Hukum & Kriminal

Evakuasi Jenazah Korban Penembakan di Yahukimo, Papua: Dari Dasar Jurang Sedalam 50 Meter

×

Evakuasi Jenazah Korban Penembakan di Yahukimo, Papua: Dari Dasar Jurang Sedalam 50 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jenazah Korban Penembakan di Yahukimo Papua Dievakuasi dari Dasar Jurang Sedalam 50 Meter

jurnalistik.co.id – Jenazah Teina Alya, salah satu korban penembakan oleh kelompok bersenjata OPM di Yahukimo, Papua Pegunungan, dievakuasi dari dasar longsoran Kali Kolof yang berada pada kedalaman sekitar 50 meter. Evakuasi dilakukan setelah lokasi jenazah teridentifikasi dan dinilai memungkinkan dijangkau lewat teknik penanganan khusus.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna, menyampaikan bahwa TPNPB-OPM membuang jenazah Teina Alya ke dasar longsoran tersebut usai penembakan terhadap warga sipil di Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, pada Senin (20/7/2026). Pengumuman terkait proses evakuasi disampaikan pada Jumat (31/7/2026).

Wirya menjelaskan, penentuan titik keberadaan jenazah dilakukan melalui pemantauan dari udara. Ia menyebutkan penemuan itu berawal dari pengamatan menggunakan drone di sekitar area kejadian.

“Berdasarkan pengamatan dari drone, ditemukan lokasi keberadaan jenazah berada di longsoran Kali Kolof dengan kedalaman 50 meter, yang berjarak 100 meter dari lokasi penembakan,” kata Wirya dalam keterangannya, Jumat.

Menurut Wirya, jarak antara titik penembakan dan lokasi jenazah menjadi petunjuk atas upaya yang dilakukan pelaku setelah peristiwa terjadi.

“Hal ini mengindikasikan adanya upaya untuk menghilangkan jenazah yang dilakukan oleh kelompok OPM,” ungkap dia lagi.

Proses pengangkatan, lanjut Wirya, berlangsung dengan tingkat kesulitan tinggi karena kondisi medan yang terjal. Jenazah berada di dasar longsoran, sementara tebing di sekelilingnya curam, sehingga jalur evakuasi tidak dapat dilakukan secara biasa.

Untuk itu, evakuasi hanya bisa dikerjakan dengan teknik vertical rescue atau rappelling. Tim lebih dulu menyiapkan penguasaan titik ketinggian di area sekitar lokasi agar pelaksanaan penurunan personel berjalan aman dan terkendali.

“Sebelum proses evakuasi dilakukan, personel terlebih dahulu menguasai titik-titik ketinggian di sekitar lokasi untuk memastikan situasi benar-benar aman dari potensi gangguan,” ucap dia.

Setelah situasi dinyatakan aman, tiga personel Koops TNI Habema kemudian diturunkan menggunakan tali karmantel ke bagian dasar jurang. Dari titik tersebut, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah sebelum proses pengangkatan dilakukan secara bertahap.

Pengangkatan dilakukan perlahan hingga akhirnya jenazah berhasil dibawa naik ke permukaan tebing. Setelah evakuasi dari lokasi longsoran selesai, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Dekai untuk penanganan lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

Wirya menyebutkan, penyerahan jenazah dilakukan setelah proses penanganan medis selesai, serta melibatkan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh gereja, dan kepala suku. Rangkaian tahapan itu dimaksudkan agar pemakaman dapat dilakukan sesuai adat istiadat serta keyakinan keluarga.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi bukan hanya hasil kerja satu unsur, melainkan merupakan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, TNI, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat bahu-membahu untuk memastikan proses berjalan sesuai kebutuhan kemanusiaan.

“Dalam kondisi apa pun, keselamatan masyarakat dan penghormatan terhadap setiap korban tetap menjadi prioritas,” jelas dia.

Wirya juga menggarisbawahi bahwa tugas TNI di Papua tidak hanya berfokus pada aspek keamanan. Ia menyatakan TNI menjalankan fungsi perlindungan dan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat, khususnya saat situasi darurat terjadi.

Di akhir penjelasannya, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna mengimbau seluruh pihak untuk menghindari tindakan kekerasan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa baru. Ia menekankan penyelesaian masalah seharusnya ditempuh melalui jalan damai.

“Permasalahan yang ada hendaknya diselesaikan melalui cara-cara yang damai demi terciptanya situasi keamanan yang kondusif serta keberlangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua,” pungkas dia.

Sebelumnya, Teina Alya disebut sebagai salah satu dari tiga warga sipil yang ditembak mati oleh kelompok bersenjata OPM pada Senin (20/7/2026). Setelah rangkaian evakuasi berlangsung, keluarga dan pihak terkait akan melanjutkan proses pemakaman sesuai tata cara yang dianut di lingkungan setempat.