jurnalistik.co.id – Perjalanan Iran di Piala Dunia 2026 berakhir getir: status tak terkalah di fase grup tak cukup untuk mengantar mereka ke babak 32 besar. Tiket itu hilang lewat selisih gol, dan kemalangan datang pada momen-momen pamungkas—dua kali.
Di bawah Amir Ghalenoei, skuad “Team Melli” sempat menatap peluang besar menembus knockout. Meski tidak pernah kalah saat liga grup berjalan, Iran harus mengakui bahwa hasil akhir ditentukan oleh detail.
Drama vs Mesir di Seattle
Duel melawan Mesir di Seattle menjadi penentu. Iran tahu kemenangan membuka jalan ke putaran 32, namun mereka tertinggal lebih dulu sebelum akhirnya menyamakan kedudukan.
Mehdi Taremi mendapat kesempatan lewat penalti, tetapi sepakan itu diblok. Ramin Rezaeian kemudian menemukan jalan lewat penyelesaian dari sudut sempit untuk mengembalikan keseimbangan.
Skor 1-1 bertahan sampai injury time babak kedua. Dalam perebutan bola di depan gawang yang sempat berantakan, Shoja Khalilzadeh menuntaskan situasi tersebut menjadi gol.
Usai gol, Khalilzadeh melepas kaus—tindakannya berujung kartu—lalu berpose untuk foto dengan sepasang kacamata hitam. Namun suasana cepat berubah karena gol itu dianulir offside.
Keputusan tersebut termasuk yang paling ketat. Ujung sepatu Khalilzadeh marginal berada di depan defender tepat sebelum garis penentuan, sehingga Iran harus menunggu apakah mereka bisa masuk fase knockout untuk kali pertama dengan hasil akhir tetap 1-1.
Mesir pun melaju lewat drama menit-menit terakhir. Sementara itu, peluang Iran harus menunggu kepastian dari pertandingan lanjutan.
Keputusan akhir lewat laga Algeria vs Austria
Nasib Iran kemudian ditentukan oleh laga lain di fase grup. Saat Algeria berhadapan dengan Austria, pertandingan yang semula berpotensi berakhir 2-2 justru menyimpan jalan untuk menghapus harapan Iran.
Segalanya berubah ketika Riyad Mahrez melesat dan membawa Algeria unggul pada menit ke-93. Pada fase akhir, “Team Melli” kembali berada di ambang kualifikasi.
Namun, drama belum selesai. Austria terus menekan hingga Sasa Kalajdzic menyamakan lewat sundulan pada menit ke-96, menyisakan detik-detik terakhir.
Kali ini, kebahagiaan Iran kembali dicabut pada menit paling akhir dalam rentang 24 jam. Pada akhirnya, Algeria dan Austria sama-sama memastikan tempat di babak 32 besar.
Senegal kemudian mengunci jatah terakhir bagi tim peringkat tiga lewat selisih gol yang lebih baik. Sementara itu, Cape Verde—seperti Iran—berakhir dengan tiga kali hasil imbang dan melaju sebagai runner-up Grup H.
Yang membuat kegagalan ini makin mencolok adalah rintangan unik yang harus mereka hadapi sejak awal persiapan. Iran bersaing di tengah konflik negara mereka dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pusat latihan tim dipindahkan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, sebelum turnamen dimulai. Iran juga mengalami pembatasan perjalanan sepanjang proses persiapan.
Iran hanya diizinkan masuk ke Amerika Serikat sehari sebelum dua pertandingan awal mereka. Setelah itu, mereka harus kembali pergi pada hari yang sama sesuai ketentuan visa.
Ghalenoei kemudian menggambarkan situasi tersebut sebagai “most oppressed” di ajang turnamen. Ia menyebut skuadnya “robbed” dari waktu persiapan dan hanya mendapat “less than half” dari jendela latihan yang dibutuhkan, sementara tim lain menikmati kondisi normal.
Pembatasan perjalanan itu sempat dilonggarkan menjelang laga di Seattle. Mereka dapat tiba dua hari lebih awal, tetapi setelah pertandingan harus kembali ke Tijuana.
Kekecewaan itu kembali ia sampaikan seusai laga. “To my players and the team, I want to say to them I’m proud of them. “What these young people, these players have done, it should be written in history because the host country treated us very unfairly.
“Despite all of these problems, we’ve been able to perform well and the world is proud of Iranians and our team. “I urge Fifa: don’t let hosts treat players and teams the same way in future World Cups.”












