jurnalistik.co.id – Momentum panen raya durian di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kini kian ramai bukan hanya karena melimpahnya buah, tetapi juga karena daya tariknya sebagai destinasi wisata tahunan di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Di musim liburan anak sekolah, arus kunjungan biasanya meningkat. Wisatawan datang untuk menikmati durian langsung dari areal perkebunan warga, sekaligus menjadikannya acara pertemuan keluarga.
Mereka menyeberang laut menggunakan speed boat maupun perahu ketinting. Di lokasi, banyak petani yang menyambut pengunjung untuk mencicipi durian hingga merasa kenyang secara gratis di tempat.
Namun, pola yang berbeda berlaku bila buah hendak dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Pelancong harus membayar sesuai timbangan, mengikuti ketentuan setempat.
Perburuan durian bernilai ekspor
Hampir setiap tahun, pasokan durian di Pulau Sebatik dikenal melimpah. Kondisi itu membuat sejumlah pengepul turut bergerak mencari bahan baku, terutama untuk varian durian mentega dan durian susu yang banyak diminati.
Para pengepul memburu buah yang sudah siap jual, kemudian membelinya secara langsung. Seorang petani durian di Desa Bukit Harapan, Resa, menyebut perbedaan harga yang membuat perdagangan di perbatasan terasa menggiurkan.
“Sekarang durian Sebatik dibeli dua ringgit sekilo, tapi sampai Malaysia dijual sepuluh ringgit,” tutur Resa pada Selasa (7/7/2026).
Dalam praktiknya, pengepul umumnya datang menggunakan mobil pikap maupun truk. Mereka akan memborong dan membayar tunai berapapun jumlah durian yang tersedia, sebelum kemudian mengirimkannya ke Malaysia.
Pendistribusian dilakukan dengan menyeberangkan durian menggunakan speed boat maupun kapal kayu. Jalurnya memanfaatkan rute perdagangan tradisional yang masih berlaku di wilayah perbatasan kedua negara.
Resa juga menjelaskan bahwa harga jual di Malaysia yang jauh lebih tinggi dipengaruhi biaya pengiriman. Menurutnya, faktor biaya kapal, bahan bakar (bbm), dan ongkos kirim ikut mendorong nilai jual di sisi lain perbatasan.
“Harga jual di Malaysia jauh lebih mahal karena biaya kapal, bbm dan ongkos kirim. Itu kenapa disini murah, disana (Malaysia) mahal,” jelas Resa.
Berita Terkait
- Pemangkasan Dana Desa Dorong Patungan Rp10 Juta Perbaiki Tebing Jalan Produksi 50 Meter
- BPBD Bogor Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Desa Karang Tengah, Babakan Madang yang Terpaksa Cari Air hingga Gunung Pancar
- Tim RS Fatmawati Ditunjuk Kemenkes untuk Perkuat Tata Kelola RSUD Dr. M. Haulussy di Ambon
Rezeki panen yang dibagi
Di tengah peluang ekonomi yang besar, Resa mengaku menjalankan kebun dengan skala tidak terlalu luas. Saat ini, ia hanya mengelola puluhan pohon durian produktif, tetapi hasil penjualannya sudah cukup untuk kebutuhan logistik harian keluarganya.
Ia tetap bersyukur dan memilih untuk berbagi dengan sanak keluarga yang tinggal di luar Pulau Sebatik. Bagian durian dalam jumlah puluhan kilogram sengaja digratiskan dengan niat mempererat silaturahmi.
“Jangan juga semua dijual, dijadikan uang. Ada juga sebagian untuk kita dan keluarga kita nikmati. Kalau bisa menjaga hubungan dengan keluarga, tidak kurang juga kita dibagi rejeki sama Tuhan,” kata dia.
Siklus musim durian di Pulau Sebatik biasanya berlangsung semarak hingga dua bulan lamanya. Pada periode itu, aktivitas ekonomi lokal bergerak lebih cepat, sementara tradisi berkumpul dengan keluarga turut menjadi bagian dari pengalaman kunjungan wisata.
Harga berbeda saat bergeser wilayah
Meski durian tersedia melimpah, perbedaan harga bisa terasa ketika komoditas berpindah lokasi. Jika di dalam Pulau Sebatik durian masih dapat dinikmati konsumen dengan harga miring Rp 20.000 per kilogram, maka ketika bergeser ke wilayah Nunukan Kota harganya meningkat.
Di Nunukan Kota, durian dijual berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Kenaikan ini menggambarkan bagaimana biaya distribusi dan perpindahan wilayah turut memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Dilema bertanam: durian atau sawit
Di balik peluang pendapatan dari panen, petani durian juga menghadapi dilema agraria yang cukup pelik. Mereka harus mempertimbangkan pola tanam yang selama ini berjalan, termasuk ketika durian berada di lahan yang sama dengan kelapa sawit.
Resa menyampaikan kendala bahwa keduanya membutuhkan pengelolaan air yang besar. “Kendalanya kita ini menanam pohon durian bersamaan dengan kelapa sawit. Dua duanya butuh air banyak dan harus mengalah salah satu. Kebanyakan masyarakat, menebang duriannya karena kalah dengan sawit,” katanya.
Perkataan itu memperlihatkan bahwa pilihan di tingkat kebun tidak selalu mudah, terutama ketika tekanan terhadap ketersediaan air membuat durian sulit bersaing. Pada akhirnya, musim panen dapat menghadirkan manfaat ekonomi, tetapi keberlanjutan usaha petani tetap bergantung pada keputusan-keputusan jangka panjang di lahan.












