Olahraga

Piala Dunia 2026: Saatnya Inggris memberi Jordan Pickford apresiasi yang layak

×

Piala Dunia 2026: Saatnya Inggris memberi Jordan Pickford apresiasi yang layak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Jordan Pickford - Time to finally give England goalkeeper credit he deserves

jurnalistik.co.id – Langkah Jordan Pickford di Piala Dunia 2026 memasuki babak yang menentukan baginya di catatan sejarah Inggris. Saat ia menghadapi Norwegia pada perempat final di Miami, kiper berusia 32 tahun itu berpeluang menorehkan rekor baru bagi negaranya.

Pickford akan menjadi pemain Inggris dengan jumlah penampilan Piala Dunia terbanyak. Ia mencatatkan partisipasi ke-18 di turnamen tersebut, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Peter Shilton dengan 17 penampilan.

Menurut Phil McNulty, momentum itu semakin terasa setelah penampilan Pickford bersama Inggris saat mengalahkan Meksiko 3-2 pada babak 16 besar di Stadion Azteca. Dalam laga itu, Pickford menunjukkan kualitas sebagai kiper utama yang tampil tanpa bergantung pada sorotan sesaat.

Di hadapan tekanan besar, Pickford sempat berada pada fase awal yang belum sepenuhnya mulus di Piala Dunia. Ia dicatat melakukan kesalahan ketika Inggris tertinggal oleh DR Congo di Atlanta, sebelum dua gol Harry Kane pada menit-menit akhir memastikan tiket lanjut.

Namun, saat pertandingan berlanjut ke Azteca, Pickford memperlihatkan permainan terbaiknya bagi Inggris. Ia melakukan dua penyelamatan gemilang pada babak pertama, termasuk menghentikan peluang Raul Jimenez. Setelah itu, ia juga memperkuat kendali di area penalti pada periode kedua yang berlangsung lebih kacau.

Paul Robinson menilai pengambilan keputusan Pickford di momen-momen tersebut mencerminkan keberanian dan kedewasaan. Ia menyoroti penyelamatan-penyelamatan Pickford yang “menjaga permainan Inggris tetap hidup” ketika tim berada dalam situasi yang bisa membuat mereka tertinggal lebih jauh sebelum turun minum.

Dalam penilaian Robinson, Pickford tidak hanya menjaga gawang dengan cara bertahan di garisnya. Ia memilih untuk lebih sering maju, datang pada bola atas, dan turut membaca situasi bola dari sepak pojok maupun umpan silang. Keputusan untuk berdiri menghadapi serangan, sekaligus berani keluar dari zona kebiasaan, membuat pertahanan Inggris terasa lebih teratur saat berada di bawah gelombang serangan.

Robinson menambahkan bahwa perkembangan Pickford terlihat dari cara ia keluar dari garis untuk membuat keputusan besar. Ia menggambarkan bagaimana Pickford mengambil inisiatif—memukul bola, menangkap bola, dan membuat hidup lebih mudah bagi rekan-rekan di belakangnya—seraya tetap tenang pada setiap kombinasi pemain yang ada di depannya.

Di luar pertandingan, konsistensi Pickford juga dibahas dari sisi statistik. Untuk Everton dan Inggris, ia dinilai menjadi simbol kestabilan yang jarang goyah. Di dua musim terakhir Liga Primer, catatan clean sheet Pickford mencapai 23 kali, dan hanya kalah dari David Raya yang mencatat 32 clean sheet dalam periode yang sama.

Angka-angka itu, menurut Robinson, menunjukkan bahwa kritik yang kerap muncul tentang “apresiasi” terhadap Pickford patut dipertanyakan ulang. Ia menunjuk perbandingan dan konteks permainan: Inggris dan klub yang berbeda menghasilkan tuntutan berbeda pula, tetapi Pickford tetap menjaga performa yang menonjol.

Robinson juga merujuk data peran Pickford bersama tim nasional. Dalam 89 pertandingan bersama Inggris, ia kebobolan 59 gol dan mencatat 44 clean sheet. Robinson menegaskan, berdasarkan statistik Opta, hanya ada dua kesalahan yang berujung gol yang tercipta.

Jejak karier Pickford di level turnamen turut menjadi bagian dari penilaian tersebut. Ia memulai debut bersama Inggris saat menghadapi Jerman di Wembley pada November 2017. Di Piala Eropa, ia sudah tampil 14 kali, dan Inggris pernah menelan pil pahit di dua final terakhir pada kompetisi itu.

Robinson menilai Pickford sudah menjadi pilihan utama sejak Piala Dunia 2018, ketika Inggris berhenti di semifinal setelah kalah dari Kroasia di Moskow. Menurutnya, semua penantang di posisi itu “terlihat tidak mampu” menggusur tempat Pickford, sehingga ia terus menjadi nama pertama di daftar susunan pemain.

Ia juga mengingat bahwa saat pengumuman pelatih Thomas Tuchel, ada pandangan yang meragukan apakah Pickford akan menjadi pilihan utama. Namun, seperti yang terjadi di era pelatih sebelumnya Gareth Southgate, Pickford tetap mempertahankan statusnya sebagai penjaga gawang nomor satu tanpa kehilangan kepercayaan.

Robinson kemudian membahas suara opini yang biasa mengiringi posisi penjaga gawang Inggris di turnamen besar. Baginya, bentuk apresiasi paling nyata adalah ketiadaan “kegaduhan” semacam itu—tidak ada seruan bahwa gawang seharusnya diisi orang lain, dan situasi yang tenang itu sudah berlangsung lama.

Keyakinan terhadap Pickford, menurut Robinson, juga menular pada dinamika tim setelah kemenangan atas Meksiko. Ia menyebut kepercayaan Pickford sedang berada pada puncaknya, dan keputusan Tuchel ketika beralih ke formasi lima bek setelah menit ke-71 berjalan sesuai rencana, dengan Pickford menjadi bagian besar dari keberhasilan itu.

Dengan pertemuan berikutnya melawan Norwegia, Robinson berharap Inggris dapat membawa momentum itu. Ia menyoroti juga ancaman penyerang Norwegia, Erling Haaland, yang melanjutkan perjalanan timnya setelah mengalahkan Brasil 2-0 pada babak 16 besar. Dalam konteks tersebut, rekor dan kredibilitas Pickford menjadi semakin relevan—bukan sekadar angka, melainkan gaya permainan yang selama ini menjaga gawang Inggris tetap kompetitif di laga-laga paling sulit.