jurnalistik.co.id – Keputusan terbaru dari Independent Office for Police Conduct (IOPC) menyatakan bahwa perwira Met yang menembak Chris Kaba tidak akan menghadapi proses “misconduct”. Langkah itu diumumkan setelah rangkaian penilaian dan penyesuaian hukum terkait penggunaan kekuatan.
IOPC menyebut bahwa Sgt Martyn Blake menembak Kaba, seorang pria berusia 24 tahun, di Streatham, London selatan, pada 2022. Insiden itu terjadi setelah Kaba mencoba menerobos atau meramkan kendaraan untuk melewati mobil-mobil polisi.
Dalam proses hukum pidana sebelumnya, Blake dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Pengadilan memutuskan demikian pada 2024, sehingga keputusan IOPC kini berfokus pada status perkara disipliner di jalur misconduct.
Keputusan IOPC dan perubahan aturan
IOPC mengatakan pada Januari telah menangguhkan tindakan apa pun yang melibatkan Blake, sambil menunggu perubahan undang-undang terkait penggunaan kekuatan dalam perkara misconduct. Penundaan itu dimaksudkan agar dampaknya terhadap kerangka akuntabilitas dapat dipahami secara jelas.
Dalam perkembangan yang disebut menjadi penentu, pada bulan Juni standar pengujian penggunaan kekuatan dalam kasus-kasus seperti ini beralih dari uji hukum perdata menjadi uji hukum pidana. Dengan perubahan tersebut, tindakan yang tidak memenuhi unsur kejahatan diharapkan tidak lagi otomatis dianggap sebagai misconduct.
Kepala Kepolisian Metropolitan, Commissioner Sir Mark Rowley, menilai keputusan IOPC mengakhiri “almost four years of uncertainty” bagi Blake. Ia juga menyebut proses akuntabilitas kepolisian sebagai sesuatu yang “disgraceful”.
Rowley menggunakan kode “NX121” untuk merujuk Blake, dan mengatakan: “Today’s decision finally brings to an end almost four years of uncertainty for NX121, his family and the wider firearms command, with all the considerable worry and stress that has brought. “We also recognise the profound impact on Chris Kaba’s family, who continue to grieve their loss.”
Ia menambahkan bahwa keputusan itu sejalan dengan pembebasan suara bulat oleh juri di Old Bailey serta tidak ditemukannya bukti yang menunjukkan NX121 gagal menjalankan tugasnya. Rowley menyatakan: “Since NX121’s unanimous acquittal by an Old Bailey jury, and in the absence of any evidence that he failed in his duties, we have been clear and consistent in our view that he should not face a misconduct hearing.”
Menurut Rowley, keputusan ini juga menjadi “must be a milestone moment” untuk memulihkan sistem akuntabilitas kepolisian. Ia menilai: “No police officer is above the law, but we have been clear the system holding police to account is broken,” serta menegaskan bahwa mekanisme berlapis yang membuat hidup tertahan bertahun-tahun adalah perlakuan yang tidak pantas.
Rowley berkata: “Your life being on hold for four years or more as you go through multiple accountability processes is a disgraceful way to treat brave men and women. I also see the profound effect these cases routinely have on officers’ families. “Criminals are held to account once by the courts – officers can be held to account four times through criminal, misconduct, civil and inquest processes that span years. That cannot be right.”
Berita Terkait
Di sisi lain, Amanda Rowe selaku direktur engagement IOPC menyatakan bahwa lembaganya “always sought to avoid any unnecessary delays” dalam kasus Blake. Namun ia menilai tetap tepat bila proses didiamkan sampai dampak legislasi baru diketahui.
Rowe menjelaskan: “Having considered both our policy and the representations from the Kaba family and Sgt Blake, we have today notified them of our decision to withdraw disciplinary proceedings.”
Arah proses lanjutan dan ruang pemeriksaan lain
IOPC menegaskan bahwa langkah pengunduran proses disipliner kini membuat peran pemeriksaan kematian melalui proses lain menjadi agenda berikutnya. Seorang koroner akan memutuskan apakah perlu digelar inquest terkait kematian Kaba.
Tanggapan kelompok kampanye dan pernyataan pihak kepolisian
Keputusan IOPC dikritik oleh Justice for Chris Kaba Campaign serta organisasi Inquest. Keduanya menyebut keputusan ini sebagai pukulan bagi keluarga Kaba.
Temi Mwale dari Justice for Chris Kaba Campaign mengatakan keputusan tersebut mengirim pesan yang “dangerous message”. Sementara Deborah Coles dari Inquest menyatakan bahwa keputusan itu menandakan: “police can act with impunity”.
Paula Dodds, ketua Metropolitan Police Federation, justru mendukung keputusan IOPC. Ia mengatakan: “Police officers are of course – and rightly – highly accountable for their actions. But the officer has sadly suffered years of legal scrutiny following this incident,” serta menambahkan: “We are pleased this has all now concluded and that the officer can continue to serve the public without this hanging over him.”
Seorang juru bicara Wali Kota London, Sir Sadiq Khan, menyatakan keputusan IOPC dinilai benar karena penilaian dilakukan secara independen terhadap keseluruhan keadaan perkara. Ia menegaskan: “The mayor is clear that all lessons from this case must be learned for the benefit of the police, families and communities impacted.”
Di kesempatan berbeda, pemimpin Konservatif di City Hall, Susan Hall AM, menyambut kabar tersebut. Ia menyatakan: “This disgraceful investigation should never have begun in the first place.”
Hall juga menilai bahwa Wali Kota dan IOPC dinilai tidak memberikan dukungan politik maupun organisasi yang dibutuhkan bagi polisi. Ia berkata: “The mayor and the ideologically captured IOPC are failing our police officers, not least our firearms officers, every day by refusing to provide the political and organisational support to the brave men and women who put themselves in harms way to keep us safe.”
Menurut pernyataannya, Blake dianggap telah “let down at every stage” dan ia menyerukan: “heads must roll”.












