Olahraga

Piala Dunia 2026: Thomas Tuchel Susun Lima Fase untuk Inggris Singkirkan Meksiko

×

Piala Dunia 2026: Thomas Tuchel Susun Lima Fase untuk Inggris Singkirkan Meksiko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: How England beat Mexico in five mini games

jurnalistik.co.id – Inggris memenangi laga dramatis melawan Meksiko di Azteca Stadium dan memastikan langkah ke fase berikutnya Piala Dunia 2026. Pertandingan terasa seperti serangkaian duel mini yang terus berubah, dipetakan Thomas Tuchel lewat lima fase taktis.

Atmosfer Mexico City ikut memengaruhi cara kedua tim mengatur ritme. Di tengah kerumunan yang padat, ketinggian, dan intensitas pemain Meksiko, Inggris dipaksa membaca setiap pergantian momentum dengan cara yang berbeda.

Di sela-sela dinamika itu, Tuchel menunjukkan lagi reputasinya sebagai pelatih yang matang dalam permainan gugur. Stafnya juga mengakui laga memang harus “dikelola” bertahap, bukan ditelan mentah-mentah oleh tempo tuan rumah.

Game 1 — Menahan Meksiko sejak awal

Anthony Barry, asisten Tuchel, menjelaskan pendekatan Inggris lewat strategi fase demi fase sampai jeda “water break” pertama. Ia mengatakan, “Kami menyiapkan pemain bahwa sampai jeda air pertama ini akan menjadi laga yang sulit. Kami harus bertahan dan menderita. Meksiko selalu memulai dengan cepat, dan kami tahu bahwa 0-0 akan menjadi hasil yang bagus pada jeda.”

Tuchel menekankan komitmen pada pressing, tetapi tidak dengan cara yang boros. Ia menyatakan, “Kami sepenuhnya berkomitmen pada pressing kami, tapi itu tidak ekonomis. Kami perlu cerdas dan memilih momen yang tepat.”

Inggris terlihat lebih terukur dibanding laga-laga sebelumnya. Ketika Meksiko mencoba membangun dari belakang, Inggris mengunci opsi lewat kehadiran Harry Kane, Jude Bellingham, dan satu pemain tambahan yang membuat pola transisi terasa lebih rapat dibanding saat mereka menghadapi DR Congo.

Meski pressing meningkat, Meksiko tetap menemukan cara meredam tekanan dengan gerakan turun “membidik ruang”. Seorang gelandang atau sayap bisa muncul dalam posisi bebas, dan Javier Aguirre mampu membawa timnya naik ke area lebih tinggi.

Detil yang kemudian berulang di banyak momen adalah peran Elliot Anderson. Pada fase seperti itu, Anderson bertahan lebih dalam, dekat dengan bek-bek tengah, alih-alih memencet setinggi biasanya. Tujuannya mencegah umpan keluar yang terlalu mudah bagi Meksiko.

Pola lain muncul saat Meksiko memegang bola lebih jauh di atas: Inggris memilih mid-block. Mereka bersedia menjaga ruang pada bagian awal pertandingan, bukan langsung mengejar bola kembali setiap saat. Bahkan, rata-rata waktu pemulihan bola Inggris di empat laga pertama Piala Dunia ini tercatat 12,1 detik, tetapi saat melawan Meksiko pada babak pertama mencapai 37 detik.

Game 2 — Smash and grab sebelum turun minum

Menjelang akhir babak pertama, Inggris mengunci momentum melalui serangan yang cepat dan efisien. Saat Meksiko melakukan rotasi, Gilberto Mora—berusia 17 tahun—akhirnya berada di sisi kiri serangan, padahal biasanya ia bertahan ke arah yang berlawanan.

Saat kiper Jordan Pickford menerima bola, Mora gagal menutup ruang menuju posisi aslinya. Dari situ, Pickford cepat mengalirkan bola ke Declan Rice, yang membawa bola dengan tenaga dan akselerasi untuk membuka ruang berikutnya.

Rice lalu menemukan Bukayo Saka. Saka kemudian mengirim umpan silang, dan Jude Bellingham datang terlambat namun tepat waktu untuk menyelesaikan dengan sundulan dan mengubah skor.

Setelah gol, situasi kickoff justru memperburuk Meksiko. Inggris menekan keras dari restart; Anderson yang sebelumnya tidak selalu mengikuti langkah pressing lebih awal, kali ini ikut bergerak maju untuk mengisi ruang di belakang mereka.

Hasilnya, Anderson merebut bola kembali dan membuka jalan bagi gol kedua Inggris melalui Bellingham. Tekanan setelah restart menjadi pemutus ritme Meksiko, sekaligus cara Inggris “memenangkan” fase kedua ini dengan cepat.

Game 3 — Dorong untuk mendominasi, namun ada risiko

Babak kedua dimulai dengan Inggris lebih berani: mereka menekan lebih tinggi. Anthony Gordon kerap melakukannya sejak sebelum jeda, lalu di babak kedua giliran Gordon dan Saka bergantian menjadi penyerang pressing ketiga.

Langkah berani ini membuat laga lebih terbuka dan bolak-balik. Setelah sebuah pergerakan yang berakhir tanpa hasil, Bellingham mengejar Raul Rangel hingga posisinya jauh dari garis nyaman.

Momen itu dinilai bukan termasuk yang paling “cerdas”, sesuai gaya Tuchel yang berusaha memilih momen tepat. Pada situasi tersebut, Inggris pada dasarnya bertahan seperti dengan 10 pemain karena Bellingham berada di depan bola.

Ketika Julian Quinones—sayap kiri Meksiko—masuk ke dalam lapangan, ia menarik Jarell Quansah keluar dari posisinya sebagai bek kanan. Saka masih berada di fase depan, bola kembali ke arah Inggris, dan situasi berujung pada tekel meluncur telat dari Quansah pada Jesus Gallardo.

Insiden itu akhirnya berbuah kartu merah untuk Quansah, memaksa Inggris beradaptasi dalam fase keempat dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.

Game 4 — Overload lebar Meksiko dan bola panjang ala Tuchel

Setelah menjadi 10 pemain, Inggris memainkan dua mini game lagi untuk meredam ancaman. John Stones masuk menggantikan Saka, sementara Ezri Konsa bergeser menjadi bek kanan.

Formasi Inggris berada pada pilihan 4-4-1 atau 4-3-1-1. Tuchel mengandalkan prinsip yang sering muncul di timnya: menarik tekanan lebih dalam sebelum mengirim bola panjang ke arah pelari.

Gordon menjadi outlet cepat di depan. Ia berhasil masuk ke area bola, membantu meredakan tekanan, dan pada prosesnya Inggris mendapatkan hadiah penalti.

Meksiko tetap berbahaya, terutama dari sisi kiri. Quinones tampil sebagai penggerak utama; ia menarik perhatian pemain Inggris, memberi ruang dan waktu bagi Gallardo untuk menciptakan peluang lewat umpan silang yang mengancam.

Meksiko juga membangun segitiga dari dua pemain di sisi kiri, sebuah pola yang terasa sejalan dengan cara mereka tampil sepanjang Piala Dunia ini. Segitiga itu membebaskan Quinones untuk menembak langsung, mengubah arah permainan, atau mengirim umpan silang melengkung ke dalam—termasuk skenario yang berujung pada penalti Inggris.

Game 5 — Parkir bus, pakai ritme, dan bersiap menghadapi crossing

Di fase penutup, Tuchel memanfaatkan jeda hidrasi sebagai keuntungan di babak kedua. Dan Burn serta Djed Spence masuk menggantikan Elliot Anderson dan Nico O’Reilly saat Inggris beralih ke formasi 5-3-1.

Di lini tengah, Bellingham, Rice, dan Gordon membentuk poros yang ditujukan untuk menutup jarak dengan cepat. Menjelang akhir, Stones dan Spence melakukan tekel-tekel terakhir yang menentukan untuk menghentikan serangan.

Burn—setinggi 6 kaki 7 inci—memberi kehadiran penting di sisi belakang untuk menghadapi bola-bola silang dari kiri. Saat Meksiko terus melancarkan crossing, Aguirre membuat perubahan dengan menarik Quinones dan memasukkan Guillermo Martinez (tinggi 6 kaki 3 inci).

Perubahan itu justru berjalan sesuai kebutuhan Inggris. Meksiko kehilangan variasi serangan yang sebelumnya sempat menantang Inggris di bagian awal pertandingan: setiap serangan dipaksa melebar, diakhiri umpan silang harapan yang lalu dibersihkan, seperti latihan pertahanan berbasis situasi bola mati.

Pada akhirnya, keberhasilan di turnamen menuntut kemampuan menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Ketika Inggris harus turun menjadi 10 pemain melawan Meksiko di laga ini, keputusan skuad yang disusun secara teliti terbukti bernilai—dan lima mini game taktis Tuchel berujung pada kemenangan yang membawa Inggris melewati fase penting Piala Dunia 2026.