Hukum & Kriminal

Drone bermuatan bahan peledak ditemukan di Bandara Leipzig, Jerman

×

Drone bermuatan bahan peledak ditemukan di Bandara Leipzig, Jerman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Drone carrying explosives found at Leipzig airport in Germany

jurnalistik.co.id – Sebuah drone yang membawa perangkat peledak dilaporkan ditemukan di Bandara Leipzig/Halle, Jerman, pada malam hari. Insiden ini memicu pengerahan aparat dan langkah penanganan terkontrol di area bandara.

Menurut Kepolisian negara bagian Saxony, perangkat itu pertama kali terdeteksi oleh seorang karyawan yang melihat drone di dekat pesawat kargo milik Ukraina yang sedang diparkir. Temuan tersebut terjadi semalaman, sebelum ada insiden lain yang melibatkan pesawat kargo di wilayah yang sama.

Aparat kemudian menurunkan sebuah robot untuk memeriksa dan menangani perangkat. Pada tahap berikutnya, pemicu atau detonator dilepas dari rangkaian peledak oleh tim yang melakukan penanganan di lokasi.

Setelah detonator berhasil dikeluarkan, polisi melaksanakan tindakan ledakan terkontrol. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari prosedur penanganan barang berbahaya, demi memastikan perangkat tidak menimbulkan risiko lebih lanjut.

Hasil investigasi awal juga menyebut adanya objek kedua yang tidak teridentifikasi dan sempat mengalami tabrakan dengan pesawat kargo di dekat bandara tersebut. Setelah kejadian itu, kru melaporkan adanya kerusakan ringan pada pesawat.

Pesawat yang disebut mengalami kerusakan ringan kemudian mendarat di Hanover. Otoritas menyatakan bahwa kerusakan yang terdeteksi tidak disebut sebagai kerusakan berat, namun tetap menjadi perhatian karena insiden terjadi di lingkungan bandara.

Operasional landasan pacu juga terdampak. Penerbangan di landasan utara dilanjutkan pada pukul 01:55, yang bertepatan dengan 23:55 GMT pada Selasa. Sementara itu, landasan selatan tetap ditutup.

Dalam keterangan terpisah, peringatan keamanan disampaikan mengingat beberapa bulan terakhir adanya penerbangan drone tanpa izin di sejumlah lokasi sensitif. Area yang disebut mencakup pangkalan militer, bandara, terminal energi, pelabuhan, hingga perusahaan logistik.

Kepolisian menegaskan bahwa overflight atau penerbangan drone semacam itu berpotensi dirancang oleh aktor asing. Otoritas juga mengingatkan kemungkinan keterlibatan agen Rusia dalam rangkaian insiden tersebut.

Bandara Leipzig/Halle di Jerman timur disebut memiliki peran strategis. Lokasi itu digunakan oleh militer Jerman dan sekutu NATO untuk pengangkutan barang-barang militer.

Selain itu, bandara tersebut juga menjadi basis bagi Antonov Airlines milik Ukraina, maskapai yang mengangkut sebagian besar kargo udara negara tersebut. Di sisi lain, Leipzig/Halle juga berfungsi sebagai simpul logistik besar untuk grup DHL.

Juru bicara polisi menyampaikan bahwa objek bermuatan bahan peledak terdeteksi di dekat pesawat Antonov yang sedang diparkir. Dalam penjelasan itu, polisi juga menegaskan bahwa detonator sudah dilepas dari perangkat sebelum ledakan terkontrol dilakukan.

Menteri Dalam Negeri Saxony, Armin Schuster, menggambarkan insiden ini sebagai “very serious security incident”. Ia menyatakan bahwa situasi yang terjadi termasuk kategori sangat serius dari sisi keamanan.

Menurut pemberitaan, otoritas Jerman belum merilis rincian lain terkait asal-usul perangkat atau pihak yang bertanggung jawab. Namun, komentar politik dan analisis keamanan kemudian muncul dari pihak-pihak terkait.

Dari sisi Ukraina, Duta Besar Ukraina untuk Jerman, Oleksii Makeiev, menyampaikan pandangan kepada Welt TV dengan kalimat, “Who else could it be but Russia?”. Rusia belum memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut.

Analisis keamanan juga disampaikan oleh Peter R Neumann, profesor Kajian Keamanan di King’s College London. Ia menulis di X bahwa “Since last night, the drone war has reached Germany. And it exposes a weakness that we’ve known about for years”.

Neumann merujuk pada pola insiden drone dan perangkat berbahaya yang dinilai terus meluas ke wilayah Eropa. Ia menilai bahwa temuan di Leipzig menjadi indikator adanya celah yang telah lama disadari dalam situasi keamanan.

Dalam catatan historis, pada Juli 2024 dilaporkan ada paket yang meledak dan terbakar di area darat Bandara Leipzig/Halle. Kejadian itu terjadi sebelum paket sempat dimuat ke pesawat kargo DHL.

Insiden tersebut termasuk dalam serangkaian kebakaran paket yang menarget Inggris dan negara-negara di Uni Eropa. Otoritas menyebut adanya kecurigaan sabotase yang berkaitan dengan Moskow.

Menurut keterangan otoritas, paket-paket tersebut berisi perangkat peledak yang diaktifkan oleh timer elektronik. Timer itu disembunyikan di dalam bantalan pijat getar atau vibrating massage pillows.

Rusia membantah keterlibatan dalam rangkaian insiden itu. Selain itu, kasus lain juga disebut pernah terjadi terkait pengumpulan informasi.

Tahun lalu, seorang perempuan asal Tiongkok dinyatakan bersalah karena meneruskan informasi tentang jadwal penerbangan dan pergerakan kargo di Bandara Leipzig/Halle kepada seorang pria yang diduga bekerja untuk kepentingan pengintaian Beijing.

Dengan latar tersebut, polisi dan otoritas keamanan tampak berupaya memastikan insiden terbaru tidak berkembang menjadi risiko yang lebih luas. Penanganan perangkat melalui robot, pelepasan detonator, serta ledakan terkontrol menjadi bagian dari langkah untuk memulihkan keamanan di area bandara.

Sementara itu, status penutupan landasan selatan dan pemulihan penerbangan di landasan utara menunjukkan bahwa otoritas tetap menerapkan pembatasan operasional demi investigasi dan evaluasi keselamatan. Insiden ini juga kembali menegaskan bahwa pengamanan terhadap ancaman berbasis drone menjadi prioritas di bandara-bandara Eropa.