jurnalistik.co.id – Di Amerika Serikat, Jude Bellingham mendapat sorak yang terus mengiringi perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026. Bukan cuma soal kilasan penampilan, ia kini dipandang sebagai poros yang sulit digantikan.
Dalam kemenangan 2-0 atas Panama, kontribusi Bellingham menjadi salah satu kunci. Ia mencetak empat gol sepanjang kampanye ini, sekaligus menyumbang assist untuk gol Harry Kane pada laga tersebut.
Yang menarik, Bellingham tampak menerima perhatian itu tanpa berlebihan. Ia tampak berjalan dengan ritme yang sudah ia bawa dari panggung-panggung besar sebelumnya, sampai akhirnya posisi di tim terasa makin “tak tergoyahkan”.
Jejak cepat menuju “inti” Inggris
Rentetan perjalanan Bellingham memang berawal sejak usia yang sangat muda. Ia melakukan debut untuk klub asalnya, Birmingham City, pada usia 16 tahun dan 38 hari, tepatnya pada Agustus 2019. Saat itu, ia menjadi pemain termuda yang pernah tampil untuk Birmingham, sekaligus memecahkan rekor Trevor Francis yang ditetapkan pada 1970.
Dalam laporan scouting Liga Premier dari pertandingan perdananya, kemampuan Bellingham digambarkan dengan istilah “great athleticism, long legs, graceful running and work-rate”. Laporan tersebut juga menyoroti kecakapan teknisnya, termasuk cara ia membawa bola menjauh dari tekanan serta menemukan ruang dengan bergerak di antara lini atau melebar.
Laporan itu bahkan merekomendasikan agar klub Liga Premier yang tidak disebutkan langsung mengamankan jasanya, lalu meminjamkannya lebih dulu sebelum akhirnya memasukkannya ke skuad senior dalam 18 bulan. Hanya dalam setahun, Bellingham pun berangkat—bukan ke Liga Premier, melainkan ke Borussia Dortmund—dengan nilai transfer £20.7m.
Sepanjang kariernya bersama Birmingham, ia tercatat hanya memainkan 44 pertandingan sebelum akhirnya pergi. Sebagai penghormatan, Birmingham City kemudian memensiunkan nomor 22 yang dipakai Bellingham.
Sesampainya di Dortmund, ia langsung memberi dampak pada debutnya. Ia mencetak gol pada pertandingan pertamanya, dengan menjadi pencetak gol kedua saat Dortmund menang 5-0 atas Duisburg di Piala Jerman. Performa awal inilah yang membuat perhatian sepak bola Jerman cepat tertuju padanya.
Dipantau sejak awal, dipercepat ke tim senior
Belum lama kemudian, Gareth Southgate—yang saat itu masih menjabat pelatih Inggris—mulai mengamati Bellingham. Saat dipanggil, ia baru tampil 11 kali untuk Dortmund dan usianya masih 17 tahun, namun ia tetap diberi jalur cepat menuju tim nasional senior.
Debut Bellingham di level senior datang pada November 2020. Ia masuk sebagai pemain pengganti pada akhir pertandingan dalam kemenangan 3-0 atas Republik Irlandia. Setelah itu, tuntutan agar ia menjadi pemain reguler terus menguat seiring penampilannya di liga domestik Jerman.
Meski begitu, Southgate membatasi Bellingham hanya mendapat tiga kali penampilan sebagai pemain pengganti di Euro 2020 yang sempat tertunda, saat Inggris akhirnya melangkah sampai laga final. Di balik pengaturan itu, disebutkan bahwa transisi awal Bellingham dikelola secara teliti.
Steve Holland, yang merupakan asisten Southgate, disebut sebagai tokoh penting dalam proses penyesuaian Bellingham ke dalam skuat, terutama dari sisi aspek defensif dalam permainan. Namun ketika Piala Dunia 2022 di Qatar tiba, Bellingham akhirnya sulit ditahan lagi.
Di turnamen tersebut, ia mencetak gol kepala pertamanya untuk tim senior dalam kemenangan 6-2 atas Iran. Setelah itu, ia menambah sembilan gol lagi. Lalu pada Euro 2024, Bellingham sudah menjadi sosok sentral bagi negaranya.
Periode bersama Real Madrid dan “si karakter utama”
Ketika performanya meningkat, Bellingham juga memasuki era sebagai pemain Real Madrid. Ia telah menjadi bagian skuad hampir setahun sebelum Euro 2024 dan digambarkan sebagai “Galactico”. Pada musim itu, ia mencetak 19 gol untuk klub yang akhirnya menjadi juara La Liga dan Liga Champions.
Di turnamen, hampir semua media ingin mengangkat namanya. Ia juga diberikan kelonggaran untuk melewatkan kewajiban media pada hari-hari turnamen, termasuk karena ia membuat dokumenter multi-bagian miliknya sendiri. Keputusan itu menimbulkan perhatian, sekaligus memunculkan perbincangan dari berbagai pihak.
Di sisi lain, momen setelah final Euro 2024 juga sempat tercatat. Seusai Inggris kalah dari Spanyol, Bellingham memilih menyendiri jauh dari skuat. Meski demikian, dampaknya di lapangan tetap tak bisa dinafikan, termasuk saat ia menyamakan kedudukan lewat tendangan overhead kick pada detik-detik akhir kemenangan Inggris atas Slovakia di babak 16 besar.
Perayaan “who else” yang kini sudah jadi ikon turut menunjukkan tingkat percaya diri yang ia bawa. Tetapi, perayaan itu juga dipandang sebagai salah satu contoh “main character syndrome” yang disebut mulai terlihat di sekitar Southgate dan beberapa pemain.
Berita Terkait
Gangguan di luar lapangan, lalu perubahan arah
Memasuki fase berikutnya, situasi di Real Madrid ikut berubah. Klub tersebut belum lagi memenangi La Liga maupun Liga Champions sejak 2023. Di tengah dinamika di luar lapangan, Bellingham juga tidak mampu menampilkan bentuk dan produktivitas gol seperti di musim pertamanya yang gemilang.
Ia juga sempat mengalami beberapa cedera, termasuk operasi bahu yang membuatnya melewatkan awal musim. Kondisi itu lalu berimbas pada narasi terkait posisinya di Inggris.
Thomas Tuchel sempat mengundang sorotan media pada musim panas terakhir ketika ia menyatakan bahwa ibu Bellingham menilai sebagian perilaku Bellingham di lapangan “a bit repulsive”. Komentar itu menjadi bahan headline dan tidak diterima baik oleh orang-orang terdekat Bellingham. Tuchel kemudian meminta maaf, dengan mengatakan ia “used the word unintentionally”.
Pada Oktober, setelah Bellingham dinobatkan sebagai pemain terbaik Inggris, ia justru dikeluarkan dari skuat Tuchel. Inggris bermain baik tanpa dirinya pada September ketika ia menjalani pemulihan cedera, dan sejak kembali, Bellingham hanya bermain satu pertandingan untuk Real.
Tuchel menjelaskan keputusannya dengan mengatakan, “He is a special player, and for special players there can always be special rules,” lalu menambahkan, “But we decided to keep with the straightforward decision of inviting the same group.” Ia juga menyebut, “Jude always deserves to be here. He wanted to be called up. We had a phone call.”
Laporan di Spanyol kemudian memunculkan skenario lain: disebutkan Bellingham sendiri yang meminta agar tidak dipanggil agar fokus pada kebugarannya. Pada akhirnya, yang terlihat adalah Bellingham tidak lagi dipandang sebagai pilihan utama.
Di bulan Juni, Tuchel bahkan mengatakan Bellingham harus bekerja keras untuk masuk starting line-up Piala Dunia karena skuadnya memiliki “14 or 15 potential starters”. Pada saat itu, Bellingham hanya tampil di setengah dari 14 pertandingan sejak Tuchel mengambil alih pada Januari 2025: empat kali sebagai starter dan tiga kali dari bangku cadangan.
Di tengah semua itu, narasi yang muncul terdengar sederhana namun tajam: “should it be Rogers or Bellingham to start at number 10?”.
Naik lagi lewat laga-laga awal Piala Dunia
Perubahan itu kemudian terlihat ketika pemanasan Piala Dunia berlangsung. Dalam uji coba melawan Selandia Baru dan Kosta Rika, Bellingham tampil menonjol, memberi sinyal bahwa ia kembali masuk rencana utama.
Di laga Piala Dunia pertama melawan Kroasia, ia mencetak gol solo yang membuat Inggris unggul 3-2. Saat menghadapi Panama, ketika Inggris kesulitan mencetak gol pada pertandingan grup terakhir, Bellingham kembali jadi pembeda dengan mencetak gol krusial untuk memecah kebuntuan.
Walau ia diganti di ketiga pertandingan fase grup, bentuk permainannya tetap dinilai kuat. Di babak 32 besar melawan DR Congo, ia bermain penuh dan memberikan pengaruh sepanjang pertandingan.
Lalu datang laga melawan Meksiko. Dua gol yang ia buat dalam kemenangan tandang yang ikonik—yang disebut sebagai salah satu kemenangan tandang terbaik Inggris—menjadi penegasan kebangkitan. Dalam lima pertandingan, ia memenangkan tiga kali penghargaan pemain terbaik pertandingan.
Penghargaan-penghargaan itu membuat Bellingham harus menjalani wawancara media. Dalam kesempatan tersebut, ia menunjukkan kedewasaan sekaligus kerendahan hati: ia menurunkan sorotan pada perannya sendiri, menekankan etos kerja tim, serta berbicara soal kekompakan skuad. Ia juga memuji lawan, bahkan sempat menawarkan salah satu penghargaan pemainnya kepada tim lawan.
Setelah perayaan “who else” pada 2024, kali ini ia menyatakan lebih memilih membantu dengan assist dibanding sekadar mencetak gol. Perubahan cara bicara itu dinilai sejalan dengan apa yang ia tunjukkan di lapangan.
Pekerjaan ekstra dan work-rate menjadi daya dorong yang berjalan bersama bakatnya. Ia juga mendapat pujian karena kemampuan beradaptasi, termasuk bergerak di antara peran nomor 10 dan nomor delapan sesuai kebutuhan tim. Ia disebut sebagai bagian penting dari kelompok kepemimpinan Inggris bersama Kane dan pemain lain.
Menatap babak berikutnya
Belum diketahui secara pasti apa yang terjadi antara Tuchel dan Bellingham. Namun, pertanyaan yang muncul di permukaan adalah apakah semua situasi itu dibesar-besarkan, atau apakah ada upaya kepemimpinan dari pihak pelatih untuk mengatur dinamika skuad. Bisa saja hal itu juga terkait pengelolaan “main character syndrome” yang pernah terlihat.
Terlepas dari jawaban pastinya, Bellingham tampak bahagia, bermain baik, dan menjadi bagian penting dari skuad yang terasa benar-benar solid. Sulit juga untuk melupakan fakta bahwa ia baru berusia 23 tahun—sebuah usia ketika sorotan besar justru menuntutnya untuk cepat dewasa.
Bellingham bersama Kane kemudian dipandang sebagai bintang yang tak tergantikan dalam tim Inggris. Dengan pertandingan perempat final melawan Norwegia yang dijadwalkan pada Sabtu, masih terbuka peluang terciptanya gol-gol tambahan yang semakin mengukuhkan reputasinya.












