Olahraga

Kontrak baru, awal baru, lalu mendadak keluar: Jejak Steve Clarke di timnas Skotlandia

×

Kontrak baru, awal baru, lalu mendadak keluar: Jejak Steve Clarke di timnas Skotlandia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: New deal, new beginnings & a sudden exit - Steve Clarke's Scotland timeline

jurnalistik.co.id – Dalam rentang 31 hari, Steve Clarke merasakan fase yang nyaris berbanding terbalik bersama timnas Skotlandia: mulai dari penandatanganan kontrak baru hingga pengunduran diri yang datang mendadak setelah kiprah Piala Dunia berakhir.

Penelusuran BBC Sport Scotland menunjukkan betapa cepat suasana berubah. Kekalahan Skotlandia dari Brasil di Miami pada Rabu menjadi titik balik, sekaligus menutup harapan mereka untuk tampil lebih jauh di turnamen yang seharusnya jadi panggung besar bagi negara tersebut.

Jika waktu terasa bergerak cepat, angka di kalender justru memperjelasnya. Itu hanya jeda antara momen Clarke meneken kesepakatan baru empat tahun dan pengumuman mundurnya sebagai pelatih kepala Skotlandia.

Kontrak empat tahun dan optimisme yang “dibangun untuk masa depan”

Pada 28 Mei, Clarke mengumumkan kesepakatan baru empat tahun. Ia menegaskan bahwa langkah itu penting untuk “plan for the future” dan memberi “certainty ahead of the World Cup”, sekaligus meletakkan “foundations for the long term”.

Pertanyaan sempat muncul karena waktunya berdekatan dengan awal Piala Dunia. Namun, bagi sebagian pihak, kontrak itu tetap menawarkan pegangan sebelum Skotlandia kembali tampil di turnamen terbesar setelah penantian panjang.

Menariknya, pernyataan lain yang ia sampaikan 15 bulan sebelumnya ikut menimbulkan sorotan. Clarke pernah menyebut ada “75% chance” ia “will not renew his contract after the World Cup”, sehingga penandatanganan empat tahun membuat banyak orang bertanya-tanya.

Pra-Piala Dunia: kemenangan uji coba, kamp latihan, dan nuansa baru

Tiga hari setelahnya, pada 30 Mei, Skotlandia melangkah dengan bekal uji coba saat menang atas Curacao dengan mengandalkan momen saat melawan 10 pemain. Clarke menilai laga itu memberi “glimpse into the future”, terutama setelah Findlay Curtis mencetak gol dan Tyler Fletcher menjalani debut—dengan latar sebagai putra Darren.

Usai pertandingan pelepasan di Hampden, skuad berangkat dengan nada tinggi. Mereka membawa target yang sama: membuat sejarah saat kembali ke Piala Dunia.

Pada 31 Mei, Skotlandia terbang ke Fort Lauderdale, kawasan di utara Miami, untuk kamp latihan pra-turnamen yang berlangsung dalam kondisi panas sekaligus dipenuhi petir. Keputusan ini dipandang krusial setelah ada perdebatan mengenai pilihan kamp sebelumnya untuk fase Kejuaraan Eropa.

Di fase ini, Clarke juga menggambarkan adanya perubahan budaya dalam tim. Ia memberi ruang bagi pemain untuk beristirahat, menyesuaikan diri, dan merasakan pergeseran suasana dibanding kampanye-kampanye sebelumnya.

Kemudian pada 2 Juni, Clarke berbicara kepada media mengenai penginapan tim. Ia menyebut SFA “had spent more than they wanted to” untuk lokasi tempat mereka tinggal di rumah Lionel Messi saat Inter Miami, tetapi tim tetap mendapatkan “everything they asked for”.

Steven Naismith, asisten Clarke, menegaskan belakangan bahwa pemain dimintai pendapat tentang apa yang mereka sukai dan tidak mereka sukai dari turnamen-turnamen sebelumnya. Konsultasi tersebut juga menempatkan aklimatisasi serta kamp pra-turnamen yang lebih panjang sebagai prioritas.

Puncaknya, pada 6 Juni, laga pemanasan terakhir menjadi sinyal bahwa persiapan berjalan sesuai kemauan Clarke. Skotlandia menang 4-0 atas Bolivia, dan Clarke mengatakan, “for once I got everything I asked for”.

Di momen yang sama, suasana kamp dinilai makin hidup. Ada keyakinan bahwa mereka bisa “do something special” di Boston, Miami, dan bahkan melampaui itu.

Kamp resmi dimulai di Charlotte dan Clarke mengubah gaya bicara

Pada 8 Juni, kamp resmi Skotlandia dimulai di Charlotte. Dalam sesi latihan terbuka, Clarke menyapa media yang hadir dengan “welcoming them to Charlotte” dan menyampaikan terima kasih karena datang.

BBC Sport Scotland menyoroti hal itu sebagai detail penting: ia kembali menemui media setelah melakukannya pada 2 Juni. Bagi yang hadir, pendekatan itu dianggap memberi kesan keterbukaan yang berbeda dari edisi turnamen sebelumnya.

Pada 9 Juni, Clarke duduk bersama BBC dan menekankan, “this time it’s a different Clarke”. Ia mengakui secara terbuka bahwa ia tidak menikmati dua turnamen sebelumnya, karena tekanan yang ia pikul terlalu besar hingga tidak memberi ruang untuk “take a beat and enjoy the occasion”.

Kali ini, ia berharap ada perubahan yang nyata. Senyum dan tawa yang muncul disebut sebagai tanda kecil bahwa ia ingin membiarkan diri lebih lepas.

Euforia awal, lalu tekanan yang bertumpuk hingga mundur

Menjelang laga pembuka melawan Haiti, pada 12 Juni, Clarke menyampaikan pelajaran dari turnamen sebelumnya. Ia mengatakan, “don’t want to get humped”, dan menegaskan keinginan untuk “do something special”.

Sejak hasil undian pada Desember, narasi publik yang ramai tetap sama: “beat Haiti, beat Haiti and we qualify”. Clarke tampak tenang dan yakin bahwa timnya siap menghadapi pertandingan pembuka.

Pada 13 Juni, Skotlandia menjalani laga yang “buruk tapi cukup”: mereka menang 1-0 atas Haiti di Boston Stadium, hanya kemenangan Piala Dunia kelima mereka. Ketika performa dipertanyakan, Clarke menjawab, “My boys are all right,”.

Di balik debat itu, kemenangan di panggung besar tetap membawa gelombang lega. Apalagi, performa Cape Verde dan DR Congo membuat momentum kemenangan Skotlandia terasa makin penting.

Pada 15 Juni, di konferensi media di dalam kamp, Naismith sempat bercanda bahwa Clarke seperti “doing cartwheels at breakfast” setelah kemenangan atas Haiti. Fokus pada persiapan pra-turnamen dan dorongan Clarke agar menikmati edisi ini juga tampak menjadi benang merah.

Namun arah berubah pada 19 Juni. Skotlandia kebobolan dalam dua menit pertama saat menghadapi Maroko, dan meski mereka membaik di babak kedua, mereka tetap kalah. Setelah laga, Clarke menerima kritik terkait wawancara yang berlangsung tegang di luar lapangan, ketika ia berkata, “I don’t even know why we do these interviews.”

Pada 23 Juni, menjelang laga melawan Brasil, Clarke sempat bercanda soal kemungkinan kembali ke Azteca Stadium pada fase 16 besar. Ia pernah mencetak gol di sana saat menjadi pemain pada World Youth Championships 1983, dan ia mengungkapkan: “If we have to go to Mexico to play Mexico, we’ll be happy because it will mean we qualified. We’ll be very happy to have the chance to go.”

Tak lama kemudian, pada 24 Juni, Skotlandia tumbang 3-0 dari Brasil di Miami. Peluang mereka untuk mencapai babak gugur untuk pertama kalinya hancur. Setelah pertandingan, pengawasan terhadap pendekatan Clarke di sesi wawancara makin meningkat.

Dalam pertukaran singkat yang tampak tegang, Clarke kemudian menyampaikan kepada media bahwa “for sure we are going home”. Nada negatif itu diyakini membuat basis pendukung terpukul, meski pada saat itu Skotlandia masih memiliki peluang 42% untuk menciptakan sejarah.

Pada 25-26 Juni, ketika persentase peluang turun, akses menuju skuad semakin dibatasi. Tidak ada komunikasi dengan media sementara negara berada dalam ketidakpastian.

Pengunduran diri diumumkan setelah kepastian nasib tim

Pada 27/28 Juni, tepat sebelum tengah malam di Inggris, nasib Skotlandia resmi tertutup ketika Kroasia mengalahkan Ghana untuk memastikan mereka tersingkir sebagai salah satu tim peringkat ketiga dengan ranking terendah. Kejadian itu menutup harapan lanjut dari turnamen.

32 menit setelahnya, kabar pengunduran diri Clarke diumumkan sebagai pelatih kepala Skotlandia. Ia menulis surat untuk bangsa yang panjangnya 1.000 kata, dengan emosi yang ia sebut sebagai “pride, closely followed by satisfaction”, sekaligus menyebut momen “the reconnection of our national team and fans”.

Yang membuat kabar itu terasa lebih mengejutkan adalah pengumuman kepada skuad hanya dilakukan 10 menit lebih awal. Clarke membagikan informasi tersebut kepada orang-orang yang, menurutnya, paling ia acungi terima kasih—dengan salam perpisahan yang penuh emosi, “cheerio”.