Olahraga

Piala Dunia 2026: Alasan Menyaksikan Semua Laga Babak 32 Besar

×

Piala Dunia 2026: Alasan Menyaksikan Semua Laga Babak 32 Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Reasons to watch every tie in the last 32

jurnalistik.co.id – Tournament Piala Dunia 2026 sudah melewati 72 pertandingan, dan kini perhatian beralih ke 32 laga berikutnya. Harry Kane dan Thomas Tuchel menilai pagelaran ini seolah terbagi menjadi dua babak besar: fase pertama sudah selesai, sementara “tournament kedua” dimulai pada Minggu malam.

Bagian pertama dipenuhi pemecahan rekor, kisah underdog yang terus menanjak, perebutan Golden Boot yang berlangsung sengit, serta beberapa kontroversi yang mewarnai jalan turnamen. Di saat yang sama, manusia terbukti mengalahkan proyeksi superkomputer: dari delapan tim peringkat ketiga terbaik, tujuh di antaranya baru bisa lolos setelah mengumpulkan empat poin.

Babak 32 besar sendiri menghadirkan paket knockout klasik: nama-nama besar, tim-tim yang tampil sebagai “kuda hitam”, dan juga beberapa momen bergaya kisah dongeng. Laga-laga ini akan membawa penonton ke panggung menuju New York New Jersey Stadium pada 19 Juli, dengan 16 duel yang sarat subplot.

Kenapa menonton semuanya?

Karena tiap pertandingan membawa cerita yang berbeda, mulai dari persaingan berbasis sejarah, upaya pembalasan, hingga benturan gaya permainan yang sulit diprediksi. Berikut sejumlah pertarungan yang—menurut pengulas—paling layak disaksikan dari awal sampai akhir babak 32 besar.

South Africa vs Canada menjadi salah satu laga yang terasa “wilayah baru” bagi kedua tim. Ini juga menandai momen ketika Canada bermain di luar tanah kelahiran, dengan ekspektasi suporter yang rela datang jauh hingga Los Angeles.

Lalu pada 29 Juni, Brazil menghadapi Jepang. Duel ini diposisikan sebagai pertarungan antara bintang-bintang “melawan sistem”: Jepang menumbangkan juara lima kali, dengan skor 3-2, pada Oktober lalu. Dua puluh tahun berselang, Jepang juga datang membawa niat membalas kekalahan 4-1 di fase grup 2006.

Pada hari yang sama, Jerman meladeni Paraguay. Penggambaran ceritanya jelas: Paraguay datang untuk membalas kekalahan 1-0 di babak 16 besar pada 2002, sambil menunggu kemungkinan menantang Prancis jika keluar sebagai pemenang.

Selanjutnya pada 30 Juni, Belanda bertemu Maroko. Belanda diprediksi sebagai kandidat juara, sedangkan Maroko datang dengan modal pengalaman karena pernah mencapai semifinal empat tahun lalu. Mereka juga dikatakan menambah Ayyoub Bouaddi, pemain berusia 18 tahun yang disebut sebagai “wonderkid” incaran, untuk mengisi lini tengah.

Masih pada 30 Juni, laga Ivory Coast vs Norway menonjol karena duel Erling Haaland melawan pertahanan Ivory Coast yang disebut tidak kebobolan dalam 10 kualifikasi. Di atas kertas, hanya satu hal yang dijadikan semacam “jaminan”: dukungan Norway dengan gaya “Viking rowing” untuk membawa mereka melaju hingga Dallas.

Hari yang sama juga mempertemukan Prancis dengan Swedia. Di kubu Prancis, kekuatan serang disebut melimpah, tetapi justru bagian belakang lapangan memberi cerita yang paling menarik: Viktor Gyokeres berhadapan dengan William Saliba, yang merupakan rekan satu tim di Arsenal. Pertanyaannya sederhana: siapa yang mampu keluar sebagai pemenang dalam duel yang mempertemukan dua kelas pemain.

Pada 1 Juli, Meksiko menghadapi Ekuador dengan laga yang berlangsung di Azteca. Waktu kick-off yang lebih awal disebut layak dijadikan penanda karena suasananya dinilai akan menjadi tontonan tersendiri.

Di saat yang sama, Inggris menghadapi DR Congo. Thomas Tuchel sebelumnya disinggung sebagai bagian dari “latar” turnamen, dan laga ini digambarkan sebagai satu-satunya pembuka yang ramah keluarga untuk Inggris di sepanjang gelaran tersebut.

Masih pada 1 Juli, Belgia bertemu Senegal. Kedua tim disebut menahan penampilan terbaik hingga fase grup terakhir, namun ada sinyal bahwa kilau itu mungkin masih tersisa. Senegal sendiri dicatat sebagai peringkat ketiga yang secara resmi menjadi yang terburuk dalam kualifikasi, tetapi mereka tetap mencetak delapan gol ketika bersua Prancis, Norwegia, dan Irak, sementara gangguan di luar lapangan disebut sudah berada di belakang mereka.

Pada 2 Juli, Amerika Serikat menantang Bosnia-Herzegovina. Bukan berada di tanggal 4 Juli, tetapi tuan rumah bersama disebut melaju dengan mood percaya diri menuju San Francisco Bay, meski pada laga grup terakhir yang “dead-rubber” mereka kalah tipis dari Turki.

Lawan yang dihadapi juga membawa catatan: Bosnia-Herzegovina disebut lolos dengan “mengambil” tiket dari Italia pada Maret, tetapi gagal menunjukkan daya tarik besar pada tahap awal. Pertemuan ini karenanya terasa seperti kesempatan untuk membuktikan arah permainan sejak menit awal.

Pada hari yang sama, Spanyol menghadapi Austria. Laga ini diperkirakan bertabrakan antara ukuran dan gaya: Lamine Yamal yang dikabarkan sudah fit kembali bakal berhadapan dengan kampiun Eropa, sementara Austria digambarkan lebih langsung. Mereka juga disebut lolos lewat momen-momen akhir di pertandingan terakhir mereka.

Pada 3 Juli, Portugal berhadapan dengan Kroasia. Judul ceritanya “last dance”: ada kekhawatiran kuat bahwa Piala Dunia berikutnya tidak lagi memuat Luka Modric yang berusia 40 tahun dan Cristiano Ronaldo yang sudah 41 tahun. Karena itu, salah satu rentang karier mereka di panggung Piala Dunia berpeluang berakhir pada dini hari Jumat.

Pada jadwal yang sama, Swiss menghadapi Aljazair. Swiss disebut selalu hadir di turnamen ini, tetapi kini mereka mengejar kemenangan pertama di babak knockout setelah delapan percobaan. Aljazair membawa pemain muda berusia 20 tahun, Ibrahim Maza, yang dijuluki “Mazadona”.

Masih pada 3 Juli, Australia bertemu Mesir. Mohamed Salah disebut mengejar rekor pencetak gol untuk Mesir, dan subplot ini dianggap menarik karena Hossam Hassan—yang juga berstatus manajer—pernah menarik Salah keluar 12 menit memasuki babak kedua pada pertandingan terakhir mereka. Saat itu, Salah hanya terpaut satu gol dari rekor tersebut.

Babak 32 besar berlanjut dengan Argentina menghadapi Cape Verde. Meski pertarungan di atas kertas tampak timpang—Lionel Messi yang mencetak enam gol menghadapi Vozinha, kiper Cape Verde berusia 40 tahun—veteran itu disebut sudah punya dua clean sheet dan bahkan menjadi ikon nasional di musim panas ini. Artinya, “besar kecilnya nama” tidak otomatis menerjemahkan hasil.

Penutup pada 4 Juli mempertemukan Kolombia dengan Ghana. Laga di Kansas City ini disebut akan bekerja untuk semua indera penonton, karena Kolombia sejauh ini menampilkan nuansa yang kuat di tribun: suporter memenuhi stadion dengan warna kuning dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan. Sementara itu, pendukung Ghana diprediksi akan memberi perlawanan yang sama sengit.

Dengan 16 duel yang masing-masing punya skenario sendiri—pembalasan, kejutan, dan duel gaya—babak 32 besar bukan sekadar rangkaian pertandingan. Ini adalah panggung tempat setiap tim harus membuktikan bahwa “tournament kedua” benar-benar layak ditonton dari laga pertama hingga laga terakhir.