Peristiwa

Kostum Papua Nyentrik Jadi Sorotan di Bhayangkara Community Fun Run

×

Kostum Papua Nyentrik Jadi Sorotan di Bhayangkara Community Fun Run

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Di Balik Kostum Papua yang Mencuri Perhatian di Bhayangkara Community Fun Run...

jurnalistik.co.id – Bhayangkara Community Fun Run di Jakarta pada Minggu (28/6/2026) menyedot perhatian ribuan peserta. Di tengah arus pelari, sekelompok peserta justru tampil menonjol dengan kostum Papua yang nyentrik, lengkap dengan rok rumbai, mahkota bulu, serta riasan khas Papua.

Penampilan tersebut membuat banyak orang spontan menoleh. Sejumlah peserta juga mengabadikan momen memakai telepon genggam, hingga ada yang mengajak berfoto bersama dengan kelompok pelari itu.

Keunikan kostum yang mereka kenakan akhirnya berbuah penghargaan “Best Costume” dalam Bhayangkara Community Fun Run. Pengakuan itu menjadi penanda bahwa gagasan tampil beda mereka mampu menjangkau perhatian publik sejak awal lomba hingga akhir.

Di balik kostum yang mencuri perhatian, rupanya ada cerita yang disiapkan jauh sebelum lomba berlangsung. Kelompok tersebut berasal dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri, dengan jumlah 21 anggota yang kompak mengenakan busana Papua sejak garis start hingga garis finish.

Indra Rahmat Taufik Hidayatullah menjelaskan bahwa proses persiapan bukan keputusan mendadak. “Kami rapat dulu, terus selama dua hari akhirnya mendapat ide menggunakan kostum Papua,” unarnya kepada Kompas.com, Minggu.

Menurut Indra, pemilihan kostum a la Papua berangkat dari niat untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan. Ia menyebut timnya ingin menegaskan bahwa gagasan tentang masyarakat Indonesia tidak seharusnya dibedakan, termasuk ketika Papua kerap lebih sering diberitakan karena persoalan konflik.

Indra menilai masyarakat Papua sejatinya bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia dan memiliki nilai yang sama dengan daerah lain. “Kenapa menggunakan kostum Papua? Karena kami mencintai masyarakat, bukan pilih-pilih. Dari Sabang sampai Merau,” kata Indra.

Ia juga menegaskan pandangan bahwa gambaran Papua di ruang publik tidak boleh dipersempit pada konflik semata. “Mungkin Papua sering terdengar karena konflik-konfliknya saja. Tapi menurut kami sebenarnya semua baik. Masyarakatnya, warga negara Indonesia, semuanya baik,” jelas dia.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan secara konkret saat perlombaan berlangsung. Kelompok 21 anggota Puslitbang Polri memilih tampil kompak dengan kostum Papua sejak awal hingga menuntaskan lari di garis akhir, agar pesan kebersamaan dan persatuan terasa jelas di tengah keramaian.

Indra mengakui bahwa mereka harus berlari dengan atribut yang lebih lengkap dibanding peserta lainnya. Meski demikian, ia menyatakan perbedaan itu tidak mengganggu pelaksanaan lomba. “Kami melaksanakannya dengan senang, dengan ikhlas. Jadi tidak merasa kesulitan,” kata dia.

Bagi tim, penghargaan “Best Costume” dipandang sebagai bonus dari kebersamaan yang telah dibangun sebelum perlombaan dimulai. Kompaknya persiapan dan keselarasan penampilan dinilai menjadi bagian dari upaya menampilkan satu pesan yang sama, bukan semata-mata mengejar sorotan sesaat.

Lebih jauh, Indra berharap semangat yang mereka tampilkan melalui kostum Papua bisa menjadi pengingat bagi anggota Polri. Harapannya bukan hanya berhenti pada ajang Bhayangkara Community Fun Run, melainkan meluas pada cara bertugas dan berinteraksi dengan masyarakat.

“Harapan kami di Hari Bhayangkara ini, semua anggota Polri dapat melaksanakan tugas dengan ikhlas, dipercaya masyarakat, menyatu dengan masyarakat, sehingga masyarakat merasa nyaman dan aman,” ucap Indra.

Dengan demikian, kostum Papua yang terlihat kontras di antara ribuan pelari ternyata membawa tujuan yang lebih dalam. Di balik rok rumbai, mahkota bulu, dan riasan khas Papua, kelompok Puslitbang Polri ingin menegaskan satu kesatuan: dari Sabang sampai Merauke, tanpa pilih-pilih dalam memandang sesama warga negara.

Sejak keberangkatan, kelompok tersebut memang tampil dengan susunan kostum yang serasi dan dikenakan secara konsisten hingga menuntaskan rute. Atribut yang mereka pakai—mulai dari rok rumbai, mahkota bulu, hingga riasan khas Papua—membuat keberadaan tim mudah dikenali di tengah kerumunan pelari yang memadati lintasan.

Bagi Indra, rangkaian persiapan dan cara mereka berpartisipasi adalah bagian dari penegasan pesan persatuan yang ingin disampaikan tanpa pilih-pilih. Ia juga menekankan bahwa perhatian publik semestinya tidak berhenti pada isu konflik, karena warga Papua juga memiliki kedudukan dan nilai yang sama sebagai bagian dari Indonesia. Dari ajang fun run itu, tim berharap semangat tersebut ikut terbawa ke cara anggota Polri berinteraksi dan menjalankan tugas di masyarakat.