisi lain, ada semacam rasa lega—sebab kini muncul kebutuhan akan “suara baru” dan pendekatan yang lebih segar, sepanjang pengganti yang dipilih benar-benar tepat.
Tantangannya tidak kecil. Pemilik kritik Clarke—mereka yang “seimbang” namun juga yang terlalu skeptis—memandangnya sebagai masalah serius, tetapi justru dari ruang yang sama pula muncul kekhawatiran lain: kandidat yang menonjol, realistis, dan siap langsung menangani tanggung jawab besar itu tidak tampak melimpah.
Di Hampden, tekanan untuk memilih manajer yang pas terasa nyata. Skotlandia sudah menunggu rangkaian laga UEFA Nations League dari September hingga November, sehingga proses pergantian pelatih tidak hanya soal nama, melainkan juga soal kecepatan dalam menyusun arah baru.
Clarke: dari keterpurukan ke momen puncak, lalu runtuh tanpa ampun
Clarke barangkali akan menjadi “titik” di bentang sejarah beberapa bulan ke depan, tetapi selama periode terpanjangnya ia tetap memainkan peran besar. Ia menuntun Skotlandia keluar dari “liar” keterpurukan—namun tidak pernah sampai pada tujuan akhir berupa sepak bola turnamen fase gugur di level kejuaraan besar.
Tiga kampanye kejuaraan besar dalam tujuh tahun memang terwujud, walau konsistensinya tidak selalu berakhir manis. Ia membawa tim lolos, dan itu mengundang banyak waktu-mimpi yang sempat hilang dari ingatan sepak bola nasional. Skotlandia memang sering tampil kesulitan, tetapi mereka tetap sampai ke panggung besar—dan hal tersebut, menurut nada analisis ini, sempat kembali mengisi laci keyakinan yang hampir mengering.
Tak hanya reputasi, keberhasilan kualifikasi juga memberi dampak finansial. Penampilan di kompetisi besar mendatangkan dana yang signifikan bagi Skotlandia, sesuatu yang sebelumnya lama tidak mereka cicipi.
Namun perjalanan di bawah Clarke tidak lurus. Ia memiliki kemampuan untuk memantulkan timnya kembali setelah terjatuh, membangun kebangkitan ketika suasana sedang gelap. Skotlandia bahkan meraih puncak yang ekstrem saat lolos melalui kemenangan adu penalti beruntun untuk mengamankan tiket ke turnamen yang tertunda akibat pandemi, sebelum kemudian gagal dengan cara yang menyakitkan saat sudah tiba di Eropa.
Ketika upaya berikutnya datang, Clarke kembali mencoba meraih jalan menuju Piala Dunia 2022. Dalam kualifikasi itu, Skotlandia menjalani enam pertandingan kompetitif secara beruntun tanpa kalah, sebuah catatan yang untuk kali pertama kembali mereka capai sejak 1930. Mereka mengatasi Denmark dalam perjalanan itu dan akhirnya memperoleh kesempatan bermain “semi final” kandang melawan Ukraina. Sayangnya, momentum tersebut tidak berbuah sesuai harapan.
Setelahnya, langkah berikutnya juga terasa seperti menjauh. Skotlandia kembali tersandung di Nations League saat kalah 3-0 dari Republik Irlandia. Lalu, ketika Clyde of fortune mereda, Clarke menghadapi fase yang menegangkan: kritik datang dari banyak arah, dan “pisau” di balik layar tampak makin tajam.
Meski begitu, kampanye menuju Euro 2024 kembali menghadirkan riak hidup. Perjalanan itu disebut berkat intensitas yang membuat Hampden seperti tidak pernah benar-benar diam. Ada kemenangan atas Spanyol di kandang, dan momen yang sangat dikenang ketika Norwegia dikalahkan “di menit akhir” saat bermain tandang.
Malangnya, pengalaman buruk juga tetap datang. Skotlandia kemudian menuju Jerman untuk turnamen Euro, namun berakhir dengan pengalaman yang sama sekali tidak mudah, termasuk kekalahan 1-0 dari Hungaria. Respons Clarke setelah kegagalan itu—digambarkan sebagai kurang halus—ikut menambah beban. Ketika goodwill berkurang, posisinya makin rawan.
Untungnya, Nations League memberikan ruang lagi untuk mengangkat kepala. Kampanye itu berakhir dengan hasil imbang melawan Portugal, serta kemenangan atas Kroasia dan Polandia. Saat skenario mulai terasa “masak” kembali, ada rasa bahwa tim menemukan ritmenya lagi—walau tidak ada jaminan ritme yang sama akan bertahan sampai ke Piala Dunia.
Dua tahun yang penuh patah-hidup, hingga “dinding” Amerika
Di babak kualifikasi menuju Piala Dunia, Skotlandia memang sering dinilai tampil buruk—tetapi mereka juga kerap menang dengan cara yang membuat bola tetap bergulir. Saat melawan Yunani di kandang, performanya dianggap mengecewakan, namun Skotlandia menang. Saat melawan Belarus di kandang, masalah yang sama disebut berulang: tampil lagi-lagi tidak memuaskan, tetapi kemenangan tetap datang.
Momen itu kemudian digambarkan lewat kata yang keluar dari mulut John McGinn. Ia menyebut penampilan tersebut “jobby”, istilah slang Skotlandia untuk sesuatu yang “lenyap seperti apa yang hilang ke dalam toilet”. Kutipan itu menjadi penanda bahwa, meski hasil kadang datang, keyakinan akan cara bermain tidak selalu utuh.
Skotlandia sempat kalah saat bertandang ke Yunani, dan mereka akan terjebak ke play-off bila tidak ada “ajaib” dari Belarus melawan Denmark di Kopenhagen. Denmark akhirnya hanya bermain imbang, dan celah itu dimanfaatkan sepenuhnya oleh Skotlandia pada malam yang digambarkan sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah tim—sebuah duel epik yang membawa mereka melewati batas yang semula tampak seperti tembok keras.
Itulah “kenikmatan” sebelum perjalanan Amerika menghadirkan kenyataan yang lebih keras. Di fase Piala Dunia, jalan menuju panggung berikutnya tidak terbuka. Setelah sukses melewati rintangan sebelumnya, kini Skotlandia harus menghadapi kenyataan bahwa batasnya tetap ada.
Penerus Clarke menghadapi skuad yang sudah menua dan pekerjaan rumah yang berat
Pada Piala Dunia 2026, skuad Skotlandia digambarkan sebagai salah satu yang tertua. Clarke sendiri memiliki tiga penjaga gawang dengan total usia 103 di Amerika. Lyndon Dykes dan Lawrence Shankland berusia 30 tahun. Sementara itu, Andy Hanley dan Kenny McLean disebut berusia 34 tahun.
Masalah yang diwariskan tentu tidak hanya soal usia. Pengganti Clarke disebut akan menghadapi tantangan di posisi kiper dan bek tengah. Ada kekurangan pemain yang mampu menciptakan peluang dari pusat permainan, khususnya pemain yang hidup dan dinamis di lini tengah. Sayap juga dipandang kurang memiliki kecepatan yang benar-benar nyata, sehingga pola membangun serangan sering kesulitan menghasilkan tenaga instan. Untuk penyerang, pekerjaan tampak lebih berat lagi karena mereka dipaksa “hidup dari remah-remah”—yakni peluang-peluang yang datang tidak dalam bentuk matang.
Jalan yang ditempuh Clarke memang panjang dan berpengaruh, tetapi rute menuju tempat yang mereka inginkan masih membentang jauh—dan kini orang baru harus menavigasi jalan itu. Tidak akan kekurangan “pengemudi dari bangku penumpang” yang memberi arahan, namun keputusan akhir tetap harus diambil oleh manajer yang dipercaya memegang kendali.












