jurnalistik.co.id – Di Desa Plangkrongan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, teknik sambung pucuk yang dikenal sebagai top working mulai dipraktikkan untuk mengubah kualitas durian dari dalam kebun itu sendiri. Upaya tersebut didorong agar durian yang dihasilkan warga bisa lebih bermutu, sekaligus menjadi bagian dari cita-cita desa agropolitan.
Sore itu, suara gergaji mesin terdengar di kebun durian milik Jainudin. Namun, ia tidak sedang menebang pohon—ia justru memotong batang durian untuk kemudian menyambungkannya dengan pucuk dari pohon durian lain yang dinilai lebih unggul.
Teknik yang dikembangkan Jainudin dilakukan dengan cara memotong bagian pohon indukan sekitar satu meter, lalu menyambungnya menggunakan sepotong pucuk dari durian berbuah bagus. Setelah sambungan dibuat, bagian tersebut dibungkus plastik bening agar tetap lembap sampai tunas baru tumbuh.
“Teknik yang kami kembangkan adalah sambung pucuk. Pohon indukan dipotong sekitar satu meter, kemudian disambung dengan pucuk dari pohon durian yang kualitas buahnya bagus,” ujarnya saat ditemui di kebun miliknya pada Sabtu (11/7/2026).
Jainudin mengaku sudah lebih dari 15 tahun mempelajari karakter beragam jenis durian. Di Plangkrongan, ia melihat persoalan yang berulang: banyak pohon sudah ditanam puluhan tahun bahkan ada yang berusia ratusan tahun, tetapi masyarakat saat dulu belum memahami pentingnya memilih bibit unggul.
Akibatnya, setelah menunggu cukup lama, hasil yang keluar tidak sesuai harapan. “Akibatnya, setelah menunggu lima hingga tujuh tahun, bahkan lebih, buah yang dihasilkan justru kurang manis, dagingnya tipis, atau aromanya tidak menarik,” imbuhnya.
Meskipun mutu buah dinilai tidak baik, Jainudin mencatat tidak semua warga berani melakukan perubahan dengan menebang pohon. Baginya, akar masalahnya juga berhubungan dengan rasa sayang karena pohon-pohon tersebut sudah dipelihara sejak lama.
Berita Terkait
“Biasanya warga sayang karena sudah menanam lima sampai tujuh tahun. Meski buahnya tidak enak tetap dipelihara,” kata Jainudin. Ia kemudian memilih memperkenalkan top working agar perbaikan kualitas bisa dilakukan tanpa harus menghilangkan pohon yang sudah ada.
Contoh yang ia tunjukkan berasal dari pohon durian yang usianya sekitar 7 tahun. Sebelumnya, buah dari pohon itu tidak enak, tetapi setelah proses top working dilakukan—dengan memotong bagian atas lalu menyambung menggunakan durian jenis montong pada bagian atas—perubahan mulai terlihat dalam kurun sekitar 3 tahun.
Dengan cara itu, menurut Jainudin, pohon yang sebelumnya menghasilkan durian biasa dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga peluang menjadi durian premium semakin terbuka. “Dengan cara itu, pohon yang semula menghasilkan buah biasa dapat berubah menjadi pohon yang menghasilkan durian premium. Bahkan jika diinginkan, pohon lama dapat diubah menjadi varietas Montong ataupun Musang King selama tersedia pohon indukan sebagai sumber entres ,” jelas Jainudin.
Langkah perbaikan tersebut sejalan dengan harapan yang juga dibawa dalam mimpi pemerintah desa. Ada durian Saman yang telah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian. Dalam penelitian yang disebutkan, durian lokal asal Desa Plangkrongan itu memiliki sejumlah karakter unggul yang membuatnya layak bersaing dengan varietas durian populer lainnya.
Durian Saman disebut memiliki cita rasa manis, daging buah yang tebal, serta sekitar 50 persen bijinya kempes. Selain itu, kadar gula dan vitamin C yang tinggi disebut menjadi salah satu keunggulannya, sementara tekstur dagingnya dinilai kesat sehingga tidak lembek (mblenyek).
Upaya menyambung pucuk di Plangkrongan, dengan demikian, tidak hanya diposisikan sebagai teknik budidaya untuk mengubah satu pohon tertentu, melainkan juga sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas durian dalam skala komunitas. Ketika kualitas buah bisa ditingkatkan, warga berharap hasil kebun semakin bernilai, dan desa dapat bergerak menuju model agropolitan yang lebih kuat.
Jainudin dan warga yang mengikuti pendekatan itu juga menempatkan top working sebagai opsi yang realistis untuk memperbaiki pohon lama. Selama masih tersedia pohon indukan sebagai sumber entres, transformasi varietas pada pohon yang sudah terlanjur berumur dapat diarahkan ke jenis yang diinginkan, termasuk Montong ataupun Musang King—dengan tujuan akhir yang sama: durian bermutu yang mampu mengangkat ekonomi dari kebun desa.









