Olahraga

Piala Dunia 2026: Algeria vs Austria Tuntas 3-3, Teori Konspirasi Kaitkan “Disgrace of Gijon”

×

Piala Dunia 2026: Algeria vs Austria Tuntas 3-3, Teori Konspirasi Kaitkan “Disgrace of Gijon”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Algeria & Austria defend 'unexpected' draw amid conspiracy theories

jurnalistik.co.id – Bayang-bayang “Disgrace of Gijon” kembali menghampiri sepak bola Piala Dunia. Setelah 44 tahun, Austria dan Algeria menghadapi situasi serupa di turnamen edisi 2026, saat keduanya mengakhiri laga Grup J dengan skor 3-3 yang penuh kejutan di menit-menit akhir.

Dari awal, duel ini sarat pertimbangan karena status kedua tim sama-sama menggantungkan nasib pada hasil imbang. Hanya dengan drawing, mereka bisa melaju, sementara harapan Iran harus bergantung pada dinamika grup lainnya. Pada akhirnya, Austria finis sebagai runner-up grup, sementara Algeria masuk sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Alur pertandingan bergerak cepat dan berubah arah beberapa kali. Austria membuka keunggulan lewat Marko Arnautovic pada menit ke-28, sebelum Rafik Belghali menyamakan kedudukan pada menit ke-45 menjadi 1-1. Marcel Sabitzer lalu mengembalikan keunggulan Austria di menit ke-55, namun Riyad Mahrez menghapus selisih lima menit berselang untuk membawa skor menjadi 2-2.

Setelah itu, permainan terasa seperti menuju klimaks yang menentukan. Mahrez kemudian mencetak gol yang tampak akan menjadi penentu pada sekitar menit ke-93, yang berarti Austria akan terpaksa angkat koper—sementara Iran berpotensi tetap lolos setelah hasil imbang 1-1 mereka menghadapi Mesir. Namun, sepak bola menolak rencana yang terlalu rapi: dengan sisa detik terakhir, Sasa Kalajdzic menyundul bola pada menit ke-96 dan membuat skor berakhir 3-3, sehingga kedua tim memastikan tiket ke fase gugur.

Terlepas dari jalannya pertandingan yang “liar”, beberapa pihak memilih membaca hasilnya dengan kacamata lain. Sejumlah pendukung Iran mengaku merasa dirugikan oleh skenario tersebut dan menyerukan FIFA untuk melakukan investigasi, sambil menyoroti beberapa momen yang mereka unggah di media sosial.

Dalam diskusi komunitas sepak bola, muncul juga teori-teori yang mencoba mengaitkan corak pertandingan ini dengan legenda “Disgrace of Gijon”. Istilah “strolling around” dilemparkan untuk menuduh pemain Austria seolah bergerak tanpa tekanan hingga Algeria menyamakan kedudukan. Ada pula yang menyebut “it was a disgrace”, “the most scripted match I’ve ever seen”, bahkan seorang penggemar melabelinya “a scandal”.

Sejumlah cuplikan yang beredar memperlihatkan dua kubu saat skor sempat menyentuh 2-2 dan dinilai tidak menunjukkan dorongan untuk memenangi pertandingan. Setelah gol kedua Mahrez, beredar video yang memperlihatkan suasana tegang di area dua bangku cadangan, dengan tuduhan bahwa frustasi muncul karena hasil imbang yang semestinya “terganggu”. Dalam satu rekaman lain, Aissa Mandi menutup mulutnya sambil berbicara kepada Mahrez, dan seorang penggemar mengklaim bahwa sang penyerang diberi informasi timnya akan menghadapi Spanyol pada babak 32 besar jika menang, bukan Swiss.

Meski tuduhan demi tuduhan menguat, para pelatih menolak keras gagasan adanya kesepakatan untuk mengatur hasil. Manajer Austria Ralf Rangnick menyebut narasi itu sebagai sesuatu yang “mad”, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang tersusun untuk merekayasa hasil seri. Ia berkata, “If Alfred Hitchcock had written such a drama, I’d say he was completely mad” dan menambahkan, “In this match, when you have a 3-3, nobody can assume that it was an agreement, especially after what we saw during the last 90 seconds,” lalu menegaskan lagi, “If, with three minutes to play, somebody had said this would happen, you would have told them they were mad.”

Rangnick juga menilai jalannya laga justru terlalu tidak terduga untuk disebut skenario yang dirancang. “I’ve been a coach for about 40 years and I don’t even remember a match that had such a dramatic course and such an unexpected trajectory. Most people anticipated a 0-0 or 1-1, and now it’s 3-3. It’s incredible – the dressing room is madness. If Alfred Hitchcock had written such a drama, I probably would have said he was completely mad,” ujarnya. Manajer Algeria Vladimir Petkovic pun senada dengan penolakan serupa, dengan mengatakan, “I’m extremely happy that, at the end, it was football that won, that prevailed – 3-3 as a score says it all,”.

Setelah drama di Grup J, fokus kini bergeser ke fase gugur. Austria akan menghadapi Spanyol di babak 32 besar di Los Angeles pada Kamis, 2 Juli (20:00 BST), sementara Algeria menunggu pertemuan dengan Swiss di Vancouver pada Jumat, 3 Juli (04:00 BST).