Olahraga

Piala Dunia 2026: Makin dekat babak “terakhir” Ronaldo menjelang duel Portugal vs Spanyol

×

Piala Dunia 2026: Makin dekat babak “terakhir” Ronaldo menjelang duel Portugal vs Spanyol

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Time to bench Cristiano Ronaldo as 'last dance' nears?

jurnalistik.co.id – Cristiano Ronaldo membuka pembicaraan dengan nada tegas di tengah rumor soal masa depannya, jelang pertandingan babak 16 besar Portugal melawan Spanyol pada Senin (6 Juli) pukul 20:00 BST di Dallas Stadium.

Kapten yang berusia 41 tahun itu kembali menegaskan Piala Dunia kali ini akan menjadi yang terakhir, sekaligus mengingatkan bahwa keputusan menghentikan karier berada di tangannya sendiri.

Ronaldo datang ke sesi konferensi pers dengan sorotan besar, karena performanya di turnamen sejauh ini memicu perdebatan. Ia mencetak tiga gol, tetapi juga dinilai belum memberi dampak yang konsisten di beberapa momen penting.

Ketika ditanya tentang masa depan dan kritik yang belakangan diarahkan kepadanya, Ronaldo menjawab, “I’m not doing too bad.” Ia lalu menanggapi serangan yang ia terima bertahun-tahun dengan pernyataan, “You have been trying to kill me for the past 23 years, but you must have seen that is not worth it, it’s a waste of time, but you try and try and try and try and try and try.”

Ia menegaskan soal kapan ia akan berhenti, “As I said before, [I will stop] when I choose, not when you choose. You always ask the same question.” Setelah itu, ia menutup dengan nada harapan untuk pertandingan berikutnya, “This will be my last World Cup, but let’s hope tomorrow isn’t my last game.”

Dengan waktu tinggal menuju usia 42 yang tinggal menghitung bulan, Ronaldo juga menjadi pusat perhatian sebagai pemimpin, inspirasi, dan figur kunci skuad yang membawa label juara Eropa 2016.

Ronaldo, “last dance” yang makin dekat

Rangkaian cerita seputar “tarian terakhir” Ronaldo sebenarnya sudah muncul sejak beberapa waktu terakhir. Menurut pemberitaan, kakak Ronaldo menyatakan bahwa turnamen ini adalah “last dance”.

Dalam pertandingan terakhir Portugal sebelum laga kontra Spanyol, dinamika itu seakan makin menguat. Ketika Ivan Perisic membawa Kroasia unggul pada menit ke-53, situasi tampak seperti pertanda akhir untuk statistik dan momen yang selama ini dibayangkan sebagai “penampilan terakhir”.

Namun, Portugal merespons lewat eksekusi penalti. Ronaldo menyamakan kedudukan dari titik penalti, dan itu menjadi gol pertamanya di fase gugur Piala Dunia.

Roberto Martinez kemudian mengambil keputusan dengan menarik Ronaldo keluar. Di lapangan, langkah itu membuat sang ikon terlihat tidak senang saat berjalan meninggalkan pertandingan, tetapi pada akhirnya dianggap sebagai keputusan yang cerdas.

Pengganti Portugal, Goncalo Ramos—yang disebut sebagai pengganti natural—membalas dengan menciptakan gol penentu. Portugal pun lolos dalam momen yang digambarkan sebagai akhir yang kacau dan penuh drama.

Dengan latar itulah, pertanyaan tentang apakah Ronaldo akan kembali menjadi starter melawan Spanyol langsung menguat. Ronaldo, setelah konferensi pers, juga disambut tepuk tangan saat keluar ruangan.

Dalam pernyataan lanjutan, Ronaldo menutup kemungkinan keraguan yang diarahkan kepadanya dengan kalimat, “I am not going to be more Cristiano Ronaldo or less because I win the World Cup.” Ia turut berkata, “I even say thanks for the attacks I feel after I turned 40… the criticism is how you grow, so thank you for doing this.”

Ia kemudian menekankan akhir cerita yang bersih, “Whatever happens tomorrow, Cristiano Ronaldo will leave with a clear conscience — not 100% but 1,000% because in life and football I gave everything.”

Peran Ronaldo vs data yang mengundang keraguan

Ronaldo memang menjadi pencetak gol internasional sepanjang masa untuk Portugal, dengan 146 gol. Keberadaannya turut mengubah cara pikir tim dan membentuk karakter permainan yang selama ini diasosiasikan dengan nama besarnya.

Namun, sejak ia masuk ke fase turnamen terakhir yang ia sebut berulang kali sebagai yang pamungkas, kritik datang dari berbagai arah. Ada yang menyebut ia memiliki status yang hampir tak terganggu, tetapi juga muncul pandangan bahwa ia perlu beralih ke peran yang lebih kecil.

Antonio Simoes, bagian dari skuat Portugal yang finis ketiga pada Piala Dunia 1966, menyampaikan kritiknya dengan kalimat, “He doesn’t play to win, he plays to be the main figure,” lalu mengaitkan dengan perbandingan terhadap Eusebio, “Do you understand that it’s the opposite of Eusebio? Let’s call things by their name. I have nothing against him.”

Simoes melanjutkan, “I can still see, I can still hear and I can still think. But I can’t run away from the reality of the facts.”

Di sisi lain, Roberto Martinez mempertahankan pilihannya untuk tetap memulai Ronaldo. Ketika ditanya soal keputusan untuk terus memberi tempat sebagai starter, Martinez menyebut, “His leadership and that work in the final third is still one of the best in the world,” sebagai alasan utama.

Martinez mengambil alih pada 2023 setelah sebelumnya meninggalkan peran pelatih kepala Belgia. Sejak memegang kendali, Ronaldo tercatat tampil di 36 dari 44 pertandingan Portugal, dengan banyak absennya berasal dari cedera atau skors.

Meski demikian, Portugal juga mencatat kemenangan besar tanpa Ronaldo. Dalam salah satu laga paling telak di siklus ini, Portugal menghajar Luxembourg 9-0 di Faro pada September 2023 tanpa kehadiran Ronaldo. Kemenangan besar lainnya datang saat Portugal menang 9-1 atas Armenia di Porto pada November tahun lalu, juga tanpa Ronaldo.

Setelah dua laga itu, diskusi tentang apakah Portugal bermain lebih baik tanpa kaptennya kembali muncul. Akan tetapi, di tribun dan komunitas penggemar, kultus terhadap Ronaldo tetap kuat—figur yang dinilai “membuat mereka bermimpi”.

Ronaldo sendiri terus menunjukkan jejak produktif di Piala Dunia. Ia menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di semua enam Piala Dunia yang telah ia jalani: penalti vs Iran pada 2006, gol vs Korea Utara di Cape Town pada 2010, satu-satunya gol vs Ghana di Brasilia pada 2014, hat-trick vs Spanyol di fase grup Sochi pada 2018, lalu gol penentu vs Maroko di Moskow lima hari setelahnya.

Di Qatar 2022, gol Ronaldo lagi-lagi datang dari penalti melawan Ghana. Sebelum mencetak gol dari titik putih saat menghadapi Kroasia pekan lalu, Ronaldo juga mencetak dua gol dalam kemenangan 5-0 atas Uzbekistan di Houston pada 23 Juni.

Meski begitu, data yang muncul di turnamen saat ini juga menimbulkan tanda tanya. Dalam enam Piala Dunia, Ronaldo belum mencetak gol dari 30 tembakan non-penalti saat laga gugur. Satu-satunya gol gugur untuknya datang dari penalti saat melawan Kroasia.

Di turnamen yang sedang berlangsung, ia tetap top skor Portugal dengan tiga gol, tetapi jumlah tekanannya lebih tinggi dibanding rekan satu tim. Ia sudah melakukan 15 tembakan, hampir dua kali lipat dibanding rekan-rekan setimnya, walau ia belum menciptakan satu peluang pun.

Statistik lain menunjukkan sentuhan Ronaldo juga menurun. Dalam tiga dari empat pertandingan Portugal, ia mencatat di bawah 25 sentuhan—dengan satu di antaranya berasal dari bangku cadangan. Rata-rata sentuhan per pertandingan terendahnya pun tercatat di Piala Dunia edisi ini sepanjang kariernya.

Di laga dramatis melawan Kroasia, satu-satunya sentuhan Ronaldo di area kotak lawan justru terkait penalti penentu. Dari sisi lari ke belakang pertahanan, ia rata-rata hanya 4,4 kali menembus ruang di belakang pertahanan per laga, jauh lebih rendah dibanding dua Piala Dunia sebelumnya ketika ia dipakai dalam posisi serupa sebagai penyerang tunggal.

Meski demikian, sebagian pendukung masih yakin Ronaldo layak dipertahankan sebagai starter. Angelo, seorang suporter, mengatakan kepada BBC Sport sebelum laga melawan Kroasia, “I feel he should dictate whether he wants to stay on or not,” dan menambahkan, “What he has done for Portugal as a nation, he should dictate that 100%.”

Demam Ronaldo di tribun dan jalanan

Di luar perdebatan taktik, “Ronaldo-mania” terlihat makin memuncak. Di Toronto, penggemar yang memakai jersey Portugal dengan nama Ronaldo di punggung dianggap lebih mudah ditemukan dibanding yang tidak.

Sebelum Portugal berjumpa Kroasia, antusiasme juga merembet ke jalan raya. Fans bahkan sempat membuat salah satu jalan utama di kota itu tersendat demi mencoba melihat Ronaldo.

Pengalaman serupa diceritakan oleh pengantar taksi. Saat membawa jurnalis dari bandara ke hotel, pengemudi menyebut dirinya bukan penggemar sepak bola, tetapi tetap tahu Ronaldo sedang berada di kota tersebut, karena televisi dan radio lokal ramai membahasnya.

Di antara pendukung, ada pula yang rela membeli tiket seharga “sebulan gaji” agar bisa menyaksikan salah satu pemain besar secara langsung di turnamen internasional. Suasana itu juga digambarkan sebagai kebanggaan bagi penggemar yang merasa Ronaldo “membantu memetakan Portugal” ke panggung dunia.

Joao, salah satu fans, menyampaikan, “On the world stage we didn’t really have anyone after Eusebio,” lalu menambahkan, “Ronaldo came in and made us dream.”

Lucilia menambahkan bahwa penggemar tidak mudah melupakan akar. Ia berkata, “People talk about Portugal because of him. He doesn’t forget where he’s from, he remembers the people. I love him. Ronaldo means more to Portugal than any politician.”

Sementara Diana mengaku siap menghadapi kabar pensiun internasional Ronaldo. Ia menyatakan, “Of course I’m going to be sad,” karena bagi banyak orang, perpisahan itu bukan urusan satu kubu saja. Diana menambahkan, “The whole world will be sad because it doesn’t matter who you support. Ronaldo has had a wonderful career and been an exemplary player.”

Ia lalu menutup harapan dengan ucapan, “I would say to him: ‘Well done, Cristiano. Enjoy your retirement. You deserve it after entertaining the world.'”

Kini, menjelang laga Portugal vs Spanyol di Dallas, pertanyaan besar tetap sama: apakah Martinez akan kembali mempercayakan tempat kepada Ronaldo, atau memilih strategi lain setelah babak gugur yang memunculkan kejutan melalui keputusan mengganti ikon tersebut.